LANGIT7.ID- Dalam sejarah Islam, perang tidak pernah diposisikan sebagai tujuan utama. Ia sekadar jalan darurat ketika agama dan umat terancam. Lebih dari itu, misi utama Islam adalah pembinaan: mengubah manusia dari dalam, membentuk pribadi yang matang secara spiritual, moral, dan sosial.
Syaikh Yusuf al-Qardhawi, dalam Fiqh Prioritas (Robbani Press, 1996), menekankan bahwa peperangan dalam Islam bukan sembarang perang. Rasulullah pernah ditanya: bagaimana dengan orang yang berperang karena fanatik kesukuan, ingin disebut pemberani, atau mengejar rampasan? Nabi menjawab tegas: “Barangsiapa berperang untuk menegakkan kalimat Allah, maka dialah yang berada di jalan Allah” (HR Ahmad, Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah).
Baca juga: Benyamin Netanyahu Telah Mengibarkan Bendera Perang Total, Negara Arab Harus Bersatu Perang Bukan TujuanPeperangan yang lahir dari nafsu atau ambisi duniawi ditolak. Justru, kata al-Qardhawi, sikap melepaskan diri dari dorongan itu hanya bisa dicapai lewat pembinaan panjang. Pembinaan yang mengajarkan seorang Muslim beribadah dan berjuang semata-mata untuk Allah, bukan demi nama atau harta.
Ayat-ayat Al-Qur’an pun menegaskan, kemenangan tidak diberikan begitu saja. Allah menjanjikan pertolongan hanya bagi orang beriman yang menunaikan kewajiban: mendirikan salat, menunaikan zakat, menyeru kebaikan, dan mencegah kemungkaran (QS al-Hajj: 40–41). Begitu pula QS an-Nur: 55 yang menjanjikan kekuasaan di bumi hanya bagi mereka yang beriman dan beramal saleh.
“Orang-orang yang diberi kedudukan sebelum pembinaan matang seringkali justru membuat kerusakan di muka bumi,” tulis al-Qardhawi.
Sejarah para nabi menegaskan, kedudukan selalu datang setelah ujian. Yusuf baru memperoleh kuasa di Mesir setelah melewati godaan, fitnah, dan penjara (QS Yusuf: 56). Imam Syafi’i pernah ditanya: mana lebih utama, ujian atau kedudukan? Ia menjawab: “Apakah ada kedudukan sebelum ujian?”
Ujian, bagi al-Qardhawi, adalah pendidikan praktis. Melalui kesabaran, penderitaan, dan perjuangan, hati manusia dibersihkan. Dari situ bisa dibedakan siapa yang tulus dan siapa yang rapuh.
Mengapa pembinaan lebih diprioritaskan daripada perang? Karena perang tanpa fondasi iman hanya akan melahirkan kekuasaan semu—mudah hilang dan mudah disalahgunakan. Sedangkan pembinaan melahirkan pribadi dan masyarakat yang siap memikul amanah ketika kemenangan datang.
“Sesungguhnya kedudukan yang diperoleh dengan mudah dikhawatirkan akan mudah dihilangkan,” tulis al-Qardhawi. Sebaliknya, kedudukan yang diraih lewat perjuangan akan dijaga dengan penuh kesungguhan.
Baca juga: Donald Trump Resmi Ubah Nama Departemen Pertahanan AS Menjadi Departemen Perang Relevansi KiniDi tengah dunia Muslim kontemporer, pesan ini terasa aktual. Banyak bangsa Muslim tergoda menempuh jalan cepat: revolusi instan, kekuasaan politik tanpa landasan moral. Padahal, sejarah mengingatkan: kemenangan sejati lahir dari kesabaran dalam membina manusia, bukan dari dentuman senjata.
Seperti ditulis al-Qardhawi, prioritas Islam adalah tathbiq (pembinaan), bukan tafriq (peperangan). Dari situ lahir masyarakat yang matang, siap menegakkan kalimat Allah di bumi, dengan damai maupun dengan ujian yang berat.
(mif)