Di bawah bayang-bayang Snouck Hurgronje, kolonial Belanda berusaha memahami Islam sambil tetap mencurigainya. Dari politik pengawasan dan tafsir akademik yang bias, lahir kesadaran baru di kalangan Muslim Hindia.
Kolonialisme membelah arah Islam di Nusantara: Inggris merangkul elite lama, Belanda mendekati kaum pembaru. Dari benturan sayyid, reformis, dan kolonial lahirlah kesadaran baru: Islam sebagai ruang perjuangan bangsa.
Di awal abad ke-20, ketika Hindia Belanda berupaya memahami sekaligus mengendalikan Islam, seorang penasihat kolonial bernama Christiaan Snouck Hurgronje menjadi arsitek intelektual di balik kebijakan itu.
Dalam surat-suratnya di De Locomotief, Snouck Hurgronje tampil bukan hanya sebagai ilmuwan, melainkan sebagai wedana kolonial yang menulis dari atas menara kekuasaan.
Tahun 1889, Snouck Hurgronje tiba di Batavia membawa dua wajah: orientalis dan haji. Di balik risetnya tentang Islam Jawa, tersembunyi kisah kolaborasi, pengawasan, dan persinggungan iman.
Di Batavia tahun 1886, dua cendekia duduk bersekutu di bawah bayang kolonial: Snouck Hurgronje dan Sayyid Utsman. Dari meja kerja mereka lahir proyek besar: membentuk Islam yang jinak di Hindia.
Pada 1886, Snouck Hurgronje menulis dengan amarah dan ambisi: memahami Islam agar bisa mengendalikannya. Dari Leiden ke Mekah hingga Batavia, ilmunya menjelma senjata kolonial membentuk Islam yang dapat diatur.
Tahun 1885, Snouck Hurgronje menanggalkan identitasnya, menyamar sebagai muslim bernama Abd al-Ghaffar di Mekah. Dari kota suci itu, ia belajar Islam bukan untuk beriman, melainkan untuk menaklukkan.
Dari arsip berdebu di Leiden, terkuak jejak Snouck Hurgronje: ilmuwan yang menjembatani jihad Aceh dan reformasi Kairo. Michael Laffan menulis, orientalisme bukan sekadar ilmuia juga kekuasaan yang menyamar.
Dari Leiden ke Mekah, Christiaan Snouck Hurgronje menjelma dari ilmuwan muda menjadi arsitek pengetahuan kolonial. Ia membela Islamtapi demi memahami, mengatur, dan menjaga kekuasaan Belanda di Hindia.