Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 26 Mei 2026
home masjid detail berita

Tinjauan Fikih: Mengapa Ucapan Taqabbalallahu Minna Wa Minka Menjadi Tradisi Utama Para Sahabat?

miftah yusufpati Senin, 16 Maret 2026 - 03:00 WIB
Tinjauan Fikih: Mengapa Ucapan Taqabbalallahu Minna Wa Minka Menjadi Tradisi Utama Para Sahabat?
Ucapan selamat hari raya adalah jembatan yang menghubungkan kesalehan pribadi dengan kedamaian sosial. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Di tengah keriuhan Idul Fitri, saat aroma hidangan lebaran menyeruak dan pakaian terbaik dikenakan, ada satu ritual lisan yang tak pernah absen: saling bertukar ucapan selamat. Di Indonesia, frasa mohon maaf lahir dan batin telah menjadi standar umum, namun jika kita menelusuri lorong waktu menuju masa awal Islam, kita akan menemukan sebuah prototipe ucapan yang lebih bersifat teologis daripada sekadar sosiologis. Ucapan selamat hari raya bukan hanya soal perayaan kemenangan, melainkan sebuah diplomasi langit yang berisi permohonan agar segala peluh selama Ramadhan tidak berakhir sia-sia.

Dalam risalah bertajuk Idul Fithri Ahkamuhu wa Adabuhu yang disusun oleh Dr. Ashim bin Abdullah Al Qaryuti, disebutkan bahwa pemberian ucapan selamat hari raya memiliki akar sejarah yang kuat pada tradisi para sahabat Nabi Radhiyallahu anhum. Menariknya, sebagaimana dicatat oleh Dr. Ashim dalam materi yang diterbitkan oleh IslamHouse, hingga saat ini belum ditemukan riwayat yang valid dan berasal langsung dari lisan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengenai redaksi khusus ucapan selamat hari raya dalam hadits shahih. Namun, absennya riwayat langsung dari Nabi tidak mengurangi legalitas praktik ini dalam bingkai syariat.

Otentisitas praktik ini bersandar pada perilaku para sahabat yang menjadi saksi hidup bagaimana agama ini dijalankan. Salah satu riwayat yang paling valid berasal dari Jubair bin Nufair, yang menuturkan bahwa para sahabat Rasulullah jika saling bertemu pada hari raya Ied, sebagian mereka mengucapkan kepada sebagian yang lain:

تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ

Semoga Allah menerima amal kami dan kalian.

Redaksi ini bukan sekadar kata-kata manis. Ia adalah sebuah pengakuan akan keterbatasan manusia dalam beribadah. Setelah sebulan penuh berpuasa, shalat malam, dan mengeluarkan zakat, para sahabat tidak terjebak dalam euforia kesombongan seolah-olah surga telah digenggam. Sebaliknya, mereka saling mendoakan agar Allah berkenan menerima amal tersebut. Al Hafidz Ibnu Hajar al Asqalani, seorang pakar hadits terkemuka dalam dunia Islam, memberikan catatan dalam kitabnya bahwa status sanad dari riwayat ucapan tersebut adalah hasan. Hal ini memberikan legitimasi yang kokoh bagi umat Islam untuk melestarikan tradisi saling mendoakan tersebut.

Ulama dunia seperti Imam Ahmad bin Hanbal memberikan perspektif yang menarik mengenai hal ini. Dalam literatur yang dirujuk oleh para peneliti fikih, Imam Ahmad cenderung tidak memulai mengucapkan selamat kepada orang lain, namun jika ada yang mendahuluinya, beliau akan menjawab dengan ucapan yang serupa. Hal ini menunjukkan bahwa ucapan selamat hari raya dipandang sebagai bagian dari adab pergaulan (muamalah) yang memiliki muatan ibadah. Prinsip utamanya adalah membalas penghormatan dengan yang setimpal atau lebih baik.

Secara interpretatif, ucapan taqabbalallahu minna wa minka adalah instrumen pengikat ukhuwah yang luar biasa. Ia merobohkan sekat-sekat status sosial. Di lapangan Ied, antara pejabat dan rakyat jelata, antara si kaya dan si miskin, doa yang dipertukarkan tetap sama. Di sini, Idul Fitri bertindak sebagai penyetara. Pesan moral dari Dr. Ashim Al Qaryuti sangat jelas: kegembiraan hari raya harus dibingkai dalam kerangka syukur dan doa kolektif, bukan sekadar hura-hura yang kehilangan esensi spiritualnya.

Dalam konteks modern, di mana ucapan selamat sering kali disampaikan melalui pesan singkat atau media sosial, kemurnian makna doa ini harus tetap dijaga. Mengutip pandangan para ulama dalam Majmu Fatawa, penggunaan kata-kata lokal untuk mengucapkan selamat hari raya pada dasarnya diperbolehkan selama isinya mengandung doa dan kebaikan. Namun, kembali ke redaksi para sahabat tetap dipandang memiliki keutamaan karena kesederhanaan dan kedalaman maknanya yang langsung menyasar pada inti tujuan ibadah: penerimaan (qabul) dari Sang Pencipta.

Sebagai simpulan, ucapan selamat hari raya adalah jembatan yang menghubungkan kesalehan pribadi dengan kedamaian sosial. Melalui bimbingan yang dipaparkan oleh Dr. Ashim Al Qaryuti dan catatan emas dari Ibnu Hajar al Asqalani, kita diingatkan bahwa Idul Fitri adalah hari di mana lisan harus basah dengan doa bagi sesama. Dengan saling mengucapkan semoga Allah menerima amal kami dan kalian, seorang Muslim sedang memproklamasikan bahwa kemenangan sejati hanya bisa diraih jika Allah memberikan restu-Nya atas setiap rukuk dan sujud yang telah dilakukan.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 26 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)