LANGIT7.ID-
Orientalis William Montgomery Watt menyebut penduduk
Makkah berkesempatan belajar tentang Kekristenan yang terbatas, sebelum Nabi Muhammad menjadi Rasul. Nabi Muhammad sendiri berkesempatan mengenal Kristen saat melakukan perjalanan dagangnya ke Suriah. Bahkan sebagaimana yang dilakukan sendiri oleh Muhammad, akan tetapi tidak banyak berpartisipasi dalam diskusi-diskusi keagamaan dengan orang-orang Kristen atau Nasrani.
Dalam bukunya berjudul "
Titik Temu Islam dan Kristen, Persepsi dan Salah Persepsi" (Gaya Media Pratama Jakarta, 1996), William Montgomery Watt mengatakan, sebagian kecil masyarakat Makkah adalah para penghuni asing yang tidak tetap (atau masyarakat yang berpindah-pindah). Sekalipun demikian, dalam ayat-ayat Al-Qur’an terdahulu ada beberapa petunjuk yang amat bersahabat tentang umat Kristen (Nasrani).
"
Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Sabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian, dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula bersedih hati." (Q.S. Al-Baqarah: 62).
Pengakuan kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai golongan orang-orang yang beriman kepada Allah adalah sesuai dengan jaminan yang diberikan oleh Waraqah, saudara sepupu Khadijah, istri Nabi Muhammad SAW, bahwa wahyu-wahyu yang akan beliau terima itu dapat diperbandingkan dengan wahyu-wahyu yang diterima oleh Nabi Musa.
Baca juga: Persepsi Al-Qur'an tentang Yahudi Menurut Montgomery Watt Segera setelah Hijrah ke Madinah, Nabi Muhammad SAW menerima wahyu berkenaan dengan kesulitan yang dialami beliau terhadap orang-orang Yahudi di Madinah yang tengah bermusuhan dengan orang-orang Nasrani:
Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang beriman adalah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya kami ini orang Nasrani." Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka (orang-orang Nasrani itu) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, juga karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri. (Q.S. Al-Ma'idah: 82).
Penghargaan dan pujian yang diberikan kepada orang-orang Nasrani ini dapat mencerminkan kebaikan hati yang dahulu ditunjukkan kepada segolongan umat Islam di kekaisaran Nasrani Abyssinia (atau sekarang Ethiopia), ketika umat Islam melepaskan diri dari penyiksaan dan penganiayaan masyarakat Quraisy di Makkah.
Ayat di bawah ini lebih lanjut dapat menunjukkan kemurahan hati orang-orang Nasrani, namun demikian ayat ini juga tetap mengkritik tradisi monastik mereka:
"
Kemudian Kami iringkan di belakang mereka rasul-rasul Kami dan Kami iringkan pula Isa putra Maryam; dan Kami berikan kepadanya Injil dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang. Dan mereka mengada-adakan rahbaniyah (tradisi monastik yang membujang dan mengurung diri di dalam biara), padahal Kami tidak mewajibkan kepada mereka tetapi mereka sendirilah yang mengada-adakan untuk mencari keridaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan semestinya. Maka Kami berikan kepada orang-orang beriman di antara mereka pahalanya, dan banyak di antara mereka orang-orang fasik" (Q.S. Al-Hadid: 27).
Baca juga: Persepsi Al-Quran tentang Kristen Menurut William Montgomery Watt Ayat berikut ini rupanya menunjukkan kesadaran akan perpecahan dan perselisihan di antara orang-orang Nasrani, meskipun menurut pemikiran dapat menunjukkan perselisihan antara orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani. Perjanjian itu dapat menjadi perjanjian atau pernyataan baru sebagaimana dipahami oleh orang-orang Nasrani pertama:
"
Dan di antara orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya kami ini orang-orang Nasrani," ada yang telah Kami ambil perjanjian mereka, tetapi mereka sengaja melupakan sebagian dari apa yang telah mereka diberi peringatan dengannya; maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat. Dan kelak Allah akan memberikan kepada mereka apa yang selalu mereka kerjakan. (Q.S. Al-Ma'idah: 14).
Argumen-argumen yang ditunjukkan pada ayat di bawah ini di antara orang-orang Yahudi dan Nasrani:
"Dan orang-orang Yahudi berkata: "Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan," dan orang-orang Nasrani berkata: "Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan," padahal mereka sama-sama membaca Al-Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui mengatakan seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili di antara mereka pada hari kiamat, tentang apa-apa yang mereka perselisihkan itu. (Q.S. Al-Baqarah: 113).
Ayat di atas menyebutkan bahwa tuduhan-tuduhan satu sama lain antara orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani menyebabkan mereka saling meniadakan pihak lain.
Kecaman orang-orang Yahudi dan Nasrani satu sama lain di atas benar-benar membuktikan bahwa mereka sama-sama tidak mengakui kenabian Muhammad SAW, meskipun masing-masing tetap mempertahankan kebenaran mereka secara eksklusif, sebagaimana dijelaskan pada ayat berikut ini:
Dan mereka berkata: "Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk." Katakanlah: "Tidak, bahkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah Ibrahim itu dari golongan orang musyrik." (Q.S. Al-Baqarah: 135).
Baca juga: Kristen Dipertemukan Islam, Montgomery Watt: Kristen Dulu Sungguh Amat Berbeda Bahkan dikatakan bahwa Ibrahim dan keturunan-keturunannya langsung itu bukan orang-orang Yahudi ataupun orang-orang Nasrani.
Ada yang perlu dicatat bahwa tak dapat disangkal Nabi Ibrahim AS dan lainnya adalah “petunjuk” dan tidak mungkin mengakui petunjuk ini sebagai orang Yahudi atau orang Nasrani; tentu saja ini secara implisit harus ada sumber petunjuk yang lain. (Ibrahim dalam pandangan Islam adalah seorang nabi/rasul, yang dengan sendirinya menerima dan mengakui petunjuk).
Kata "hanif" yang dipergunakan di dalam Al-Qur’an menunjukkan seorang monoteis yang bukan Yahudi atau Nasrani, dan kata ini hanya digunakan untuk agama Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad SAW beserta pengikut-pengikut beliau. Sebagian apologetika Al-Qur’an ada yang menentang agama-agama yang lebih tua dan lebih dahulu hadirnya di muka bumi ini.
Para ulama Muslim terdahulu menyebutkan sebagian kecil manusia yang menganggap rendah Muhammad, mereka katakan menjadi orang-orang yang "hanif" terhadap para pengikut Ibrahim dan Muhammad ini. Namun demikian, tidak ada bukti yang menunjukkan sebutan orang-orang "hanif" itu adalah kata itu sendiri, sungguhpun penjelasan demikian diberlakukan.
Dalam syair Jahiliyah dan dalam bahasa Nasrani, kata "hanif" ini berarti kafir atau penyembah berhala dikarenakan tidak mengikuti agama Nasrani itu.
Baca juga: Pemerintahan dan Masyarakat Islam Menurut John Louis Esposito PendetaWilliam Montgomery Watt adalah cendekiawan kelahiran Edinburgh pada 14 Maret 1909 dan meninggal 24 Oktober 2006 ini adalah seorang profesor Studi-studi Arab dan Islam pada Universitas Edinburgh antara tahun 1964-1979.
Ia juga merupakan visiting professor pada Universitas Toronto, College de France, Paris, dan Universitas Georgetown; serta menerima gelar kehormatan Doctor of Divinity dari Universitas Aberdeen.
Dalam hal kerohanian, Montgomery Watt adalah pendeta (reverend) pada Gereja Episkopal Skotlandia, dan pernah menjadi spesialis bahasa bagi Uskup Yerusalem antara tahun 1943-1946. Ia menjadi anggota gerakan ekumenisme "Iona Community" di Skotlandia pada 1960. Beberapa media massa Islam pernah menjulukinya sebagai "Orientalis Terakhir".
(mif)