home masjid

Ibnu Arabi: Sang Penjelajah Cinta dari Andalusia

Ahad, 21 September 2025 - 04:15 WIB
Bagi sebagian, ia adalah penggagas cinta kosmis. Bagi lainnya, ia adalah kontroversi yang tak pernah selesai. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID – Di lorong-lorong Damaskus, Suriah, hingga kini makam seorang sufi agung tetap diziarahi. Nama lengkapnya: Muḥyī al-Dīn Muḥammad bin ʿAlī bin Muḥammad bin al-ʿArabi al-Ḥātimī al-Ṭāʾī — lebih dikenal dunia sebagai Ibnu ʿArabi. Bagi pengikutnya, ia Shaykh al-Akbar (Guru Terbesar); bagi pengkritiknya, ia kontroversial. Namun satu hal pasti: ia meninggalkan warisan intelektual yang membentuk wajah spiritualitas Islam lintas abad.

Ibnu ʿArabi lahir di Murcia, Andalusia (Spanyol Muslim) pada 1165 M, lalu besar di Sevilla. Andalusia kala itu bukan sekadar pusat kekuasaan, melainkan laboratorium ilmu: filsafat Ibn Rushd, puisi Ibn Hazm, hingga tafsir kalam. Dalam atmosfer itu, Ibnu ʿArabi menempuh jalan berbeda: jalan sufi.

Di usia muda, ia mengalami krisis spiritual yang membuatnya menolak karier politik keluarganya. Ia memilih berkelana: dari Maghrib ke Makkah, dari Baghdad hingga Damaskus. Perjalanan panjang ini melahirkan jaringan pengetahuan sekaligus jejaring murid dan simpatisan. William Chittick menyebut, “Ibnu ʿArabi menulis bukan dari ruang akademik, tetapi dari pengalaman mistik yang ia tafsirkan dalam bahasa filosofis.” (The Sufi Path of Knowledge, 1989).

Baca juga: Ibnu Arabi: Antara Murcia, Makkah, dan Misteri Puisi yang Membelah Dunia

Cinta sebagai Pusat Kosmologi

Ibnu ʿArabi meletakkan cinta di pusat kosmos. Dalam Futūḥāt al-Makkiyya(Penyingkapan Mekkah) dan Fuṣūṣ al-Ḥikam(Permata Hikmah), ia menulis bahwa cinta adalah energi ilahi yang menjiwai penciptaan. “Aku mengikuti agama cinta,” tulisnya dalam salah satu bait syair yang termasyhur.

Annemarie Schimmel menilai, dalam pandangan Ibnu ʿArabi, cinta bukan sekadar emosi manusiawi, melainkan refleksi kasih Tuhan kepada makhluk-Nya (Mystical Dimensions of Islam, 1975). Konsep ini membuat ajarannya lintas batas: dari tasawuf, teologi, hingga seni.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya