LANGIT7.ID – Di lorong-lorong Damaskus, Suriah, hingga kini makam seorang sufi agung tetap diziarahi. Nama lengkapnya: Muḥyī al-Dīn Muḥammad bin ʿAlī bin Muḥammad bin al-ʿArabi al-Ḥātimī al-Ṭāʾī — lebih dikenal dunia sebagai Ibnu ʿArabi. Bagi pengikutnya, ia Shaykh al-Akbar (Guru Terbesar); bagi pengkritiknya, ia kontroversial. Namun satu hal pasti: ia meninggalkan warisan intelektual yang membentuk wajah spiritualitas Islam lintas abad.
Ibnu ʿArabi lahir di Murcia, Andalusia (Spanyol Muslim) pada 1165 M, lalu besar di Sevilla. Andalusia kala itu bukan sekadar pusat kekuasaan, melainkan laboratorium ilmu: filsafat Ibn Rushd, puisi Ibn Hazm, hingga tafsir kalam. Dalam atmosfer itu, Ibnu ʿArabi menempuh jalan berbeda: jalan sufi.
Di usia muda, ia mengalami krisis spiritual yang membuatnya menolak karier politik keluarganya. Ia memilih berkelana: dari Maghrib ke Makkah, dari Baghdad hingga Damaskus. Perjalanan panjang ini melahirkan jaringan pengetahuan sekaligus jejaring murid dan simpatisan. William Chittick menyebut, “Ibnu ʿArabi menulis bukan dari ruang akademik, tetapi dari pengalaman mistik yang ia tafsirkan dalam bahasa filosofis.” (
The Sufi Path of Knowledge, 1989).
Baca juga: Ibnu Arabi: Antara Murcia, Makkah, dan Misteri Puisi yang Membelah Dunia Cinta sebagai Pusat KosmologiIbnu ʿArabi meletakkan cinta di pusat kosmos. Dalam
Futūḥāt al-Makkiyya (Penyingkapan Mekkah) dan
Fuṣūṣ al-Ḥikam (Permata Hikmah), ia menulis bahwa cinta adalah energi ilahi yang menjiwai penciptaan. “Aku mengikuti agama cinta,” tulisnya dalam salah satu bait syair yang termasyhur.
Annemarie Schimmel menilai, dalam pandangan Ibnu ʿArabi, cinta bukan sekadar emosi manusiawi, melainkan refleksi kasih Tuhan kepada makhluk-Nya (
Mystical Dimensions of Islam, 1975). Konsep ini membuat ajarannya lintas batas: dari tasawuf, teologi, hingga seni.
Konsep paling terkenal dari Ibnu ʿArabi adalah
wahdat al-wujūd* atau Kesatuan Wujud. Ajaran ini menyatakan bahwa realitas tunggal hanyalah Allah; segala sesuatu adalah manifestasi-Nya.
Namun istilah ini juga menuai perdebatan. Louis Massignon dalam
Essai sur les origines du lexique technique de la mystique musulmane (1922) menyebutnya “kunci sekaligus sumber polemik panjang.” Ulama seperti Ibn Taymiyyah mengkritiknya sebagai menyamarkan batas antara Khalik dan makhluk. Meski begitu, pengaruhnya tak terbendung: jaringan sufi dari Turki Utsmani hingga Asia Selatan menjadikan kerangka Ibnu ʿArabi sebagai fondasi ajaran.
Baca juga: Pesan Keadilan dalam Al-Qur'an menurut Ibnu Arabi Imajinasi Kreatif sebagai Jalan PengetahuanSalah satu kontribusi intelektualnya yang diapresiasi akademisi modern adalah konsep
alam al-khayal (alam imajinasi). Ibnu ʿArabi menegaskan bahwa imajinasi bukan khayalan kosong, melainkan medium pengetahuan: jembatan antara dunia nyata dan realitas ilahi.
Henry Corbin, orientalis Prancis, menafsirkan konsep ini sebagai “mundus imaginalis”—alam imajinal yang memungkinkan manusia berhubungan dengan makna transenden. (
Creative Imagination in the Sufism of Ibn Arabi, 1969). Melalui gagasan ini, Ibnu ʿArabi mempengaruhi filsafat, psikologi, hingga estetika kontemporer.
Namun tak semua orang memuja Ibnu ʿArabi. Kritik terhadapnya datang dari berbagai mazhab, menuduh gagasannya berbahaya atau terlalu berani. Tetapi bagi banyak komunitas sufi, ia adalah mercusuar.
Di Turki, tarekat Mevlevi dan Bektashi menjadikannya inspirasi. Di Asia Selatan, konsepnya mewarnai karya-karya puisi Jalaluddin Rumi dan Iqbal. Bahkan di Indonesia, tradisi tarekat seperti Shattariyah dan Naqsyabandiyah banyak merujuk pada warisan Ibnu ʿArabi. Azyumardi Azra mencatat, “Wacana tasawuf falsafi di Nusantara, termasuk pemikiran Hamzah Fansuri, tak bisa dilepaskan dari jejak Ibnu ʿArabi.” (
Jaringan Ulama, 2004).
Baca juga: Gagas Teori Wahdatul Wujud, Benarkah Ibnu Arabi Sesat? Ibnu ʿArabi wafat di Damaskus pada 1240 M. Namun, karya-karyanya — ribuan halaman yang ditulis dengan kedalaman sufistik — tetap jadi bahan telaah hingga hari ini. Dari filsuf Eropa modern hingga penyair Timur, semua menemukan resonansi dalam teksnya.
Bagi sebagian, ia adalah penggagas cinta kosmis. Bagi lainnya, ia adalah kontroversi yang tak pernah selesai. Tetapi satu hal jelas: Ibnu ʿArabi telah menorehkan peta spiritual yang tak lekang zaman.
(mif)