LANGIT7.ID- Di tengah riuh tuduhan perpecahan dan konflik di antara para sahabat Nabi, satu momen dalam sejarah Islam justru menjadi penanda akhlak tinggi dan kematangan jiwa mereka: ketika
Ali bin Abi Thalib membaiat
Abu Bakar ash-Shiddiq setelah enam bulan wafatnya Rasulullah Muhammad ﷺ.
Narasi kelompok
Syiah ekstrem kerap memotret hubungan antara Abu Bakar dan
Ahlul Bait sebagai penuh kebencian dan saling curiga. Namun, riwayat sahih dalam Shahih Bukhari (no. 3998) dan Shahih Muslim (no. 1759) justru menampik dugaan tersebut.
Diriwayatkan dari Aisyah,
Fatimah az-Zahra—putri Nabi sekaligus istri Ali—pernah meminta hak warisan dari harta fa’i di
Madinah, Fadak, dan Khaybar. Namun Abu Bakar menolaknya berdasarkan sabda Rasulullah, “Kami para nabi tidak mewariskan, apa yang kami tinggalkan adalah sedekah.”
Penolakan itu melukai perasaan Fatimah. Ia tak berbicara kepada Abu Bakar hingga akhir hayatnya. Namun, peristiwa itu bukanlah permusuhan yang mengarah pada kebencian sebagaimana digambarkan kelompok Rafidhah. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan dalam Fathul Bari (7/494), “Ali menahan diri dari membaiat Abu Bakar bukan karena membangkang, melainkan karena menghibur Fatimah yang sedang berduka.”
Baca juga: Menantang Kekuasaan: Ketika Ali bin Abi Thalib Menolak Kebijakan Utsman bin Affan Ali, sebagai suami dan pelindung Fatimah, memilih untuk mendahulukan perasaan istrinya. Ia juga menyimpan pendapat bahwa perihal khilafah seharusnya dimusyawarahkan bersama keluarga Rasulullah. Namun setelah wafatnya Fatimah, Ali mengundang Abu Bakar untuk mendatanginya secara pribadi. Permintaan agar Umar bin Khattab tidak ikut serta menunjukkan kehati-hatian Ali dalam menjaga suasana hati dan tensi politik saat itu.
Dalam pertemuan tersebut, seperti tercatat dalam hadits, Ali mengakui keutamaan Abu Bakar dan menjelaskan keberatannya: “Kami dahulu berpendapat karena kami kerabat Rasulullah ﷺ, maka kami akan mendapatkan bagian.” Abu Bakar pun menangis dan menegaskan: “Kerabat Rasulullah ﷺ lebih aku cintai daripada keluargaku sendiri.” Akhirnya, Ali menyatakan baiat kepada Abu Bakar dan umat Islam pun bersuka cita.
Momen tersebut bukan hanya peristiwa administratif dalam sejarah kekhalifahan. Ia adalah cermin dari kedewasaan sahabat Nabi dalam menyelesaikan perbedaan. Bukan dengan saling tuduh, melainkan dengan dialog, pengakuan, dan penghormatan.
Hubungan yang Tak TerputusLebih jauh, bukti kuat lainnya bahwa hubungan para sahabat dan keluarga Nabi jauh dari konflik permanen adalah fakta-fakta sejarah yang mengungkap hubungan kekeluargaan di antara mereka.
Baca juga: Kisah Ali bin Abi Thalib Menolak Membaiat Abu Bakar sebagai Khalifah Dalam Tarikh Dimasyq, Imam Ibnu Asakir mencatat bahwa Umar bin Khattab menikahi putri Ali dan Fatimah, yaitu Ummu Kultsum. Pernikahan itu membuahkan keturunan, memperlihatkan bahwa hubungan antara Umar dan keluarga Ali sangat erat.
Bahkan, nama anak-anak Husain bin Ali memperkuat kenyataan itu. Salah satu putranya bernama Umar, dan satu lagi bernama Abu Bakar. Fakta ini jelas menampik klaim kelompok Syi’ah garis keras bahwa keluarga Ali membenci Abu Bakar dan Umar.
“Tidak ada perbedaan aqidah di antara para sahabat, bahkan dalam metode menyimpulkan dalil,” tulis Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin dalam Kitaabul ‘Ilmi. Mereka adalah generasi terbaik yang disebutkan oleh Rasulullah ﷺ sebagai generasi paling utama.
Dalam Umdatul Qari (17/258), Badruddin al-‘Aini menyatakan bahwa berpalingnya Fatimah dari Abu Bakar bukanlah hijrah dalam arti syar’i yang diharamkan. “Ia hanya menahan diri untuk tidak bertemu, sebagai bentuk ekspresi kesedihan, bukan kebencian,” ujarnya.
Demikian pula pendapat Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (12/77-78), yang menegaskan bahwa tidak hadirnya Ali dalam baiat awal bukan bentuk pembangkangan. Baiat tidak harus dilakukan oleh semua sahabat secara langsung, cukup dari ahlul halli wal ‘aqdi—kelompok elite umat yang dipercaya mengurus kepemimpinan.
Baca juga: Ali bin Abi Thalib di Mata Dhirar bin Dhamrah: Membuat Muawiyah Menangis Menyingkap Kabut FitnahKelompok Rafidhah menjadikan keterlambatan baiat Ali sebagai dalih untuk menuduh para sahabat berselisih besar. Namun ketika seluruh riwayat ditelusuri, tampak bahwa semua itu diselesaikan secara jernih. Ibnu Hajar mengutip Al-Qurthubi: “Siapa yang jernih akalnya akan melihat bahwa antara Abu Bakar dan Ali tidak ada permusuhan, hanya perbedaan pandangan yang manusiawi.”
Kenyataan bahwa Ali akhirnya membaiat Abu Bakar, dan bahwa seluruh umat merasa bahagia dengan peristiwa tersebut, merupakan jawaban bagi setiap tuduhan perpecahan. Bahkan, dalam khutbahnya setelah baiat, Ali menegaskan bahwa ia tidak menolak keutamaan Abu Bakar, dan tidak merasa bersaing.
Riwayat tentang Abu Bakar, Fatimah, dan Ali adalah pelajaran penting dalam menyikapi perbedaan. Ia mengajarkan bahwa kedekatan kepada kebenaran bukan berarti bebas dari perasaan manusiawi. Namun yang terpenting, para sahabat memiliki keutamaan dalam menundukkan ego mereka di bawah keagungan prinsip dan
ukhuwah Islamiyah.
Baca juga: Kisah Ali bin Abi Thalib Diasuh Rasulullah SAW saat Makkah Dilanda PaceklikSebagaimana dinyatakan oleh Imam Ibnu Hajar, “Mereka mengakui keutamaan satu sama lain, hati mereka bersepakat untuk saling menghormati dan mencintai, meskipun terkadang naluri manusiawi muncul, namun dengan derajat keimanan, mereka mampu mengatasinya.” (Fathul Bari, 7/495).
Inilah akhlak para sahabat yang tak lekang oleh waktu. Yang tersisa kini adalah bagaimana kita sebagai generasi setelahnya menyikapi warisan mereka—bukan dengan memelihara kebencian yang tak pernah ada, tetapi dengan menjunjung tinggi persatuan yang telah mereka wariskan.
(mif)