home masjid

Islam Memilih Pembinaan daripada Perang: Pelajaran dari Sejarah Para Nabi

Senin, 15 September 2025 - 05:15 WIB
Kemenangan sejati lahir dari pembinaan iman, kesabaran, dan ujian, bukan dari ambisi cepat meraih kuasa. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Dalam sejarah Islam, perang tidak pernah diposisikan sebagai tujuan utama. Ia sekadar jalan darurat ketika agama dan umat terancam. Lebih dari itu, misi utama Islam adalah pembinaan: mengubah manusia dari dalam, membentuk pribadi yang matang secara spiritual, moral, dan sosial.

Syaikh Yusuf al-Qardhawi, dalam Fiqh Prioritas (Robbani Press, 1996), menekankan bahwa peperangan dalam Islam bukan sembarang perang. Rasulullah pernah ditanya: bagaimana dengan orang yang berperang karena fanatik kesukuan, ingin disebut pemberani, atau mengejar rampasan? Nabi menjawab tegas: “Barangsiapa berperang untuk menegakkan kalimat Allah, maka dialah yang berada di jalan Allah” (HR Ahmad, Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah).

Baca juga: Benyamin Netanyahu Telah Mengibarkan Bendera Perang Total, Negara Arab Harus Bersatu

Perang Bukan Tujuan

Peperangan yang lahir dari nafsu atau ambisi duniawi ditolak. Justru, kata al-Qardhawi, sikap melepaskan diri dari dorongan itu hanya bisa dicapai lewat pembinaan panjang. Pembinaan yang mengajarkan seorang Muslim beribadah dan berjuang semata-mata untuk Allah, bukan demi nama atau harta.

Ayat-ayat Al-Qur’an pun menegaskan, kemenangan tidak diberikan begitu saja. Allah menjanjikan pertolongan hanya bagi orang beriman yang menunaikan kewajiban: mendirikan salat, menunaikan zakat, menyeru kebaikan, dan mencegah kemungkaran (QS al-Hajj: 40–41). Begitu pula QS an-Nur: 55 yang menjanjikan kekuasaan di bumi hanya bagi mereka yang beriman dan beramal saleh.

“Orang-orang yang diberi kedudukan sebelum pembinaan matang seringkali justru membuat kerusakan di muka bumi,” tulis al-Qardhawi.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya