Sejarah puasa kaum Nasrani berakar pada laku empat puluh hari Nabi Isa yang kemudian berkembang menjadi tradisi pantang daging serta melewati berbagai fase transisi syariat yang unik.
Di antara dentum Romawi dan Persia, jazirah Arab seolah sunyi. Gersang tanpa sungai, hanya kafilah dan oasis. Namun dari tanah tandus itulah kelak lahir revolusi yang mengguncang dunia.
Dari mihrab sunyi Baitul Maqdis, kisah Maryam binti Imran abadi dalam Al-Quran sebagai simbol iman, pengabdian, dan keberanian perempuanteladan lintas zaman yang melampaui sekat gender.
Siapa Ahl al-Kitab? Yahudi dan Nasrani saja, atau termasuk Hindu dan Buddha? Perdebatan klasik ini menyingkap tarik-menarik antara teks, tafsir, dan realitas sosial dari masa klasik hingga kini.
Kritik Al-Quran kepada Ahl al-Kitab bukan sekadar soal beda iman. Ia lahir dari tarik-menarik kepentingan politik dan ekonomi, yang dibungkus agama, sejak awal sejarah Islam.
Dari perlindungan Raja Nasrani di Ethiopia hingga kekecewaan Yahudi Madinah, perjumpaan Islam dengan Ahl al-Kitab membuka babak baru relasi iman dan politik.
Di Yunani, pusat filsafat yang sering dipuja Barat, perempuan justru terpinggirkan. Di istana-istana, para wanita elite disekap. Di kalangan bawah, lebih menyedihkan: mereka diperlakukan sebagai barang dagangan.
Kisah Zaid bin Amr bin Nufail adalah bagian dari sejarah iman sebelum Islam. Seorang hanif yang menjadi mata rantai antara Ibrahim dan Muhammad, antara langit dan bumi, antara Tuhan dan manusia.
Pengakuan kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai golongan orang-orang yang beriman kepada Allah adalah sesuai dengan jaminan yang diberikan oleh Waraqah.
Kaum Yahudi dan Nasrani. Mereka melestarikan puasa hingga saat ini. Para nabi mereka juga berpuasa. Ada puasa Nabi Musa, puasa Nabi Isa, dan juga para Hawariyyun pengikut setia nabi Isa as.
Umat Nasrani di masa silam telah berpuasa di bulan Ramadan. Bukan hanya itu, umat Yahudi juga berpuasa selama bulan Ramadan. Lalu, mengapa umat Islam juga diwajibkan berpuasa di Bulan Ramadan, bukan pada bulan lainnya?
Islam bersifat keras terhadap orang musyrik tetapi terhadap ahli kitab sangat lunak dan mempermudah, karena mereka ini lebih dekat kepada orang mukmin, sebab sama-sama mengakui wahyu Allah, mengakui kenabian dan pokok-pokok agama secara global.