Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 01 Mei 2026
home masjid detail berita

Bahasa yang Tak Tersentuh: Saat Leiden Gagal Membaca Islam Nusantara

miftah yusufpati Selasa, 14 Oktober 2025 - 05:45 WIB
Bahasa yang Tak Tersentuh: Saat Leiden Gagal Membaca Islam Nusantara
Dari Leiden hingga Batavia, para sarjana Belanda mencoba memahami Islam lewat kamus dan Injil. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Di antara barang rampasan dari Timur, para pegawai dan pendeta VOC kadang membawa sesuatu yang lebih rapuh daripada rempah: naskah-naskah keagamaan. Ada fragmen Al-Qur’an, Burdah karya al-Busiri, Idah fi al-fiqh, dan ‘Aqa’id karya al-Nasafi. Tapi di tangan mereka, teks-teks itu sering jatuh dalam kebingungan dan salah tafsir.

Salah satunya menimpa sebuah manuskrip lontar yang dibawa ke Belanda pada awal abad ke-17. Naskah itu, yang berisi ajaran-ajaran Islam dari “Seh Bari”, diserahkan kepada Bonaventura Vulcanius, guru besar bahasa Yunani di Universitas Leiden. Ia menganggapnya teks Jepang. Butuh berabad-abad sebelum para akademisi sadar bahwa yang mereka simpan adalah warisan intelektual Islam Nusantara.

“Sebagian besar naskah dari Hindia dikelompokkan ke dalam kategori ‘terlalu kabur untuk dipecahkan’,” tulis Michael Laffan dalam Sejarah Islam di Nusantara. Sebuah traktat sufi yang sudah diketahui berbahasa Jawa sejak 1597 baru diterbitkan secara ilmiah hampir tiga abad kemudian, pada 1881.

Bahasa yang Tak Dikenal

Ketika VOC berkuasa, para cendekiawan Leiden haus akan teks, tapi tidak punya ahli bahasa yang benar-benar paham dunia timur. Erpenius dan Golius, dua profesor besar Arab di Leiden, meminjam manuskrip Melayu dan Jawa, tetapi banyak yang hanya menjadi koleksi pajangan. Beberapa naskah bahkan dijual ke kolektor bangsawan Inggris.

Pada 1613, seorang Morisco bernama Ahmad bin Qasim al-Hajari—muslim Spanyol yang terpaksa berpindah agama—datang ke Leiden. Dialah yang mengenali risalah Arab tentang sufisme yang dibawa dari Hindia. “Bahwa bahasa Arab tingkat tinggi dikenal di Hindia tampaknya sama-sama mengejutkan bagi sang Morisco dan tuan rumahnya,” tulis Laffan.

VOC, yang semula datang untuk berdagang, kini dihadapkan pada kenyataan: di negeri yang hendak mereka kuasai, sudah hidup peradaban Islam dengan jaringan keilmuan yang luas. Namun alih-alih memahami, mereka justru berupaya menaklukkan.

Dari Kamus ke Injil

Frederick de Houtman, pelaut yang pernah ditawan di Aceh, menerjemahkan Cort Begrip, katekismus Calvinis, ke dalam Melayu pada 1608. Ia membuka sekolah-sekolah di Ambon dan memperkenalkan “bahasa penginjilan” baru. Namun upaya itu menimbulkan perdebatan di kalangan misionaris.

Caspar Wiltens dan Sebastiaan Danckaerts, dua penerusnya, mengembangkan kamus de Houtman dan menerbitkan ribuan salinan katekismus dalam Melayu atas perintah Majelis Amsterdam pada 1623. Mereka percaya bahasa adalah senjata iman. Tapi di lapangan, situasi tak sesederhana itu.

Surat-surat dari Ambon menggambarkan “keramahtamahan terhadap para paus Moor”—sebutan mereka untuk ulama Banda—yang mendirikan sekolah-sekolah dan masjid. Gubernur Herman van Speult memerintahkan pembakaran masjid dan mengancam penduduk yang “bernama Kristen tetapi berhati Moor”.

Namun di balik kekerasan itu, ada tanda-tanda frustrasi. Misionaris mengeluh tentang umat yang lebih tertarik bertanya soal Nabi Muhammad daripada mendengar kisah Yesus. “Mereka bertanya kapan Kristus datang, mengapa dia datang sebagai manusia,” tulis seorang pendeta Ambon pada 1622. Dan ketika para misionaris menyebut Muhammad “pemimpin pencuri dan pembunuh”, yang mereka tunjukkan lebih banyak prasangka daripada pengetahuan.

Kamus yang Salah Baca

Di Leiden, kesalahpahaman terhadap Islam berlanjut dalam bentuk yang lebih halus. Dalam kamus Melayu milik Golius, istilah hajj diterjemahkan sebagai “membaca sesuatu dari kitab suci dalam bahasa Arab”, bukan ibadah ke Mekah. Istilah a‘yan thabita (hakikat ketuhanan) dijelaskan sebagai “yang terlihat dan bisa didemonstrasikan”—terjemahan yang justru meniadakan makna spiritualnya.

Kebingungan ini, tulis Laffan, menunjukkan dua hal: pertama, betapa Belanda tak siap memahami elite Islam; kedua, betapa dalam Islamisasi telah berakar di Nusantara. Teks dianggap azimat, doa menjadi laku hidup, dan bahasa Arab bukan sekadar simbol, melainkan sarana berpikir.

Ilmu dan Kekuasaan

Pada 1622, Belanda mendirikan Collegium Indicum di Leiden, lembaga pelatihan bagi misionaris yang hendak dikirim ke Hindia. Justus Heurnius, dokter dan teolog, menulis bahwa “Tuhan telah menyingkapkan kekayaan Hindia bagi kita agar Kerajaan Kristus tersebar di Timur.” Ia sendiri berlayar ke Batavia, menerbitkan risalah-risalah Kristen dalam bahasa Melayu, dan membantu mencetak Injil Belanda-Melayu pada 1629.

Namun semangat misioner itu segera padam. Setelah hanya meluluskan dua lusin pengkhotbah, Collegium Indicum ditutup pada 1632. VOC yang semula ingin “membungkam kaum Moor dan Ateis” kembali ke watak aslinya: berdagang, bukan berdakwah.

Empat abad lalu, Belanda datang dengan niat memahami sekaligus menguasai. Tapi di antara kamus yang salah terjemah, surat misi yang tak dibalas, dan masjid yang dibakar, mereka menemukan sesuatu yang tak bisa dikuasai: keyakinan yang berakar dalam bahasa, budaya, dan hati.

Islam di Nusantara, seperti dicatat Michael Laffan, bukan sekadar ajaran, tapi sistem pengetahuan. Dan di hadapan sistem itu, para cendekiawan dan misionaris Belanda akhirnya menyerah—bukan karena kalah perang, tapi karena gagal memahami makna kata.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 01 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:50
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)