LANGIT7.ID-Di sebuah taman berusia lebih dari tujuh abad di Shiraz, Iran, pengunjung kerap berhenti di depan sebuah makam yang dipenuhi ukiran kaligrafi. Di sanalah Sa‘di asy-Syirazi, penyair besar Persia abad ke-13, dimakamkan. Aroma bunga mawar yang mekar di sekitarnya seakan menghidupkan kembali judul salah satu karyanya yang paling terkenal: Golestān atau Taman Mawar.
Sa‘di bukan sekadar penyair; ia adalah pengembara intelektual. Lahir sekitar 1210, ia mengembara melintasi Asia Barat, menimba ilmu di Baghdad, berjumpa dengan sufi, pedagang, bahkan penguasa. Pengalaman panjang itu ia sulam menjadi kisah, puisi, dan petuah yang membuat namanya terus harum hingga kini.
Baca juga: Omar Khayyam: Penyair, Ilmuwan, dan Sufi yang Kerap Disalahpahami Menulis dari Jalan Panjang PengembaraanDi tahun 1257, Sa‘di menuntaskan Būstān (Taman) — sebuah karya sepenuhnya dalam bentuk puisi yang memuat ajaran moral tentang keadilan, kebajikan, kasih sayang, hingga pendidikan. Setahun kemudian, ia menulis Golestān, kumpulan cerita pendek, anekdot, dan refleksi yang diselingi bait puisi. Kedua karya ini menjadi puncak pencapaian sastra Persia klasik, dan sampai sekarang masih menjadi bahan ajar di sekolah-sekolah Iran.
Menurut penelitian terbaru, gaya Sa‘di dikenal sederhana, mengalir, dan mudah dipahami. Kesederhanaan itu justru membuat pesan etika dan moralnya melekat kuat di hati pembaca lintas zaman. Dalam Golestān, ia mengandalkan argumentasi, alegori, humor, dan kisah singkat untuk mengajak pembaca merenung — sekaligus tersenyum.
Kritik Sosial yang Tak Pernah PudarMeski tulisannya tampak ringan, Sa‘di tak segan menyinggung realitas pahit: penguasa yang lalim, masyarakat yang pongah, atau manusia yang kehilangan nurani. Kritik itu ia sampaikan lewat simbol dan perumpamaan, membuat pesannya tak lekang dimakan waktu.
Salah satu syair terkenalnya, Bani Ādam (Anak-anak Adam), menegaskan bahwa seluruh umat manusia adalah bagian dari satu tubuh. Bila satu bagian sakit, seluruh tubuh merasakannya. Bait ini kini terpahat di markas besar PBB di New York, menandakan relevansi universal pesan kemanusiaan Sa‘di.
Baca juga: Rindu dalam Lantunan Selawat: Maulid Nabi di Majelis Sufi Relevansi di Abad ke-21Apa artinya membaca Sa‘di di tengah hiruk pikuk digital hari ini?
- Di era media sosial yang penuh debat tajam, Sa‘di mengingatkan bahwa kesederhanaan kata lebih bermakna daripada retorika kosong.
- Bagi pemimpin, Būstān menawarkan pelajaran: legitimasi lahir dari keadilan, kejujuran, dan keberpihakan pada rakyat kecil.
- Dalam masyarakat multikultural, syair “Bani Adam” mengajarkan bahwa kita saling terkait; penderitaan satu orang adalah penderitaan bersama.
Jejak AbadiKini, nama Sa‘di bukan hanya milik Iran. Hari kelahirannya, 21 April, diperingati sebagai Hari Sa‘di di kalender resmi Iran, namun gaungnya terasa hingga mancanegara. Dari ruang kelas, forum sastra, hingga media sosial, petikan karya-karyanya terus dihidupkan ulang.
Baca juga: Gelombang yang Tak Pernah Padam: Sufisme dan Tantangan Zaman Warisan Sa‘di menunjukkan bahwa sastra tidak berhenti pada estetika. Ia bisa menjadi jembatan etika, kritik sosial, sekaligus pengikat solidaritas manusia. Dari taman di Shiraz, suara Sa‘di masih bergema, seolah menyapa dunia: hidup manusia bukan sekadar untuk diri sendiri, melainkan untuk sesama.
(mif)