Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 21 Juli 2026
home masjid detail berita

Penjajahan dan Propaganda Anti-Islam: Tidak Hanya secara Fisik

miftah yusufpati Jum'at, 16 Mei 2025 - 05:15 WIB
Penjajahan dan Propaganda Anti-Islam: Tidak Hanya secara Fisik
Penjajahan Barat terhadap negeri-negeri Islam tak sekadar penjajahan fisik. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID - Imperialisme Barat ternyata tidak hanya menjajah secara fisik, tetapi juga ikut melanjutkan serangan ideologis terhadap Islam dan Nabi Muhammad.

"Mereka menyarankan agar umat Islam bersikap seperti kaum Quraisy di Makkah yang mengharapkan agama Nasrani direndahkan melalui kekalahan Heraklius dan Romawi dalam perang melawan Persia," tulis Muhammad Husain Haekal dalam bukunya yang diterjemahkan Ali Audah berjudul "Sejarah Hidup Muhammad" (Pustaka Jaya, 1980).

Hingga kini, lanjutnya, masih banyak di antara mereka yang menyebarkan pandangan bahwa Islam adalah penyebab kemunduran bangsa-bangsa pemeluknya, yang kemudian membuat bangsa-bangsa tersebut tunduk kepada kekuatan lain.

Pernyataan ini jelas keliru dan perlu diluruskan. Sejarah membuktikan bahwa peradaban dunia dan kekuasaan besar selama berabad-abad pernah berada di tangan bangsa-bangsa Muslim.

Dari dunia Islam lahir pusat-pusat ilmu pengetahuan dan para ilmuwan besar, serta pelopor-pelopor kemerdekaan yang baru belakangan ini dikenal di dunia Barat. Jika kemunduran suatu bangsa dikaitkan dengan agama yang dianutnya, maka tentu agama itu bukan Islam, agama yang justru telah membangkitkan penduduk Jazirah Arab dari keterbelakangan menjadi penguasa dunia.

Kemunduran sebagian bangsa Muslim yang kini menjadi beban bagi citra Islam sangat disayangkan jika dikaitkan dengan ajaran agama itu sendiri. Ini bukan kehendak Allah maupun Rasul-Nya. Sayangnya, sebagian orang menganggap kondisi ini sebagai dasar ajaran agama, dan siapa pun yang menentangnya akan dicap sebagai ateis.

Islam dan Kondisi Umatnya

Menurut Haekal, banyak buku sejarah tentang Nabi Muhammad yang justru menambahkan kisah-kisah yang tak masuk akal, yang sebetulnya tidak perlu ditambahkan untuk menguatkan kenabiannya.

Tambahan-tambahan inilah yang kemudian dijadikan senjata oleh para orientalis dan mereka yang ingin mendiskreditkan Islam serta Nabi Muhammad, termasuk untuk mengecam umat Islam secara keseluruhan. Mereka menjadikan kisah-kisah itu sebagai rujukan dalam kritik yang sering kali bernada merendahkan dan menyakitkan bagi siapa pun yang berpikir jujur.

Ironisnya, semua tuduhan dan distorsi tersebut dibungkus dalam gaya penulisan yang seolah-olah ilmiah dan objektif. Mereka mengklaim menggunakan metode sejarah modern—yang menyajikan fakta, tokoh, dan peristiwa—lalu memberikan penilaian yang dianggap sah.

Namun jika dicermati, tulisan-tulisan tersebut justru sarat dengan semangat permusuhan dan celaan, meski dibungkus dengan bahasa yang indah dan menarik bagi mereka yang sejalan secara ideologis. "Mereka menyebutnya sebagai penelitian objektif, padahal penuh bias dan sentimen," tutur Haekal.

Meski begitu, masih ada segelintir penulis dan sarjana—bahkan dari kalangan Kristen—yang mampu berpikir lebih tenang, adil, dan jujur. Mereka inilah yang memberikan pandangan yang lebih seimbang dan objektif terhadap Islam dan Nabi Muhammad.

Di sisi lain, para ulama Muslim juga telah berusaha keras membela Islam dari serangan-serangan tersebut. Tokoh paling menonjol dalam hal ini adalah Syaikh Muhammad Abduh. Namun, sayangnya para ulama ini tidak menggunakan pendekatan ilmiah seperti yang diklaim oleh para orientalis.

Ini membuat argumen mereka dianggap lemah oleh lawan-lawan Islam. Bahkan, Syaikh Muhammad Abduh sendiri sempat dituduh sebagai ateis dan kafir, sehingga semakin sulit bagi argumen-argumennya untuk diterima oleh publik Barat.

Sikap Jumud di Kalangan Pemuda

Menurut Haekal, tuduhan mereka sebenarnya memberikan pengaruh besar dalam jiwa angkatan muda Islam yang terpelajar. Terkesan di kalangan pemuda bahwa ateisme dan logika sejalan dengan ijtihad (aktif), sedangkan iman dianggap identik dengan jumud (pasif). Oleh karena itu, jiwa mereka menjadi gelisah.

Mereka kemudian membaca buku-buku Barat, dengan harapan dapat menemukan kebenaran, karena mereka meyakini bahwa kebenaran tersebut tidak dapat ditemukan dalam buku-buku kaum Muslimin. Secara otomatis, buku-buku agama dan sejarah Kristen pun tidak menjadi pilihan mereka.

Mereka justru larut dalam bacaan filsafat, yang melalui gaya ilmiahnya mereka harapkan dapat memberikan setitik air untuk menghilangkan dahaga akan kebenaran yang tersembunyi dalam jiwa mereka.

Logika yang ditawarkan dalam filsafat itu dianggap sebagai nyala suci yang tersembunyi dalam jiwa umat manusia dan dijadikan alat komunikasi untuk mengantarkan mereka kepada alam serta kebenaran yang tertinggi.

Dalam buku-buku Barat—baik dalam bidang filsafat, etika, maupun humaniora secara umum—mereka menemukan banyak hal yang menarik hati, baik karena gaya penyampaiannya yang indah, logikanya yang kuat, maupun karena tampaknya menunjukkan adanya niat baik dan kesungguhan dalam mencapai pengetahuan demi kebenaran.

Oleh sebab itu, jiwa para pemuda tersebut menjadi jauh dari pemikiran tentang semua agama, termasuk risalah Islam dan pembawanya.

Sikap mereka ini bertujuan untuk menghindari kemungkinan terjadinya konflik antara diri mereka dan kebekuan dalam beragama. Mereka yakin tidak akan mampu mengalahkan kebekuan tersebut.

Selain itu, mereka pun tidak menyadari betapa pentingnya hubungan yang dapat mengangkat martabat manusia ke tingkat yang lebih sempurna, sehingga kekuatan moral pun akan berlipat ganda.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 21 Juli 2026
Imsak
04:35
Shubuh
04:45
Dhuhur
12:03
Ashar
15:24
Maghrib
17:57
Isya
19:09
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan