LANGIT7.ID- Di tengah debu pertempuran, seorang prajurit lawan tergeletak tak berdaya. Pedangnya patah. Di atas dadanya berdiri seorang lelaki berwajah tegas, pedang terhunus di tangan: ‘Ali bin Abi Thalib. Logika perang saat itu sederhana: musuh harus dibinasakan. Tapi, Ali memilih jalan lain.
“Jika pedangmu masih ada, aku lanjutkan pertempuran ini. Tapi karena patah, aku tidak boleh menyerangmu,” kata Ali, sebagaimana diriwayatkan M.R. Bawa Muhaiyaddeen dalam Tasawuf Mendamaikan Dunia (Pustaka Hidayah).
Lawannya membalas dengan teriakan penuh dendam: jika punya senjata, ia akan memutus tangan dan kaki Ali. Ali justru menyerahkan pedangnya. Si prajurit terperangah. Apa logika dari seorang panglima perang yang memberi senjata kepada musuhnya? Ali menatap matanya, lalu berkata lirih: “Kamu bersumpah akan membunuhku jika punya pedang. Sekarang pedangku di tanganmu. Majulah. Seranglah aku.”
Tapi sang musuh justru tak sanggup mengayunkan senjata. Kata-kata Ali memukul kesadarannya. “Dalam agama Allah, tidak ada permusuhan antara kamu dan aku,” jelas Ali. “Perang yang sebenarnya adalah antara kebenaran dan kebohongan.” Sejurus kemudian, prajurit itu rebah, bukan karena tebasan pedang, tapi karena benturan nurani. Ia memohon diajarkan syahadat.
Baca juga: Riwayat Sahih: Ali Bin Abi Thalib Baiat Abu Bakar Usai Wafatnya Fatimah Dari Medan Perang ke MadrasahKisah serupa terjadi di pertempuran berikutnya. Lawan yang jatuh di bawah pedang Ali meludahi wajahnya. Sekejap amarah menguasai, tapi Ali segera menahan diri. Ia angkat kakinya dari dada sang musuh dan menyarungkan pedangnya.
“Aku bukan musuhmu,” katanya. “Musuh yang sebenarnya adalah sifat buruk dalam diri kita.” Ali sadar, jika ia menebas dalam keadaan marah, tindakannya tak lagi murni demi Allah, melainkan karena ego. Itulah yang ditolaknya. Musuh kembali tak kuasa. Air mata menggantikan amarah. Dua kalimat syahadat kembali diucapkan.
Bagi pengikut sufi, tindakan Ali mencerminkan inti tasawuf: jihad melawan nafsu lebih besar daripada jihad di medan perang. Jalaluddin Rumi menyebut Ali sebagai “singa Allah” yang sejatinya menaklukkan dirinya sendiri lebih dulu (Mathnawi, buku 1).
Dalam perspektif psikologi moral modern, tindakan Ali dapat dibaca sebagai sublimasi agresi menjadi energi spiritual. Lawrence Kohlberg, dalam Essays on Moral Development (1981), menyebut inilah tahapan etika tertinggi: keputusan berdasarkan prinsip universal, bukan sekadar norma sosial atau keuntungan pribadi.
Baca juga: Menantang Kekuasaan: Ketika Ali bin Abi Thalib Menolak Kebijakan Utsman bin Affan Kisah ini sering dijadikan rujukan dalam literatur perdamaian Islam. Karen Armstrong dalam Fields of Blood: Religion and the History of Violence (2014) menulis, tokoh-tokoh awal Islam justru memberi contoh bagaimana kekerasan bisa dilampaui lewat kebijaksanaan moral. Ali, dengan sikapnya, menjadikan peperangan bukan sekadar perebutan wilayah, melainkan arena pendidikan jiwa.
Bagi umat Islam hari ini, cerita Ali bisa dibaca sebagai kritik terhadap politik kekuasaan yang mudah menghalalkan segala cara. Bahwa jihad terbesar justru adalah menahan diri ketika nafsu ingin berkuasa meluap.
Di medan perang itu, Ali menunjukkan: pedang bisa saja menghentikan hidup seseorang, tapi kebijaksanaan bisa menghidupkan iman.
(mif)