LANGIT7.ID - Ibnu Arabi merupakan ulama tasawuf yang menggagas teori wahdatul wujud. Namun, pemikiran itu kerap menuai penolakan, terutama dari sebagian fuqaha dan ahli hadits yang menyebut Ibnu Arabi sesat.
Wahdatul wujud dianggap condong pada pantheisme, salah satu penyebabnya adalah Ibnu Arabi banyak menggunakan bahasa simbolik yang sulit dipahami kalangan awam dalam karya-karyanya.
Bahkan tak sedikit yang menganggap Ibnu Arabi telah kufur. Misal Ibnu Taimiyah dan beberapa pengikutnya. Namun, Ibnu Taimiyah menerima pandangan Ibnu Arabi setelah bertemu dengan Ibnu Athaillah as-Sakandari asy-Syadzily di sebuah masjid di Kairo.
Ibnu Taimiyah lalu menjelaskan makna-makna metafora Ibnu Arab. “Kalau begitu yang sesat itu adalah pandangan pengikut Ibnu Arabi yang tidak memahami makna sebenarnya,” komentar Ibnu Taimiyah.
Baca Juga: Alasan Walisongo Dakwahkan Islam di Jawa Lewat Budaya
Ustadz Abdul Somad (UAS) menjelaskan, Imam As-Suyuthi juga menulis satu kitab khusus untuk membela Ibnu Arabi berjudul
Tanbih al-Ghabiyy fi Tibra’ati Ibnu ‘Arabi. Kita memberikan peringatan kepada orang-orang yang mengkafirkan Ibnu Arabi.
Wahdatul wujud Ibnu Arabi menekankan, semua wujud yang ada ini bergantung pada Tuhan yang bersifat wajib. Alam ini diibaratkan sebagai cermin yang di dalamnya terdapat bayangan Tuhan. Paham inilah yang dipandang sebagian kalangan sebagai paham yang sesat, karena mengidentikan alam dengan Tuhan.
“Ibnu Arabi tokoh kontroversial, tapi pemikirannya juga banyak disusupkan ke dalam buku-bukunya, dia mengatakan semuanya adalah Tuhan. Bukan begitu, maknanya adalah yang wujud hakiki adalah Allah Ta’ala, sedangkan kita ini wujud karena diwujudkan,” kata UAS dalam salah satu ceramahnya, dikutip Sabtu (3/9/2022).
UAS juga menjelaskan pandangan Ibnu Arabi tentang wahdatul syuhud. Pemikiran itu artinya orang yang menyaksikan dalam persaksiannya adalah dari kodrat dan iradat Allah. Menurutnya, tidak akan bergerak satu biji sawi pun kecuali digerakkan oleh Allah. Tidak gugur satu benda pun kecuali Allah mengetahuinya.
Baca Juga: Tepis Tuduhan NU Ahlul Bid'ah, UAS Teliti Kepakaran KH Hasyim Asy'ari di Bidang Hadits“Tapi ini tidak melegalisasi bahwa kita membenarkan. Jangan sampai nanti gara-gara pemahaman ini, bebas berzina karena beralasan sudah kudrat dan iradat Allah,” kata UAS.
UAS menegaskan, hakikat tanpa syariat itu bathil. Pengukur kedekatan seorang hamba kepada Allah adalah syariat, bukan hakikat. Jika menemukan orang mengaku-ngaku telah mencapai hakikat dan ma'rifat, maka lihat baik-baik syariatnya.
“Kalau kamu menemukan orang bisa terbang dan berjalan di air, maka jangan kau tertipu, karena setan pun bisa melakukan itu. Tapi pandanglah pada istiqomahnya. Satu istiqomah lebih baik daripada seribu karomah,” jelas UAS.
Mengenal Ibnu ArabiIbnu Arabi merupakan seorang ulama,penyair, cendekiawan, filsuf, dan sufi yang lahir pada 1165 M. Mengutip laman know history, kedalaman ilmu Ibnu Arabi sudah terlihat sejak dini. Dia sudah melakukan perjalanan menuntut ilmu ke berbagai dunia Islam semasa hidupnya.
Ibnu Arabi menulis lebih dari 350 karya termasuk
Fusus al-Hikam, sebuah interpretasi mendalam tentang kebijaksanaan batin para Nabi dalam garis Yahudi, Kristen & Islam. Dia juga menulis
Futuhat al-Makkiyya, sebuah ensiklopedia utama pengetahuan spiritual yang menggabungkan dan membedakan tiga untaian budaya, akal, dan pemahaman tasawuf.
Baca Juga: Hakikat Tasawuf dalam Islam, Satu Paket dengan Fikih dan Akidah
Dalam
Diwan dan
Tarjuman al-Asywaq, dia juga menulis puisi terindah dalam bahasa Arab. Teks-teks komprehensif ini memberikan ilustrasi indah tentang kesatuan dunia, satu kebenaran tak terpisahkan yang berjalan secara simultan dan tercermin dalam semua gambar dunia.
Ibnu Arabi menunjukkan, manusia dalam kesempurnaan adalah cerminan sempurna dari kebenaran. Manusia yang benar-benar mengetahui kepribadian esensial mereka, yakni mengenal Tuhan.
Berfokus pada Qur’an, karya Ibnu Arabi bersifat universal. Dia beranggapan bahwa setiap orang memiliki jalan kebenaran yang berbeda, mencakup semua jalan itu sendiri.
Dia sangat mempengaruhi perkembangan Islam sejak masanya, serta aspek-aspek penting dari filsafat dan sastra Barat. Dia memberi banyak pemahaman terkait banyak hal di dunia saat ini untuk memahami makna sifat manusia.
(jqf)