Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 01 Mei 2026
home masjid detail berita

Maryam binti Imran: Teladan Kesucian dan Keberanian Spiritual

miftah yusufpati Rabu, 10 September 2025 - 04:15 WIB
Maryam binti Imran: Teladan Kesucian dan Keberanian Spiritual
Di tengah perdebatan modern soal posisi perempuan, kisah Maryam memberi perspektif lain. Ia menunjukkan bahwa kesalehan dan keberanian spiritual melampaui batas gender. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di sebuah sudut Baitul Maqdis, seorang gadis muda duduk khusyuk di mihrabnya. Tangannya terangkat, wajahnya teduh, sementara Zakariya, nabi tua yang mengasuhnya, tertegun melihat ada buah-buahan segar di sisinya. “Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh ini?” tanyanya. Maryam menjawab pendek, “Itu dari sisi Allah.” (Ali Imran: 37).

Kisah Maryam binti Imran—sosok perempuan yang disebut paling banyak dalam Al-Qur’an—menjadi simbol pengabdian, ketekunan, sekaligus keberanian spiritual. Namanya bukan hanya abadi di dalam teks suci Islam, tetapi juga dalam tradisi Yahudi dan Kristen. Namun, Al-Qur’an menghadirkan Maryam dengan dimensi berbeda: perempuan saleh yang dipilih, disucikan, dan dijadikan teladan lintas zaman.

Nazar Sejak Kandungan

Al-Qur’an menuturkan, istri Imran menazarkan janin dalam kandungannya untuk berkhidmat di Baitul Maqdis. “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada-Mu anak yang ada dalam kandunganku untuk menjadi hamba yang saleh.” (Ali Imran: 35).

Menurut tafsir Ibn Katsir, keinginan itu dilandasi tradisi Yahudi kuno: anak lelaki dipersembahkan untuk mengabdi di Baitullah. Namun bayi yang lahir perempuan. Sang ibu sempat gamang, tetapi Allah meneguhkan nazar itu dan menerima Maryam sebagai hamba yang akan mengabdi dengan caranya sendiri.

Baca juga: Khusus Isa Putra Maryam: Nabi yang Diangkat Menjadi Rasul di Usia Belia

Imam al-Qurthubi dalam al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an menjelaskan, kisah ini menunjukkan Allah tidak membedakan kualitas pengabdian laki-laki dan perempuan. Dalam hadis sahih riwayat Bukhari-Muslim, Nabi Muhammad menegaskan, “Setiap anak Adam disentuh setan pada hari kelahirannya, kecuali Maryam dan anaknya, Isa.”

Pengasuhan dan Karunia Ilahi

Allah menerima Maryam “dengan penerimaan yang baik” dan menyerahkan pengasuhannya kepada Nabi Zakariya (Ali Imran: 37). Setiap kali sang nabi masuk ke ruang ibadahnya, makanan sudah tersedia. Tafsir Fakhruddin al-Razi menilai mukjizat ini menunjukkan derajat spiritual Maryam lebih tinggi dibanding orang-orang di sekitarnya.

Maryam tidak hanya menjadi teladan bagi perempuan, tapi juga menginspirasi para nabi. Kisah dalam Ali Imran ayat 38 menuturkan bagaimana Zakariya, yang tak kunjung mendapat keturunan, justru terdorong untuk berdoa karena kagum pada Maryam.

Kisah paling monumental adalah kelahiran Isa tanpa bapak. Surah Maryam ayat 16–30 menggambarkan pertemuan Maryam dengan malaikat Jibril dalam wujud manusia. “Bagaimana aku akan mempunyai anak, sedang aku belum pernah disentuh seorang lelaki?” tanya Maryam. Jibril menjawab, “Hal itu mudah bagi Allah...”

Baca juga: Saudara Perempuan Musa A.S. dan Kehebatan Siasatnya

Tafsir al-Tabari menekankan bahwa peristiwa ini adalah ayat—tanda kekuasaan Allah. Dalam tafsir modern, Muhammad Asad (The Message of the Qur’an, 1980) menilai kisah Maryam membalik logika sosial: perempuan yang dianggap lemah justru menjadi pintu hadirnya mukjizat besar.

Penelitian Karen Armstrong dalam A History of God (1993) menyebut peran Maryam dalam Al-Qur’an sebagai koreksi terhadap tradisi Yahudi yang kerap memarjinalkan perempuan. Islam menempatkan Maryam bukan hanya sebagai ibu nabi, tetapi pribadi beriman yang independen.

Fitnah dan Tuduhan

Namun, perjalanan Maryam tak lepas dari fitnah. Al-Qur’an mengabadikan tuduhan kaum Yahudi yang menista kesuciannya. “Dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina).” (an-Nisa’: 156).

Menurut tafsir al-Qurtubi, ayat ini menjadi pembelaan langsung dari Allah terhadap kehormatan Maryam. Dalam tradisi Kristen, fitnah ini tidak terekam eksplisit, tetapi Al-Qur’an menegaskan bahwa Maryam mengalami stigma sosial yang berat.

Maryam bukan hanya dilindungi dari fitnah, ia bahkan dipilih dan dimuliakan. “Sesungguhnya Allah telah memilihmu, menyucikanmu, dan melebihkanmu atas segala wanita di dunia.” (Ali Imran: 42).

Baca juga: Perempuan di Zaman Nabi Muhammad: Khawlah dan Revolusi Sunyi

Hadis riwayat Bukhari-Muslim menegaskan dua perempuan sempurna: Maryam binti Imran dan Asiyah, istri Firaun. Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menulis, kesempurnaan Maryam terletak pada sidq (kejujuran) dan taqwa (ketaatan) yang melampaui logika manusia.

Teladan Sepanjang Zaman

Al-Qur’an menutup kisah Maryam dengan menjadikannya perumpamaan bagi orang beriman. “Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya... dan dia termasuk orang-orang yang taat.” (at-Tahrim: 12).

Sejarawan Annemarie Schimmel dalam And Muhammad Is His Messenger (1985) menyebut Maryam sebagai figur perempuan yang lintas tradisi. Ia dipandang suci dalam Islam, Katolik, dan Ortodoksi Timur, tetapi Islam menempatkannya lebih tinggi: bukan sekadar ibu Isa, melainkan hamba Allah yang beriman dan teladan moral.

Baca juga: Perempuan di Zaman Nabi Sulaiman: Antara Takhta, Diplomasi, dan Ketundukan

Di tengah perdebatan modern soal posisi perempuan, kisah Maryam memberi perspektif lain. Ia menunjukkan bahwa kesalehan dan keberanian spiritual melampaui batas gender. Maryam adalah simbol bahwa Tuhan bisa memilih siapa pun, laki-laki atau perempuan, untuk menjadi teladan.

Dari mihrab sunyi di Baitul Maqdis hingga ayat-ayat Al-Qur’an yang abadi, Maryam tetap berdiri sebagai saksi bahwa iman, keberanian, dan kesucian adalah warisan terbesar seorang hamba.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 01 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:50
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)