LANGIT7.ID, Jakarta - Ilmu tasawuf di tengah masyarakat sedikit asing ketimbang ilmu fikih. Padahal, dua bidang keilmuan ini saling terkait dalam kehidupan pribadi seorang muslim.
Dai kondang Ustadz Adi Hidayat (UAH) menjelaskan, kata tasawuf berasal dari kata shafa yang berarti bersih dan suci. Dia menganalogikan istilah tasawuf dengan penyaringan. Keadaan penyaringan itu disebut
shafa, kemudian hasil saringan itu disebut
shufi.
“
Shufi itu, sufi, adalah orang yang mengeluarkan yang buruk, lalu memasukkan yang baik. Proses penyaringan itu ditandai dengan huruf ta’. Kemudian jadilah tasawuf,” ucap UAH melalui
Akhyar TV, dikutip Kamis (24/3/2022).
Istilah tasawuf sebenarnya tidak dikenal pada masa kehidupan Nabi Muhammad SAW dan khulafaur Rasyidin. Istilah itu baru muncul ketika Abu Hasyim al-Kufy (w. 250 H) meletakkan kata al-Sufi di belakang namanya, pada abad ke-3 Hijriah.
Abu Bakar al-Kattani mengatakan, tasawuf adalah budi pekerti. Barangsiapa yang memberikan bekal budi pekerti atasmu, berarti ia memberikan bekal bagimu atas dirimu dalam tasawuf.
Baca juga: Yasin Ibn Isa al-Fadani, Ulama Indonesia yang MenduniaMuhammad Amin Kurdi mendefinisikan tasawuf sebagai “Suatu yang dengannya diketahui hal ihwal dan keburukan jiwa, cara membersihkannya dari yang tercela dan mengisinya dengan sifat-sifat terpuji, cara melaksanakan suluk dan perjalanan menuju keridhaan Allah dan meninggalkan larangannya.”
Dalil TasawufUstadz Abdul Somad (UAS) mengatakan, dalil utama tasawuf adalah Al-Qur’an dan hadits. Sebenarnya, Jika dirunut ke belakang dalam sejarah Islam, maka akidah, fikih, dan tasawuf termaktub dalam satu hadits.
Hadits tersebut termaktub dalam Hadits Arbain karya Imam Nawawi. Pada hadits kedua, disebutkan satu hadits panjang yang menjelaskan ketika Jibril menemui Rasulullah dan bertanya tentang Iman, Islam, dan Ihsan.
Pertanyaan dari Jibril itu dijawab oleh Nabi Muhammad dengan menjelaskan tiga istilah tersebut. Iman dijelaskan dalam disiplin ilmu akidah dan disebut juga dengan ilmu tawhid. Penjelasan tentang Islam berkaitan dengan fikih. Lalu, Ihsan masuk dalam ranah tasawuf.
“Merasakan diperhatikan oleh Allah, karena selalu membersihkan hati dari sifat buruk disebut tasawuf,” kata UAS melalui salah satu tausiahnya, dikutip Kamis (24/3/2022).
Baca juga: Tombo Ati, Intisari Al-Qur'an-Hadits Karya Sunan BonangCara membersihkan hati pun sudah terdapat tuntunannya. Ustadz Adi Hidayat menjelaskan, dalam membersihkan hati agar bisa menjadi sufi tak perlu berapa ke gunung atau pun menari-nari. Cukup beribadah, shalat, puasa, dan membaca Al-Qur’an.
“Kalau anda ingin bertasawuf, tidak perlu masuk jurusan, anda hanya beribadah dengan baik. Kalau anda ingin masuk jurusan, ambil jurusan syariat. Bagaimana Anda beribadah dengan baik. Pelajari ilmu fikih juga. Maka anda pun bertasawuf,” ucap UAH.
(jqf)