LANGIT7.ID-Pada suatu malam di Sevilla, remaja bernama Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Arabi sedang menulis bait puisi. Ia menatap kosong ke arah langit Andalusia, menuliskan kata-kata cinta yang di mata para faqih tampak biasa saja, namun di hati para Sufi bergetar sebagai kunci rahasia Ilahi. Anak muda itu kelak dikenal dengan nama Ibnu Arabi (1165–1240), yang oleh para pengikutnya disapa asy-Syekh al-Akbar, Mahaguru terbesar tasawuf.
Ia bukan hanya penyair, tetapi juga filsuf, mistikus, sekaligus penantang ortodoksi. “Tidak ada penyair cinta yang lebih besar darinya, dan tidak ada seorang Sufi yang begitu dalam mengusik para teolog,” tulis R.A. Nicholson dalam pengantar
Tarjuman al-Asywaq (Interpreter of Desires, 1911).
Ibnu Arabi mengaku keturunan Hatim ath-Tha’i, kepala suku pra-Islam yang dikenang dunia Arab karena kedermawanannya. Dalam tradisi Sufi, derma Hatim menemukan pantulannya dalam kemurahan rohani sang cucu jauh, yang memberi “makna baru pada cinta dan agama.”
Latar belakang spiritualnya tidak kalah unik. Sang ayah, seorang bangsawan Moor, pernah berguru pada Abdul Qadir al-Jilani (1077–1166), pendiri tarekat Qadiriyah. Para hagiograf bahkan menyebut Ibnu Arabi “lahir berkat doa Abdul Qadir”—tanda awal seorang anak yang ditakdirkan jadi anugerah.
Andalusia: Perpaduan Sains dan SpiritualitasAndalusia abad ke-12 adalah peradaban lintas agama. Ibnu Arabi belajar fikih di Lisbon, menghafal hadis di Sevilla, hingga menghadiri kuliah ulama besar di Cordoba. Namun di luar ruang kelas, ia lebih betah bersama kaum darwis dan penyair. “Ia menguasai tradisi skolastik, tapi hatinya menetap di jalan Sufi,” catat Henry Corbin dalam
Creative Imagination in the Sufism of Ibn ‘Arabi (1969).
Seperti al-Ghazali, ia mendamaikan ortodoksi dengan tasawuf. Bedanya, Ghazali berangkat dari filsafat menuju Sufisme, sementara Ibnu Arabi sejak awal hidup di dalamnya.
Kontroversi terbesar datang ketika ia menerbitkan Tarjuman al-Asywaq. Puisi-puisi itu terdengar erotis: memuja kecantikan seorang perempuan bernama Nizam, putri ulama Persia yang ditemuinya di Makkah. Bagi fuqaha, ini skandal. Namun Ibnu Arabi menulis komentar panjang untuk menjelaskan bahwa setiap metafora cinta menunjuk pada realitas Ilahi.
“Benar bahwa sebagian puisinya sulit dibedakan dari nyanyian cinta biasa. Tapi di balik itu ada mistisisme yang mendalam,” tulis Nicholson (1911:7).
Kritikus modern, seperti William Chittick dalam
The Sufi Path of Knowledge (1989), menegaskan bahwa cinta bagi Ibnu Arabi adalah wahana pengalaman ketuhanan, bukan sekadar romantika.
Kosmologi: Tuhan dalam Cermin PerempuanDalam magnum opus Fushush al-Hikam, Ibnu Arabi membuat pernyataan mengejutkan: “Pandangan paling sempurna tentang Tuhan adalah dalam perempuan.” Bagi kaum ortodoks, ini nyaris bid’ah. Tetapi bagi Sufi, perempuan adalah cermin kesempurnaan ciptaan, tempat cinta menemukan wajah Tuhannya.
Ia bahkan menulis: “Hatiku bisa menjelma biara, padang rusa, Ka’bah, Taurat, dan al-Qur’an. Cinta adalah agamaku.” Bait yang diterjemahkan Nicholson itu kemudian menyalakan debat panjang: apakah Ibnu Arabi seorang relativis agama, ataukah ia sedang merumuskan universalisme spiritual?
Ibnu Arabi bukan hanya milik dunia Islam. Peneliti Spanyol Miguel Asín Palacios dalam
Islam and the Divine Comedy (1926) berargumen bahwa Dante menyerap imaji kosmik Ibnu Arabi dalam
Divina Commedia. Sementara mistikus Kristen Raymond Lully di Catalonia menafsirkan ajarannya untuk latihan rohani.
Hari ini, karya-karyanya terus diperdebatkan. Di dunia Muslim, sebagian ulama menilainya sesat, sebagian lain menganggapnya wali agung. Di Barat, ia dipelajari di fakultas filsafat, sastra, hingga teologi. “Ia membingungkan karena sekaligus ortodoks dan esoteris,” tulis Idries Shah dalam
The Sufis (1964, ed. Indo 2000).
Warisan Sang MahaguruIbnu Arabi wafat di Damaskus pada 1240. Makamnya masih diziarahi ribuan orang setiap tahun. Di hadapan pusara itu, perdebatan lima abad seakan melebur dalam satu kesimpulan: bahwa ajarannya adalah tentang keterbukaan hati.
“Cinta adalah kendaraan dalam melangkah,” tulisnya. Dan dengan itu, ia tetap hidup—sebagai penyair cinta, filsuf universal, sekaligus Mahaguru Sufi yang menyalakan obor lintas zaman.
(mif)