Dari ruang kolonial Batavia, Van Hovell merumuskan tafsir baru atas Islam Jawaagama yang ramah bagi kekuasaan. Di tangannya, pengetahuan menjadi alat penjinakan.
Bagi Yusuf Qardhawi, berhukum kepada syariat bukan nostalgia religius, melainkan perlawanan terhadap warisan kolonial yang menanamkan hukum asing di tanah Islam.
Di awal abad ke-19, Belanda tak hanya merebut kembali kekuasaan politik di Jawa. Mereka juga berusaha merebut pengetahuantentang Islam, pesantren, dan jiwa keagamaan rakyat Jawa.
Dari jalan raya Daendels hingga rak-rak Leiden, naskah Islam Nusantara berpindah tangan di bawah bayang kolonialisme. Pengetahuan lahir, tapi juga menyimpan jejak penjarahan dan kuasa.
Penjajahan tak lagi lewat bedil, tapi lewat buku dan arsip. Dari Daendels hingga Raffles, kekuasaan kolonial mengubah naskah dan ilmu Nusantara menjadi alat kendali atas makna dan ingatan bangsa.
Pada abad ke-17, Belanda datang bukan hanya dengan kapal dan senapan, tapi juga kamus dan kebingungan. Dari Ambon hingga Leiden, mereka berusaha memahami Islamdan sering salah kaprah.
Dari Leiden hingga Batavia, para sarjana Belanda mencoba memahami Islam lewat kamus dan Injil. Tapi bahasa yang mereka salin tak sanggup menjangkau iman yang hidup di lidah dan jiwa orang Nusantara.
Awal abad ke-17, pelaut Belanda mendengar Stofferolla di masjid Aceh dan menulisnya sebagai mantra. Di balik salah dengar itu, tersimpan kisah benturan iman, bahasa, dan kekuasaan.
Dari Syattariyyah hingga Naqsyabandiyyah, dari Kiai Lengkong sampai Mas Rahmatabad ke-19 menjadi panggung tarik-menarik antara Islam global dan laku mistik lokal yang membentuk wajah keislaman Jawa.
Islam tidak mengenal nasionalisme dalam arti sempit yang mengagungkan satu bangsa di atas yang lain karena umat Islam disatukan oleh aqidah, bukan ras atau wilayah.