LANGIT7.ID-Di awal 1885, seorang lelaki Belanda menunggang unta menuju Mekah, menyebut dirinya ‘Abd al-Ghaffar. Ia berpakaian gamis, bersorban, dan menyembunyikan nama aslinya: Christiaan Snouck Hurgronje.
Ia datang bukan untuk haji, bukan pula sekadar menuntut ilmu. Ia datang untuk menyusup—mempelajari Islam dari dalam.
Dalam suratnya kepada sahabatnya, Van der Chijs, ia menulis: “Siapa pun yang mengunjungi negeri asing untuk studi menanggalkan sebagian dari kepribadiannya. Seberapa jauh seseorang melangkah adalah urusan hati nurani.”
Kalimat itu berbunyi seperti pengakuan seorang peneliti, tapi juga seperti pembelaan mata-mata.
Menurut sejarawan Michael Laffan dalam Sejarah Islam di Nusantara, perjalanan Snouck ke Mekah bukan hasil pencarian spiritual, melainkan misi negara. Dua tahun sebelumnya, pemerintah kolonial Belanda geger oleh desas-desus “pembantaian” jamaah haji asal Hindia Belanda. Mereka ingin tahu: apa yang sebenarnya terjadi di Tanah Suci, dan sejauh mana Islam menjadi ancaman bagi kekuasaan mereka di Asia Tenggara.
Van den Berg sempat mengejek ide mengirim sarjana ke Arabia. Tapi justru Snouck, dengan ambisi dan kefasihannya dalam bahasa Arab, yang mendapat tunjangan penuh untuk menjalankan misi itu.
Sahabat dari BantenDi Jeddah, Snouck mulai membangun jaringannya. Ia mewawancarai jemaah haji, memotret wajah-wajah asing, dan menulis catatan harian yang dingin tapi terobsesi. Ia bertemu Raden Aboe Bakar Djajadiningrat, seorang Jawi dari Banten yang kelak menjadi penghubung pentingnya dengan ulama Mekah.
Melalui Aboe Bakar, ia berkenalan dengan keluarga al-Qadri dari Pontianak—keluarga bangsawan yang sejak abad ke-18 menjalin hubungan harmonis dengan Belanda. Dari mereka, pintu ke Mekah terbuka.
Habib ‘Abd al-Rahman al-Zahir, tokoh Hadrami yang pernah diasingkan karena perang Aceh, juga turut membantu. Ironisnya, banyak tokoh yang membenci kolonialisme justru memperantarai seorang agen kolonial menembus jantung dunia Islam.
Menjadi ‘Abd al-GhaffarPada Januari 1885, Snouck akhirnya tiba di Mekah dan diterima sebagai muslim. Ia menulis namanya dalam aksara Arab, menikah dengan budak Abisinia, dan belajar pada Syekh Ahmad Dahlan, tokoh terkemuka yang banyak membimbing pelajar Jawi. Ia juga mendekati Syekh Nawawi al-Bantani, Ahmad al-Fatani, dan ulama lain yang menjadi jembatan antara Hijaz dan Nusantara.
Laffan mencatat, Snouck “lebih menyukai para ahli hukum daripada para mistikus.” Ia tertarik pada diskusi rasional para fakih Syafi‘iyyah, tetapi memandang para sufi sebagai parasit yang hidup di pinggiran modernitas.
Di sisi lain, ia mencatat dengan teliti setiap percakapan, doa, dan bahkan ritual shalat istisqa di Jeddah—menulis dengan nada kagum sekaligus sinis.
Snouck melihat Mekah sebagai laboratorium sosial. Di antara ulama dan santri Jawi, ia menemukan cermin dari Islam Nusantara: beragam, dinamis, tapi juga rentan dipecah. Ia mengamati siapa yang patuh pada ulama Arab, siapa yang keras melawan penjajah, siapa pula yang tunduk pada kompromi.
“Para ulama Jawi,” tulisnya dalam catatan, “tidak memiliki ulama yang sebenarnya.” Sebuah penilaian yang dingin—tapi kelak menjadi dasar kategorisasi kolonial antara Islam “murni” dan “lokal”, antara yang “aman” dan “berbahaya”.
Diusir dari Kota SuciSnouck tinggal di Mekah hanya beberapa bulan. Ketika kecurigaan Ottoman meningkat terhadap “seorang pedagang Barat yang berpura-pura jadi muslim”, ia diusir dari kota itu. Namun, misinya sudah berhasil: ia membawa pulang pengetahuan mendalam tentang dunia Islam dan jejaring ulama Jawi.
Empat tahun kemudian, ia dikirim ke Aceh—kali ini bukan sebagai peneliti, tapi sebagai penasihat kolonial. Ilmu yang ia kumpulkan di Hijaz kini digunakan untuk menaklukkan umat yang dulu menyambutnya sebagai saudara.
Michael Laffan menulis: “Snouck berdiri di dua kaki: satu di ruang kuliah Leiden, satu lagi di tanah jajahan. Ia bukan sekadar peneliti; ia adalah instrumen kekuasaan.”
Perjalanan Snouck Hurgronje ke Mekah membuktikan bahwa pengetahuan tidak pernah netral. Ia bisa menjadi jembatan—tapi juga senjata. Dan di balik jubah ‘Abd al-Ghaffar, Snouck meninggalkan warisan yang panjang: bahwa memahami “yang lain” kadang berarti menguasainya.
(mif)