home masjid

Dari Kurma hingga Perawatan: Jejak Profesi Perempuan dalam Islam Awal

Kamis, 18 September 2025 - 05:15 WIB
Dari kebun kurma hingga tenda perawatan, perempuan hadir dalam profesi sejak Islam awal. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di Madinah abad ke-7, seorang perempuan paruh baya berdiri di kebun kurma. Bibinya Jabir bin Abdullah baru saja dicerai, dan masa ‘iddah-nya belum selesai. Saat ia hendak memanen buah kurma, seorang laki-laki menegurnya dengan keras, melarangnya keluar rumah. Bibinya pun mengadu pada Rasulullah. Jawaban Nabi ringkas: “Tidak apa-apa, potonglah buah kurmamu. Barangkali dengan begitu kamu bisa bersedekah atau melakukan sesuatu kebajikan.” (HR Muslim).

Riwayat itu menyingkap satu hal: perempuan bekerja bukan hanya boleh, tapi juga bernilai ibadah, selama tidak menegasikan tanggung jawab rumah tangga.

Sejarawan Fatima Mernissi dalam The Veil and the Male Elite(1991) menekankan, hadis-hadis sejenis menunjukkan bahwa larangan perempuan untuk beraktivitas di ruang publik bukan berasal dari Nabi, melainkan lahir dari tafsir sosial-politik setelahnya. Dalam masyarakat agraris Madinah, tenaga perempuan justru bagian penting dari produksi pangan.

Di catatan sejarah lain, seorang budak perempuan milik Ka’ab bin Malik menggembalakan kambing di daerah Sal’i. Saat seekor kambing nyaris mati, ia menyembelihnya dengan batu. Rasulullah pun mengizinkan kambing itu dimakan (HR Bukhari). Kisah ini bukan sekadar anekdot, melainkan penanda bahwa perempuan juga terlibat dalam sektor peternakan—pekerjaan yang menuntut keterampilan teknis sekaligus keberanian.

Baca juga: Perempuan di Panggung Politik Islam: Dari Hijrah hingga Kritik Kekuasaan

Dari Tenda Rufaidah ke Rumah Sakit Modern

Perempuan tak hanya bekerja di ladang dan padang gembalaan. Mereka juga hadir dalam bidang perawatan. Ketika Sa’ad bin Mu’adz terluka di Perang Khandaq, Nabi menempatkannya di tenda milik Rufaidah, seorang perempuan yang terbiasa merawat prajurit luka. Ibnu Hajar dalam Fath al-Barimencatat, Rufaidah bukan sekadar perawat, melainkan pionir tenaga medis komunitas Islam awal.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya