LANGIT7.ID, Jakarta - Pada 2005, Opick mendendangkan lagu Tombo Ati dan meledak di publik Indonesia. Lagu itu pun seolah menjadi lagu wajib pada bulan Ramadhan di sejumlah televisi.
Cak Nun dengan Kiai Kanjeng-nya juga mengembangkan lagu tersebut pada 1996. Lalu, lagu penuh nasihat yang populer di kalangan umat Islam ini kian popular setelah dinyanyikan dai kondang, Aa Gym.
Tembang Tombo Ati merupakan karya monumental Sunan Bonang, salah satu dari sembilan wali yang menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa. Sunan Bonang lahir pada 1465 dan wafat pada 1525 M.
Sunan Bonang dimakamkan di Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Versi lain menyebut makamnya ada di 3 tempat yang berbeda. Meski demikian, makam Sunan Bonang di Tuban tak pernah sepi dari peziarah.
Pendiri Tasawuf Underground, Ustadz Halim Ambiya, mengatakan, nasihat Sunan Bonang melalui Tembang Tombo Ati itu diambil dari rangkaian intisari Al-Qur'an dan Hadits, serta wejangan para ulama terdahulu.
Ibrahim Al-Khawash pernah menyebut hal serupa dengan susunan yang berbeda, tetapi mempunyai maksud sama. Al-Khawash mengatakan obat hati ada lima perkara, yaitu membaca Al-Quran sembari merenungkan maknanya, mengosongkan perut, bangun malam, beribadah di waktu sahur, dan bersahabat dengan orang-orang saleh.
Baca Juga: Lingsir Wengi Bukan Lagu Horor tapi Tembang Dakwah Sunan Kalijaga, Ini Makna Aslinya
"Para wali penyebar agama Islam di Nusantara yang telah banyak berjasa. Mereka memberi penerang dan penyejuk hati melalui syair-syair yang menggugah jiwa, termasuk puji-pujian Tombo Ati ini," kata Halim dikutip dari tulisannya, 'Tombo Ati Sunan Bonang', Kamis (13/1/2022).
Tembang Ati benar-benar menjadi obat hati manusia yang sedang dalam keadaan suka maupun duka. Ia bisa mengobarkan semangat untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala, serta mengajarkan kecintaan kepada-Nya dan rasul-Nya.
"Tombo Ati merupakan satu rangkaian terapi bagi batin untuk berbenah dan menyadari fungsi penciptaan manusia," tutur Halim.
Dengan penyadaran jiwa yang selama ini terlalaikan dan terabaikan oleh gerak, pikiran, dan nafsu jahat manusia, manusia diharapkan menemukan kembali jati diri sebagai manusia kembali.
Penyadaran dan pengobatan jiwa itu melalui lima perkara yang harus dilalui oleh seorang hamba, yakni dengan membaca Al-Quran dengan memahami dan menghayati maknanya, mendirikan dan memperbanyak salat malam, berkumpul dan bersahabat dengan orang saleh, menunaikan ibadah puasa wajib dan sunnah, dan memperbanyak zikir di malam hari.
Baca Juga: Tembang Lir Ilir, Syiar Sunan Kalijaga Semangati Umat Bangkit dari Keterpurukan
Menurut Halim, tembang itu akan semakin menyejukkan dan mengobati jiwa jika dilantunkan dengan nyanyian yang mengundang getar-getar keimanan manusia kepada Allah, malaikat-malaikat, rasul-rasul, kitab-kitab, serta qadha dan qadar-Nya.
"Debu dan kotoran manusia yang melekat dan meracuni hati manusia dicuci dengan lima obat hati tersebut, agar mampu menerima pancaran cahaya Ilahi dan mengobati seluruh penyakit-penyakit jasmani dan ruhani manusia," terang Halim.
Halim menyadari bukan perkara yang mudah untuk melakukan lima perkara tersebut. Dibutuhkan kemauan keras, kerja keras, dan kesabaran yang berterusan. Namun, dengan menyanyikan lagu Tombo Ati, jiwa-jiwa kita setidaknya diharapkan tergerak dan terpanggil untuk merenungkan sejenak tentang tujuan penciptaan manusia.
TOMBO ATI SUNAN BONANG
Tombo ati iku limo perkaraneKaping pisan moco Quran lan maknaneKaping pindo sholat wengi lakononoKaping telu wong kang sholeh kumpulonoKaping papat kudu weteng ingkang luweKaping limo zikir wengi lingkang suweSalah sawijine sopo bisa ngelakoniMugi-mugi gusti Allah nyembadaniObat hati ada lima perkaranya.
Pertama baca Quran dengan maknanya.
Kedua, shalat malam dirikanlah.
Ketiga, berkumpullah dengan orang sholeh.
Keempat perbanyaklah berpuasa.
Kelima, dzikir malam perbanyaklah.
Salah satunya siapa bisa menjalani.
Semoga Allah mencukupi.
(jqf)