LANGIT7.ID-
William Montgomery Watt adalah pakar studi-studi keislaman dari Britania Raya, salah seorang
orientalis dan sejarawan utama tentang Islam di dunia Barat.
Cendekiawan kelahiran Edinburgh pada 14 Maret 1909 dan meninggal 24 Oktober 2006 ini adalah seorang profesor Studi-studi Arab dan Islam pada Universitas Edinburgh antara tahun 1964-1979.
Ia juga merupakan visiting professor pada Universitas Toronto, College de France, Paris, dan Universitas Georgetown; serta menerima gelar kehormatan Doctor of Divinity dari Universitas Aberdeen.
Dalam hal kerohanian, Montgomery Watt adalah pendeta (reverend) pada Gereja Episkopal Skotlandia, dan pernah menjadi spesialis bahasa bagi Uskup Yerusalem antara tahun 1943-1946. Ia menjadi anggota gerakan ekumenisme "Iona Community" di Skotlandia pada 1960. Beberapa media massa Islam pernah menjulukinya sebagai "Orientalis Terakhir".
Baca juga: Nabi Muhammad di Mata Orientalis John L. Esposito: Islam Bukan Agama Baru Dalam bukunya yang diterjemahkan Zaimudin berjudul "
Titik Temu Islam dan Kristen, Persepsi dan Salah Persepsi" (Gaya Media Pratama Jakarta, 1996) ia antara lain bicara tentang Kristen dipertemukan dengan Islam.
Menurutnya, ketika kita mulai berpikir tentang Kristen yang diketemukan oleh Nabi Muhammad SAW dan kaum muslimin awal, dapat dikatakan bahwa Kristen pada masa itu memang sungguh amat berbeda dengan Kristen yang kita kenal hari ini.
"Sekitar tahun 600 Masehi, ada sekelompok khusus umat Kristen yang melembagakan Gereja Besar, yang belakangan terpisah dan kini terpecah menjadi Gereja Katolik Roma, Gereja Ortodoks Timur, dan Gereja Protestan," ujarnya.
Namun ada pula segolongan umat Kristen penting yang telah keluar dari Gereja Besar itu seperti golongan heretik (bid'ah). Yang disebut terakhir ini seringkali dikenal sebagai golongan Monofisit (golongan Yakobit dan Copt) dan golongan Nestorian.
Watt mengatakan sebagian terbesar umat Kristen Mesir, Palestina, Syria dan Irak --wilayah-wilayah negeri yang dipimpin oleh umat Islam-- yang kemungkinan besar mempunyai golongan-golongan heretikal (bid'ah) itu.
"Golongan-golongan bid'ah ini sebagian besar terdiri dari umat Kristen yang berada di Arabia sendiri," katanya.
Berbagai Perbedaan KebudayaanWatt mengetakan perbedaan keagamaan antara ortodoksi dan heresi amat dekat bertalian dengan perbedaan etnik ataupun mungkin lebih bertalian dengan perbedaan-perbedaan kebudayaan.
Gereja Besar yang secara akrab diasosiasikan dengan kelompok-kelompok yang berkuasa di Byzantine atau Kekaisaran Roma Timur, dan yang secara esensial di Byzantine atau Kekaisaran Roma Timur, dan yang pada hakikatnya adalah berkebudayaan Yunani.
Baca juga: John Louis Esposito: Hal yang Dominan untuk Mendefinisikan Agama adalah Hukum, bukan Teologi Golongan Heresy-Monofisit, di pihak lain, menjadi fokus perasaan anti-Yunani di antara bangsa Mesir, pribumi dan Kopti serta di antara bangsa Yakobit Syria, yang terkadang dilukiskan sebagai bangsa Syria Barat.
Golongan heresy Nestorian telah memainkan peranan yang sama bagi orang-orang yang acapkali disebut sebagai bangsa Syria Timur, dan bertentangan dengan pemikiran Yunani yang menyebabkan mereka keluar dari Kekaisaran Byzantine.
Semenjak tahun 600 Masehi mereka membangun pusat kegiatannya yang utama di Iraq pada Kekaisaran Sassanian (Persia). Gereja Besar ini juga meliputi umat Kristen Eropa Barat, yang secara mendasar memiliki kebudayaan Latin dan yang pada tahun 600 Masehi mereka terpecah belah menjadi berbagai macam ajaran Prankish dan kerajaan-kerajaan kecil yang lain. Namun semenjak awal abad ke tujuh bangsa Arab tidak mempunyai kontak lagi dengan mereka.
Pada konsili ekumenikal Gereja (misalnya Konsili Nicaea pada tahun 325 Masehi dan Konsili Chalcedon pada tahun 451 Masehi) kultur uskup-uskup Gereja telah memainkan peranan yang dominan.
Rumusan-rumusan Trinitas dan ajaran Kristologi secara resmi diterima oleh konsili tersebut, yang secara luas pada terma-terma khas filsafat Yunani, yang lalu belakangan pada terma-terma khas Kekaisaran Byzantine.
Kultur uskup-uskup Latin pada umumnya kurang berpikir falsafi ketimbang bangsa Yunani melainkan menyetujui rumusan-rumusan Yunani. Kendatipun demikian, barangkali ada catatan penting yang bermanfaat sehingga terma-terma Latin untuk ajaran trinitas (satu substantia, tiga personae) diakui sebagai equivalen dengan bahasa filsafat Yunani (satu ousia, tiga hypostaseis), walaupun terma itu tidak identik benar, karena kata substantia secara etimologis berkorespondensi dengan kata hypostaseis.
Baca juga: Kisah Sufi: Tiga Cincin Permata Merujuk pada Yahudi, Kristen, dan Islam Uskup-uskup mewakili masyarakat Mesir serta masyarakat Syria Timur dan Syria Barat untuk menolak rumusan Yunani dan mengadopsi berbagai alternatif. Akibatnya mereka keluar dari Gereja Besar dan pada kasus golongan Nestorian, mereka keluar dari kekaisaran Kristen.
Sebagian bangsa manusia dewasa ini, ketika mereka memperhatikan diskusi-diskusi doktrinal secara terinci tentang Trinitas dan pribadi Kristus.
Mereka mempunyai kesan berada pada labirin abstraksi-abstraksi, yang mempunyai relevansi dengan kehidupan aktual Kristen yang kelihatannya keras.
(mif)