LANGIT7.ID-Wafatnya
Nabi Muhammad SAW menimbulkan krisis kepemimpinan dalam masyarakat Islam, yang kemudian melahirkan institusi kekhalifahan. Situasi ini menjadi awal mula munculnya dua golongan besar dalam Islam:
Sunni dan
Syi’ah.
Setelah Nabi Muhammad wafat, umat Islam menghadapi persoalan tentang siapa yang akan menjadi penggantinya. Muncul dua pandangan utama. Mayoritas masyarakat meyakini bahwa Muhammad tidak menunjuk seorang pengganti secara eksplisit, sehingga pemilihan
khalifah diserahkan kepada para sahabat senior.
"Dalam pandangan ini, khalifah adalah pemimpin politik umat Islam, namun tidak mengklaim diri sebagai rasul," tulis
John L. Esposito dalam bukunya berjudul "
The Islamic Threat: Myth or reality?" yang dalam edisi Indonesia menjadi "
Ancaman Islam Mitos atau Realitas" (Mizan).
Di sisi lain, terdapat kelompok yang meyakini bahwa Muhammad telah menunjuk Ali — sepupu sekaligus menantu beliau — sebagai pengganti. Bagi kelompok ini, yang kemudian dikenal sebagai Syi’ah (pengikut Ali), kepemimpinan umat Islam harus berada di tangan keluarga Nabi.
Ali dan keturunannya dipandang sebagai pemimpin politik sekaligus agama (Imam). Meskipun bukan nabi, Imam dalam pandangan Syi’ah memiliki status khusus sebagai pemimpin yang maksum (terjaga dari kesalahan) dan bertindak atas dasar agama.
Pandangan mayoritas Sunni kemudian menjadi dominan. Masyarakat Islam dipimpin oleh negara kekhalifahan, yang lama-kelamaan berubah menjadi kekhalifahan dinasti dan kekaisaran.
Enam abad pertama sejarah Islam dapat dibagi ke dalam tiga periode utama:
1. Empat Khalifah Rasyidin (632–661) di Madinah, yang masih memiliki kedekatan langsung dengan masa Nabi Muhammad. Pemerintahan mereka dianggap sebagai masa normatif dan ideal dalam Islam.
2. Kekhalifahan Umayyah (661–750) yang berpusat di Damaskus.
3. Kekhalifahan Abbasiyah (750–1258) yang berpusat di Baghdad.
Pandangan dunia yang berkembang pada masa kekhalifahan sangat dipengaruhi oleh ajaran agama. Meskipun para penguasa bergantung pada kekuatan militer, Islam memberikan kerangka ideologis bagi negara dan masyarakat. Islam menjadi sumber legitimasi dan otoritas kekuasaan.
Apa pun bentuk pemerintahan dan cara berkuasanya, semua penguasa berusaha mendapatkan legitimasi sebagai penerus Nabi, dengan gelar Pemimpin Kaum Mukminin. Tugas utama mereka adalah melindungi agama, menyebarkannya, dan mengatur masyarakat berdasarkan hukum Tuhan.
Dunia dibagi ke dalam dua wilayah utama:
-
Dar al-Islam (Wilayah Islam): Negara perdamaian.
-
Dar al-Harb (Wilayah Non-Islam): Negara peperangan.
Status kewarganegaraan, pajak, serta urusan perang dan damai ditentukan berdasarkan prinsip-prinsip agama. Kaum Muslim adalah warga negara penuh dan membayar zakat, sedangkan orang Yahudi dan Kristen (Ahlul Kitab) dianggap sebagai "kaum yang dilindungi" (dzimmi), yang dikenakan pajak kepala (jizyah) sebagai imbalan atas perlindungan militer yang diberikan oleh negara Islam.
Profesor AgamaJohn Louis Esposito adalah seorang akademisi Amerika, profesor dari Timur Tengah dan studi agama, dan sarjana dari studi Islam.
Orientalis kelahiran 19 Mei 1940 ini menjabat sebagai Profesor Agama, Urusan Internasional, dan Kajian Islam di Georgetown University di Washington, DC. Dia juga direktur pendiri Pusat Pangeran Alwaleed untuk Pemahaman Muslim–Kristen di Georgetown.
John Louis Esposito dikenal sebagai seorang pengamat Islam atau ―Islamisis yang netral dan relatif proporsional- sebagai pembedaan dengan Orientalis- terkemuka di Barat.
Esposito juga dikenal sebagai salah seorang cendekiawan yang sangat aktif menyuarakan dialog peradaban, dialog antarumat beragama, terutama antara Islam dan Kristen.
Ia juga dikenal sebagai penulis yang sangat produktif sekaligus kritis terhadap kajian yang dilakukan oleh para pakar Islam di Barat dan telah melahirkan puluhan karya baik dalam bentuk buku, ratusan artikel, penelitian tentang Islam yang menjadi referensi penting bagi sarjana Muslim dan Barat pada umumnya.
Beberapa karya terpenting Esposito adalah buku The Islamic Threat: Myth or Reality, Dalam buku ini, Esposito mengambil sikap yang berbeda dengan pakar keislaman di Barat dalam melihat kebangkitan Islam dan membantah teori para pakar Islam di Barat yang menyatakan Islam sebagai ancaman baru pasca tumbangnya komunisme yang dibesar-besarkan para pakar dan dilestarikan oleh media-media di Barat.
Karya terpenting lainnya adalah, Islam: The Straight Path, Unholy War: Terror in the Name of Islam dan The Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic World.
Posisi Esposito seringkali diterjemahkan berbagai kalangan sebagai juru bicara Islam dan Barat mengajak untuk selalu bekerja sama dan tidak tenggelam dalam konflik peradaban.
Oleh karena itu, menurut Esposito bahwa saat ini perjumpaan Islam dan Barat harus dimaknai membangun dialog peradaban, bukan konfrontasi atau saling curiga.
(mif)