Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 26 Mei 2026
home masjid detail berita

Perempuan di Zaman Nabi Sulaiman: Antara Takhta, Diplomasi, dan Ketundukan

miftah yusufpati Senin, 08 September 2025 - 04:15 WIB
Perempuan di Zaman Nabi Sulaiman: Antara Takhta, Diplomasi, dan Ketundukan
Balqis tetap abadi, bukan karena ia kalah, melainkan karena ia memilih jalan damai. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Suara gemericik air kolam menggema di istana kaca itu. Balqis, ratu negeri Saba, tertegun. Di hadapannya, lantai yang tampak seperti permukaan air ternyata hanyalah hamparan kaca licin. Sejenak ia menyingkap kain penutup kakinya, sebelum menyadari tipu daya arsitektur istana Nabi Sulaiman. “Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca,” ujar Sulaiman. Balqis pun mengaku kalah. “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku, dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam” (QS. an-Naml: 44).

Kisah ini bukan sekadar cerita tentang takhta dan kekuasaan. Ia adalah fragmen yang menyingkap posisi perempuan dalam lanskap politik, budaya, dan spiritual pada masa para nabi. Balqis adalah representasi kekuatan perempuan yang tak bisa direduksi menjadi sekadar objek domestik. Dalam tradisi tafsir klasik seperti yang dikemukakan oleh al-Tabari dan al-Qurthubi, kisah Balqis kerap dijadikan rujukan untuk membahas kepemimpinan perempuan. Namun, apakah cerita ini hanya soal perempuan yang akhirnya tunduk kepada kekuasaan laki-laki, atau justru tentang rekonsiliasi kekuatan spiritual dan politik?

Baca juga: Kisah Ratu Balqis Bersimpuh: Dari Kemewahan Menuju Ketundukan

Balqis: Ratu yang Memimpin Negeri Kaya

Kitab-kitab sejarah menyebut Balqis sebagai penguasa kerajaan Saba, wilayah yang kini diyakini berada di sekitar Yaman modern. Negeri ini dikenal makmur, dengan irigasi maju berkat Bendungan Ma’rib. Balqis memimpin sebuah peradaban yang terhubung dengan perdagangan rempah dan emas. Menurut The Queen of Sheba: History, Legend and Wisdom (Deborah M. Coulter-Harris, 2013), Balqis bukan sekadar figur mitologis, melainkan simbol kepemimpinan perempuan dalam dunia Arab kuno.

Al-Qur’an menggambarkan bagaimana ia menerima surat diplomatik dari Nabi Sulaiman yang memintanya tunduk kepada Allah. Surat itu dibuka dengan kalimat yang lugas: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, janganlah kamu berlaku sombong terhadapku, dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri” (QS. an-Naml: 30-31). Sebagai pemimpin yang bijak, Balqis menggelar musyawarah dengan para pembesarnya. Ia menolak gegabah, tidak serta-merta mengobarkan perang, melainkan memilih jalan diplomasi.

Peneliti sejarah peradaban Islam, Prof. Mahmoud Ayoub, dalam The Qur'an and Its Interpreters (1984), menekankan bahwa keputusan Balqis untuk mendatangi Sulaiman bukanlah tanda kelemahan, melainkan strategi politik untuk menghindari kehancuran negerinya. Dalam perspektif ini, kepemimpinan perempuan hadir bukan sebagai penyimpangan, tetapi sebagai bukti kapasitas intelektual dan keberanian mengambil keputusan strategis.

Baca juga: Kisah Rebutan Tahta di Kerajaan Daud, Kakak Nabi Sulaiman Melakukan Kudeta

Perempuan dan Spiritualitas pada Masa Para Nabi

Kisah Balqis memberi pesan bahwa perempuan bukanlah figur pasif dalam sejarah wahyu. Dalam konteks spiritualitas, ia bukan hanya penguasa duniawi, tetapi juga sosok yang akhirnya memilih iman secara sadar, bukan karena paksaan. Tafsir al-Qurthubi mencatat bahwa Balqis memeluk Islam setelah meyakini kebenaran risalah, bukan karena kalah secara militer.

Bandingkan dengan era Nabi Muhammad. Al-Qur’an mengabadikan kisah seorang perempuan yang mengajukan gugatan terhadap suaminya, sebagaimana tercatat dalam surah al-Mujadilah: 1: “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang memajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya...” Ayat ini turun terkait Khawlah binti Tha’labah, yang mengadu kepada Rasul tentang praktik zihar—sebuah tradisi jahiliah yang merugikan perempuan.

Di sini terlihat kesinambungan: baik di masa Sulaiman maupun Muhammad, perempuan hadir dalam ruang publik, baik sebagai pemimpin kerajaan maupun penggugat aturan patriarkis. Tafsir kontemporer seperti karya Amina Wadud dalam Qur’an and Woman (1999) menekankan bahwa kisah-kisah ini membuktikan keberadaan perempuan sebagai subjek aktif dalam sejarah wahyu, bukan sekadar pelengkap.

Baca juga: Surat An-Naml Ayat 19: Doa Nabi Sulaiman yang Diabadikan Dalam Al-Qur'an

Meski demikian, tafsir klasik sering memosisikan Balqis sebagai contoh kelemahan perempuan yang tidak pantas memimpin. Sebagian mufasir mengutip hadis yang berbunyi, “Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada perempuan.” Namun, para sarjana modern menilai hadis ini harus dipahami dalam konteks sosial saat itu, bukan sebagai larangan mutlak.

Profesor Asma Barlas dalam Believing Women in Islam (2002) mengkritik cara pandang patriarkis yang mengabaikan fakta bahwa Al-Qur’an tidak melarang kepemimpinan perempuan. Kisah Balqis justru menunjukkan bahwa wahyu memberi ruang bagi negosiasi, akal sehat, dan kebijaksanaan perempuan.

Makna Bagi Zaman Modern

Hari ini, perdebatan tentang kepemimpinan perempuan masih terus bergulir, dari politik hingga agama. Padahal, Al-Qur’an merekam Balqis bukan sebagai figur inferior, melainkan pemimpin yang rasional, diplomatis, dan akhirnya beriman. Kisah ini bukan hanya sejarah, tetapi pelajaran bahwa spiritualitas dan kekuasaan bisa berpadu tanpa menegasikan identitas gender.

Balqis tetap abadi, bukan karena ia kalah, melainkan karena ia memilih jalan damai. Dan dari lantai kaca istana Sulaiman, dunia belajar bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam membangun peradaban.

Baca juga: Kisah Ratu Balgis Tunduk kepada Nabi Sulaiman

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 26 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)