Kemerdekaan yang dinikmati hari ini bukanlah hadiah gratis, melainkan buah dari pengorbanan darah, air mata, serta keteguhan iman para pahlawan dan ulama yang pantang menyerah dalam menghadapi kezaliman kolonialisme.
Rangkaian perang agama yang menghancurkan tatanan ekonomi dan menguras habis kas negara-negara Eropa tersebut memaksa mereka bertaruh mencari jalur navigasi samudra baru guna menguasai sumber daya global di belahan dunia lain.
Sifat pengecut bukan sekadar rasa takut, melainkan patologi mental yang melumpuhkan tanggung jawab moral dan kedaulatan bangsa. Ia adalah penjara bagi jiwa yang enggan bertaruh demi kebenaran.
Di bawah bayang-bayang Snouck Hurgronje, kolonial Belanda berusaha memahami Islam sambil tetap mencurigainya. Dari politik pengawasan dan tafsir akademik yang bias, lahir kesadaran baru di kalangan Muslim Hindia.
Tragedi Cimareme 1919 mempertemukan dzikir dan peluru. Di balik doa Haji Hasan tersimpan perlawanan agraria dan kebangkitan politik Islam. Kolonial menanggapinya dengan darah, bukan keadilan.
Ketika Sarekat Islam bangkit, bukan hanya Belanda yang gelisah. Dari para misionaris Kristen hingga penasihat kolonial, muncul kecemasan: apakah Islam di Hindia sedang berubah menjadi kekuatan politik baru?
Di awal abad ke-20, Islam di Hindia Belanda tak lagi sekadar urusan doa dan tarekat. Sarekat Islam menjelma kekuatan sosial baru yang membuat resah pejabat kolonial, misionaris, dan para orientalis Belanda.
Surat kabar Al-Imam hanya hidup dua tahun, tapi gaungnya membelah sejarah Islam di Asia Tenggaradari zikir di zawiyah ke debat di ruang publik, dari Sufisme ke Salafisme.
Dari lontar yang disangka teks Jepang hingga kamus yang salah tafsir, Belanda berabad-abad gagal memahami Islam di Nusantara. Michael Laffan menulis: kuasa mereka besar, tapi jiwanya tak tersentuh.
Dalam surat-suratnya di De Locomotief, Snouck Hurgronje tampil bukan hanya sebagai ilmuwan, melainkan sebagai wedana kolonial yang menulis dari atas menara kekuasaan.
Tahun 1885, Snouck Hurgronje menanggalkan identitasnya, menyamar sebagai muslim bernama Abd al-Ghaffar di Mekah. Dari kota suci itu, ia belajar Islam bukan untuk beriman, melainkan untuk menaklukkan.
Dari arsip berdebu di Leiden, terkuak jejak Snouck Hurgronje: ilmuwan yang menjembatani jihad Aceh dan reformasi Kairo. Michael Laffan menulis, orientalisme bukan sekadar ilmuia juga kekuasaan yang menyamar.
Dari Leiden ke Mekah, Christiaan Snouck Hurgronje menjelma dari ilmuwan muda menjadi arsitek pengetahuan kolonial. Ia membela Islamtapi demi memahami, mengatur, dan menjaga kekuasaan Belanda di Hindia.