Anwar Abbas Tegaskan Komitmen MUI di Astana Peace Declaration 2025, Serukan Perdamaian Dunia
Tim langit 7
Kamis, 18 September 2025 - 22:08 WIB
Anwar Abbas Tegaskan Komitmen MUI di Astana Peace Declaration 2025, Serukan Perdamaian Dunia
LANGIT7.ID-Astana, Kazakhstan;Dunia internasional kembali menegaskan pentingnya dialog antaragama dan antarbudaya dalam menjaga perdamaian global melalui Astana Peace Declaration 2025. Deklarasi ini dihasilkan pada Kongres Pemimpin Agama Dunia dan Agama Tradisional ke-VIII (VIII Congress of the Leaders of World and Traditional Religions) yang berlangsung di Astana pada 17–18 September 2025.
Kongres yang melibatkan ratusan pemuka agama, organisasi internasional, dan lembaga masyarakat sipil dari berbagai negara ini melahirkan 34 poin komitmen global. Fokus utamanya adalah memperkuat kerja sama antaragama, memerangi ekstremisme, menjaga keberagaman budaya, melindungi kelompok rentan, hingga mendorong pemanfaatan teknologi baru seperti kecerdasan buatan (AI) dengan cara yang etis.
Indonesia turut berperan melalui kehadiran Anwar Abbas, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI). Kehadiran tokoh MUI ini menegaskan bahwa suara Indonesia tetap konsisten memperjuangkan perdamaian, toleransi, serta perlindungan hak asasi manusia dalam forum internasional.
“Astana Peace Declaration 2025 menjadi tonggak penting bagi dunia. Dokumen ini menegaskan bahwa dialog, toleransi, dan penghormatan atas perbedaan adalah jalan menuju perdamaian dan kemanusiaan. Indonesia siap mendukung pelaksanaan prinsip-prinsip ini,” ujar Anwar Abbas.
Deklarasi menyoroti berbagai isu mendesak, mulai dari perlindungan kelompok perempuan, anak-anak, lansia, penyandang disabilitas, pengungsi, hingga korban konflik, agar mendapatkan hak dan integrasi sosial yang adil. Selain itu, dokumen ini menolak segala bentuk ekstremisme, radikalisme, terorisme, serta propaganda kebencian berbasis agama.
Astana Peace Declaration juga menekankan pentingnya pendidikan lintas iman untuk menumbuhkan sikap saling menghormati dan membangun pondasi koeksistensi damai. Forum Pemuda Pemimpin Agama (Forum of Young Religious Leaders) bahkan diperkuat perannya agar generasi muda dapat melanjutkan estafet dialog lintas budaya dan agama di masa depan.
“Kami menegaskan kembali pentingnya kesetaraan, inklusivitas, dan penghormatan terhadap hak semua kelompok agama, etnis, dan sosial. Semua pihak harus bersatu dalam menolak ujaran kebencian serta mendorong dialog sebagai dasar pembangunan berkelanjutan,” lanjut Anwar Abbas.
Kongres yang melibatkan ratusan pemuka agama, organisasi internasional, dan lembaga masyarakat sipil dari berbagai negara ini melahirkan 34 poin komitmen global. Fokus utamanya adalah memperkuat kerja sama antaragama, memerangi ekstremisme, menjaga keberagaman budaya, melindungi kelompok rentan, hingga mendorong pemanfaatan teknologi baru seperti kecerdasan buatan (AI) dengan cara yang etis.
Indonesia turut berperan melalui kehadiran Anwar Abbas, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI). Kehadiran tokoh MUI ini menegaskan bahwa suara Indonesia tetap konsisten memperjuangkan perdamaian, toleransi, serta perlindungan hak asasi manusia dalam forum internasional.
“Astana Peace Declaration 2025 menjadi tonggak penting bagi dunia. Dokumen ini menegaskan bahwa dialog, toleransi, dan penghormatan atas perbedaan adalah jalan menuju perdamaian dan kemanusiaan. Indonesia siap mendukung pelaksanaan prinsip-prinsip ini,” ujar Anwar Abbas.
Deklarasi menyoroti berbagai isu mendesak, mulai dari perlindungan kelompok perempuan, anak-anak, lansia, penyandang disabilitas, pengungsi, hingga korban konflik, agar mendapatkan hak dan integrasi sosial yang adil. Selain itu, dokumen ini menolak segala bentuk ekstremisme, radikalisme, terorisme, serta propaganda kebencian berbasis agama.
Astana Peace Declaration juga menekankan pentingnya pendidikan lintas iman untuk menumbuhkan sikap saling menghormati dan membangun pondasi koeksistensi damai. Forum Pemuda Pemimpin Agama (Forum of Young Religious Leaders) bahkan diperkuat perannya agar generasi muda dapat melanjutkan estafet dialog lintas budaya dan agama di masa depan.
“Kami menegaskan kembali pentingnya kesetaraan, inklusivitas, dan penghormatan terhadap hak semua kelompok agama, etnis, dan sosial. Semua pihak harus bersatu dalam menolak ujaran kebencian serta mendorong dialog sebagai dasar pembangunan berkelanjutan,” lanjut Anwar Abbas.