home masjid

Sa‘di dari Shiraz: Penyair, Pengembara, Penjaga Nurani

Jum'at, 19 September 2025 - 05:15 WIB
Lewat kisah sederhana, Sadi menanamkan etika, kritik penguasa, dan cinta kemanusiaan. Warisannya terus mekar, dari Iran abad ke-13 hingga dunia digital kini. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Di sebuah taman berusia lebih dari tujuh abad di Shiraz, Iran, pengunjung kerap berhenti di depan sebuah makam yang dipenuhi ukiran kaligrafi. Di sanalah Sa‘di asy-Syirazi, penyair besar Persia abad ke-13, dimakamkan. Aroma bunga mawar yang mekar di sekitarnya seakan menghidupkan kembali judul salah satu karyanya yang paling terkenal: Golestān atau Taman Mawar.

Sa‘di bukan sekadar penyair; ia adalah pengembara intelektual. Lahir sekitar 1210, ia mengembara melintasi Asia Barat, menimba ilmu di Baghdad, berjumpa dengan sufi, pedagang, bahkan penguasa. Pengalaman panjang itu ia sulam menjadi kisah, puisi, dan petuah yang membuat namanya terus harum hingga kini.

Baca juga: Omar Khayyam: Penyair, Ilmuwan, dan Sufi yang Kerap Disalahpahami

Menulis dari Jalan Panjang Pengembaraan

Di tahun 1257, Sa‘di menuntaskan Būstān (Taman) — sebuah karya sepenuhnya dalam bentuk puisi yang memuat ajaran moral tentang keadilan, kebajikan, kasih sayang, hingga pendidikan. Setahun kemudian, ia menulis Golestān, kumpulan cerita pendek, anekdot, dan refleksi yang diselingi bait puisi. Kedua karya ini menjadi puncak pencapaian sastra Persia klasik, dan sampai sekarang masih menjadi bahan ajar di sekolah-sekolah Iran.

Menurut penelitian terbaru, gaya Sa‘di dikenal sederhana, mengalir, dan mudah dipahami. Kesederhanaan itu justru membuat pesan etika dan moralnya melekat kuat di hati pembaca lintas zaman. Dalam Golestān, ia mengandalkan argumentasi, alegori, humor, dan kisah singkat untuk mengajak pembaca merenung — sekaligus tersenyum.

Kritik Sosial yang Tak Pernah Pudar
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya