Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 20 April 2026
home masjid detail berita

Zaid bin Amr: Sepupu Umar bin Khattab yang Bertauhid sebelum Datangnya Islam

miftah yusufpati Senin, 23 Juni 2025 - 04:30 WIB
Zaid bin Amr: Sepupu Umar bin Khattab  yang Bertauhid sebelum Datangnya Islam
Dalam sunyi langkahnya, ia menjadi poros yang tak kasat mata bagi peradaban tauhid. Ilustasi: AI
LANGIT7.ID- Makkah, masa jahiliah. Pasar Ukaz belum pernah seramai ini. Di tengah keramaian transaksi dan pujian-pujian untuk berhala, terdengar suara sorak kagum. “Demi Lata dan Uzza! Lihatlah kepiawaiannya menunggang kuda!” seru seorang pemuda Quraisy dengan mata berbinar. Umar bin Khattab, namanya.

Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Sejarah Hidup Muhammad" menceritakan belum sempat kekaguman itu mendarah, sebuah kalimat mengejutkan menyusup dari rekannya. Kalimat yang menyebut nama Zaid bin Amr bin Nufail, sepupu Umar yang tersohor bukan karena kehebatan berperang, tapi karena keberaniannya menolak menyembah berhala.

“Semoga Uzza mengampuni sepupumu Zaid,” ejek si rekan, mengutip salah satu syair Zaid. Umar terdiam sejenak. Lalu wajahnya mengeras, menegang oleh kemarahan. “Celaka dia! Dia sudah ingkar!”

Namun sejarah berkata lain. Justru Zaid-lah yang mengarungi padang keimanan lebih dulu, jauh sebelum kenabian Muhammad dinyatakan. Ia tidak masuk Yahudi, tak pula Nasrani. Ia seorang hanif, pengikut keyakinan Nabi Ibrahim yang menolak menyekutukan Allah. Ia tak sembah Lata, tak sujud pada Uzza. Tak sudi memakan hewan yang disembelih untuk berhala.

Zaid hidup seolah dalam kekosongan agama, tapi justru dari kekosongan itulah ia mencari kebenaran. Di sebuah malam, di depan Kakbah, ia berseru, “Ya Allah! Sekiranya aku tahu cara menyembah-Mu yang paling Engkau sukai, niscaya aku akan melakukannya.” Kalimat seorang pencari yang tak menemukan kitab, tak beroleh nabi, tapi berserah dengan hati yang penuh iman.

Kekasih Tuhan Sebelum Risalah Turun

Zaid bukan hanya pemuja kebenaran. Ia juga pelindung kemanusiaan di zaman yang mencabik-cabik nilai hidup. Kala bayi perempuan dikubur hidup-hidup demi harga diri kabilah, Zaid berdiri di tengah padang itu sebagai pagar kehidupan. “Jangan bunuh anak itu. Serahkan padaku. Aku akan mengasuhnya,” katanya. Ia beri tempat, ia beri masa depan.

Keengganannya terhadap politeisme membuatnya dikucilkan. Ayah Umar sendiri, Khattab bin Nufail, yang masih memegang erat ajaran pagan, mengusir Zaid dari Makkah. Ia hidup sembunyi-sembunyi, tak bisa menjejak kota kelahiran sendiri tanpa ancaman kekerasan. Namun semangatnya tak surut.

Ia tinggalkan Makkah. Ia mendaki Syam, menyusuri Mosul, menjumpai para rahib dan pendeta. Ia bertanya tentang agama Ibrahim, dan setiap rahib menjawab, “Ia akan datang. Ini adalah zaman kemunculannya.”

Kepada sahabatnya, ‘Amir bin Rabi’ah, Zaid pernah berkata, “Aku menanti seorang nabi dari keturunan Ismail. Namanya Ahmad. Aku percaya padanya meski belum berjumpa.” Ia titip salam. Ia titip kesaksian. Dan bertahun-tahun kemudian, ketika ‘Amir menyampaikan salam itu kepada Rasulullah, air mata spiritual menetes dari langit. Nabi membalas salamnya. “Semoga Allah merahmatinya.”

Dari Aisyah kita tahu, Rasulullah melihat Zaid di surga. “Ia berdiri sendiri sebagai umat tersendiri di Hari Kiamat,” sabda Nabi. Karena memang sepanjang hidupnya, Zaid adalah umat yang sendiri. Tanpa nabi, tanpa kitab, tanpa umat. Tapi bertuhan.

Syair-syairnya lebih dari kata. Ia menggugat, mengisyaratkan hati yang tidak bisa tunduk pada batu, pada kayu, pada dewa-dewa buatan tangan manusia:

Apakah Rabb yang Esa ataukah seribu tuhan
Yang ‘kan kusembah ketika engkau membagi-bagi jatah?
Kutinggalkan Lata dan ‘Uzza seluruhnya
Demikianlah yang dilakukan si orang yang amat sabar…

Zaid bin Amr adalah siluet. Ia tak menyaksikan wahyu turun, tapi ia memberi tapak bagi cahaya itu. Ia tak masuk Islam secara formal, tapi ia adalah cermin fitrah. Ia adalah bukti bahwa kebenaran bisa ditemukan meski jalan belum ditunjukkan. Ia bukan Nabi, bukan sahabat Nabi, tapi ia guru sunyi sebelum kerasulan tiba.

Di sebuah tenda di surga, Rasulullah melihatnya berdiri. Sendiri. Seperti selama hidupnya.

Dan sejarah mengukir namanya—bukan sebagai penyair, bukan sebagai pendakwah—tetapi sebagai pencari. Dan pencari sejati, dalam terang wahyu, tak pernah sia-sia.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 20 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)