Ali bin Abi Thalib: Singa Allah yang Menaklukkan Nafsu
Miftah yusufpati
Senin, 15 September 2025 - 16:30 WIB
Di medan perang, Ali memilih menahan diri ketimbang menebas musuh. Baginya, jihad terbesar bukanlah mengalahkan lawan dengan pedang, melainkan menundukkan ego dengan kebijaksanaan. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Di tengah debu pertempuran, seorang prajurit lawan tergeletak tak berdaya. Pedangnya patah. Di atas dadanya berdiri seorang lelaki berwajah tegas, pedang terhunus di tangan: ‘Ali bin Abi Thalib. Logika perang saat itu sederhana: musuh harus dibinasakan. Tapi, Ali memilih jalan lain.
“Jika pedangmu masih ada, aku lanjutkan pertempuran ini. Tapi karena patah, aku tidak boleh menyerangmu,” kata Ali, sebagaimana diriwayatkan M.R. Bawa Muhaiyaddeen dalam Tasawuf Mendamaikan Dunia (Pustaka Hidayah).
Lawannya membalas dengan teriakan penuh dendam: jika punya senjata, ia akan memutus tangan dan kaki Ali. Ali justru menyerahkan pedangnya. Si prajurit terperangah. Apa logika dari seorang panglima perang yang memberi senjata kepada musuhnya? Ali menatap matanya, lalu berkata lirih: “Kamu bersumpah akan membunuhku jika punya pedang. Sekarang pedangku di tanganmu. Majulah. Seranglah aku.”
Tapi sang musuh justru tak sanggup mengayunkan senjata. Kata-kata Ali memukul kesadarannya. “Dalam agama Allah, tidak ada permusuhan antara kamu dan aku,” jelas Ali. “Perang yang sebenarnya adalah antara kebenaran dan kebohongan.” Sejurus kemudian, prajurit itu rebah, bukan karena tebasan pedang, tapi karena benturan nurani. Ia memohon diajarkan syahadat.
Baca juga: Riwayat Sahih: Ali Bin Abi Thalib Baiat Abu Bakar Usai Wafatnya Fatimah
Dari Medan Perang ke Madrasah
Kisah serupa terjadi di pertempuran berikutnya. Lawan yang jatuh di bawah pedang Ali meludahi wajahnya. Sekejap amarah menguasai, tapi Ali segera menahan diri. Ia angkat kakinya dari dada sang musuh dan menyarungkan pedangnya.
“Jika pedangmu masih ada, aku lanjutkan pertempuran ini. Tapi karena patah, aku tidak boleh menyerangmu,” kata Ali, sebagaimana diriwayatkan M.R. Bawa Muhaiyaddeen dalam Tasawuf Mendamaikan Dunia (Pustaka Hidayah).
Lawannya membalas dengan teriakan penuh dendam: jika punya senjata, ia akan memutus tangan dan kaki Ali. Ali justru menyerahkan pedangnya. Si prajurit terperangah. Apa logika dari seorang panglima perang yang memberi senjata kepada musuhnya? Ali menatap matanya, lalu berkata lirih: “Kamu bersumpah akan membunuhku jika punya pedang. Sekarang pedangku di tanganmu. Majulah. Seranglah aku.”
Tapi sang musuh justru tak sanggup mengayunkan senjata. Kata-kata Ali memukul kesadarannya. “Dalam agama Allah, tidak ada permusuhan antara kamu dan aku,” jelas Ali. “Perang yang sebenarnya adalah antara kebenaran dan kebohongan.” Sejurus kemudian, prajurit itu rebah, bukan karena tebasan pedang, tapi karena benturan nurani. Ia memohon diajarkan syahadat.
Baca juga: Riwayat Sahih: Ali Bin Abi Thalib Baiat Abu Bakar Usai Wafatnya Fatimah
Dari Medan Perang ke Madrasah
Kisah serupa terjadi di pertempuran berikutnya. Lawan yang jatuh di bawah pedang Ali meludahi wajahnya. Sekejap amarah menguasai, tapi Ali segera menahan diri. Ia angkat kakinya dari dada sang musuh dan menyarungkan pedangnya.