Ibnu Taimiyah: Sufi dalam Balutan Puritanisme
Miftah yusufpati
Kamis, 25 September 2025 - 04:15 WIB
Figur-figur besar seperti Ibnu Taimiyah selalu melahirkan kontroversi, karena mereka terlalu kaya untuk ditangkap oleh satu aliran saja. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Damaskus, abad ke-7 Hijriah. Kota itu berdiri sebagai simpul peradaban Islam: madrasah, masjid, dan bazar berbaur dalam hiruk pikuk. Di salah satu sudutnya, lahir seorang ulama yang kelak memecah perdebatan sepanjang zaman: Taqi al-Din Ahmad bin Abdul Halim bin Abd al-Salam, lebih dikenal sebagai Ibnu Taimiyah (1263–1328 M).
Namanya hari ini identik dengan ketegasan hukum, fatwa kontroversial, bahkan inspirasi ideologi Islamis modern. Tapi di balik citra keras itu, ada sisi yang jarang dibicarakan: penghormatannya kepada para sufi dan kedekatannya dengan tasawuf.
Dalam Majmu‘ Fatawa (Dar ar-Rahmat, Kairo, jilid 11), Ibnu Taimiyah menulis: “Kamu harus tahu bahwa syaikh-syaikh terbimbing harus diambil sebagai petunjuk dan contoh dalam agama, karena mereka mengikuti jejak para Nabi dan Rasul.”
Ia menyebut nama-nama besar sufi: Hasan al-Basri, Rabi‘a al-‘Adawiyya, Ibrahim ibn Adham, Ma‘ruf al-Karkhi, Junaid al-Baghdadi, bahkan Syekh Abdul Qadir al-Jilani.
Di halaman 499 jilid yang sama, ia menambahkan: “Ketika kita dalam haji, kita memerlukan petunjuk (dalal) untuk mencapai Ka‘bah. Para syaikh ini adalah petunjuk menuju Allah dan Nabi kita.”
Bagi Ibnu Taimiyah, tasawuf sejati bukanlah khayalan kosong, melainkan disiplin tazkiyatun-nafs (penyucian jiwa) dan ihsan (kesadaran spiritual). Dalam definisinya:
“Tasawuf adalah ilmu tentang kenyataan dan keadaan dari pengalaman. Sufi adalah orang yang menyucikan dirinya dari segala sesuatu yang menjauhkan dari mengingat Allah… ia menjaga makna-makna tinggi dan meninggalkan ketenaran serta egoisme untuk meraih keadaan penuh dengan Kebenaran.” (Majmu‘ Fatawa, vol. 11).
Namanya hari ini identik dengan ketegasan hukum, fatwa kontroversial, bahkan inspirasi ideologi Islamis modern. Tapi di balik citra keras itu, ada sisi yang jarang dibicarakan: penghormatannya kepada para sufi dan kedekatannya dengan tasawuf.
Dalam Majmu‘ Fatawa (Dar ar-Rahmat, Kairo, jilid 11), Ibnu Taimiyah menulis: “Kamu harus tahu bahwa syaikh-syaikh terbimbing harus diambil sebagai petunjuk dan contoh dalam agama, karena mereka mengikuti jejak para Nabi dan Rasul.”
Ia menyebut nama-nama besar sufi: Hasan al-Basri, Rabi‘a al-‘Adawiyya, Ibrahim ibn Adham, Ma‘ruf al-Karkhi, Junaid al-Baghdadi, bahkan Syekh Abdul Qadir al-Jilani.
Di halaman 499 jilid yang sama, ia menambahkan: “Ketika kita dalam haji, kita memerlukan petunjuk (dalal) untuk mencapai Ka‘bah. Para syaikh ini adalah petunjuk menuju Allah dan Nabi kita.”
Bagi Ibnu Taimiyah, tasawuf sejati bukanlah khayalan kosong, melainkan disiplin tazkiyatun-nafs (penyucian jiwa) dan ihsan (kesadaran spiritual). Dalam definisinya:
“Tasawuf adalah ilmu tentang kenyataan dan keadaan dari pengalaman. Sufi adalah orang yang menyucikan dirinya dari segala sesuatu yang menjauhkan dari mengingat Allah… ia menjaga makna-makna tinggi dan meninggalkan ketenaran serta egoisme untuk meraih keadaan penuh dengan Kebenaran.” (Majmu‘ Fatawa, vol. 11).