Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 10 Februari 2026
home masjid detail berita

Evolusi Puasa dari Meja Kaffarat ke Tradisi Nasrani

miftah yusufpati Jum'at, 06 Februari 2026 - 05:15 WIB
Evolusi Puasa dari Meja Kaffarat ke Tradisi Nasrani
Puasa dalam tradisi Nasrani adalah bagian dari rantai panjang perintah langit yang terus mengalami penyesuaian. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Dalam bentang sejarah agama samawi, tradisi menahan diri kaum Nasrani merupakan sebuah jembatan yang menghubungkan syariat lama dengan praktik pengabdian yang baru. Sebagaimana para pendahulunya, fondasi spiritualitas ini diletakkan oleh figur sentral mereka, Isa Alaihissallam. Beliau tercatat melakukan laku asketis yang berat dengan berpuasa selama empat puluh hari sebagai persiapan spiritual sebelum mengemban tugas kerasulan.

Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad ath-Thayyar dalam kitab Ash-Shiyaam, Ahkaam wa Aa-daab, menyoroti bahwa pada awalnya Isa Alaihissallam tetap menjalankan puasa pada hari kaffarat, sebuah hari penebusan yang telah ditetapkan dalam syariat Musa Alaihissallam. Ini menunjukkan adanya kesinambungan garis kenabian yang tidak terputus. Namun, seiring waktu, kaum Nasrani mengembangkan cara-cara tertentu dalam menjalankan ibadah ini.

Satu ciri khas yang menonjol dalam tradisi mereka adalah pantangan terhadap makanan yang memiliki roh, seperti daging hewan ternak. Puasa bagi mayoritas kaum Nasrani bertransformasi menjadi bentuk pengekangan diri dari jenis makanan tertentu pada waktu-waktu khusus setiap tahunnya. Ini merupakan sebuah pergeseran dari makna lapar total menuju diet spiritual yang bertujuan untuk memurnikan jiwa dari nafsu hewani.

Al-Allamah Ibnu Katsir memberikan catatan penting mengenai durasi puasa pada umat-umat terdahulu ini. Berdasarkan beberapa atsar dari para sahabat, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Sebagian meyakini bahwa kewajiban puasa bagi umat sebelum Islam adalah satu bulan penuh, sementara sebagian lainnya menyebutkan cukup tiga hari dalam setiap bulan. Silang pendapat ini menunjukkan betapa puasa telah menjadi identitas universal bagi kaum beriman, meski teknis pelaksanaannya beragam.

Lebih jauh, Imam Ibnul Qayyim membedah evolusi puasa ini dalam tiga tahapan krusial. Tahap pertama adalah puasa sebagai pilihan atau opsional. Tahap kedua merupakan fase yang cukup berat, di mana puasa telah diwajibkan, namun ada aturan tambahan: jika seseorang tertidur sebelum sempat berbuka, maka ia haram menyentuh makanan dan minuman hingga malam berikutnya. Aturan ketat ini akhirnya dihapuskan dan masuk ke tahap ketiga, yakni syariat puasa yang stabil dan berlaku hingga akhir zaman.

Paparan ini menegaskan bahwa puasa dalam tradisi Nasrani adalah bagian dari rantai panjang perintah langit yang terus mengalami penyesuaian. Ia bukan sekadar tradisi tanpa akar, melainkan hasil dari dialektika antara keteladanan nabi dan kebutuhan ruhani manusia untuk senantiasa merasa diawasi oleh Sang Pencipta.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 10 Februari 2026
Imsak
04:29
Shubuh
04:39
Dhuhur
12:10
Ashar
15:26
Maghrib
18:20
Isya
19:31
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan