Imam Al-Ghazali: Mistikus yang Mendahului Psikologi
Miftah yusufpati
Kamis, 25 September 2025 - 17:00 WIB
Jauh sebelum Pavlov, Al-Ghazali sudah mengurai pengondisian dan fanatisme. Kritiknya atas indoktrinasi terasa segar di tengah riuh opini massal hari ini. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-“Bagi orang sakit, air manis terasa pahit di mulut.” Kutipan penyair al-Mutanabbi itu dijadikan moto oleh Imam al-Ghazali dalam Book of Knowledge. Ungkapan sederhana yang ternyata menyimpan lapisan makna: persepsi manusia dibentuk oleh kondisi batin, bukan semata oleh realitas objektif. Delapan abad sebelum Ivan Pavlov memperkenalkan eksperimen anjing berliurnya, Al-Ghazali sudah mengurai fenomena yang kini kita kenal sebagai pengondisian.
Bagi kaum Sufi, apa yang ditulis Al-Ghazali bukan sekadar renungan mistik, melainkan upaya menyingkap mekanisme tersembunyi yang membentuk pikiran manusia. Bagi pembaca modern, ia terdengar seperti psikolog eksperimental yang lahir terlalu cepat.
Dalam The Way of the Sufi (Idries Shah, Risalah Gusti, 1999), Al-Ghazali digambarkan gemar memakai perumpamaan “modern” untuk membongkar cara kerja pikiran. Ia menilai pencampuradukan opini dan pengetahuan sebagai “wabah intelektual”. Orang terpelajar, katanya, justru kerap terjebak dalam fanatisme. Pendidikan bisa menjadi jembatan menuju kearifan, tetapi bisa juga melahirkan obsesi sempit jika dipakai untuk mengindoktrinasi.
Kritiknya terasa relevan. Di masyarakat totalitarian, indoktrinasi dipelihara dan disakralkan. Di masyarakat lain, ia disembunyikan atau bahkan dianggap tabu. “Manusia menentang sesuatu karena mereka tidak mengetahuinya,” tulisnya.
Ironisnya, filsuf Kristen abad pertengahan yang banyak mengadopsi pemikirannya memilih menyingkirkan bagian yang justru menguliti praktik indoktrinasi mereka sendiri.
Baca juga: Imam al-Ghazali dan Kritik atas Haji yang Berlebihan
Antara Mistisisme dan Sains
Bagi kaum Sufi, apa yang ditulis Al-Ghazali bukan sekadar renungan mistik, melainkan upaya menyingkap mekanisme tersembunyi yang membentuk pikiran manusia. Bagi pembaca modern, ia terdengar seperti psikolog eksperimental yang lahir terlalu cepat.
Dalam The Way of the Sufi (Idries Shah, Risalah Gusti, 1999), Al-Ghazali digambarkan gemar memakai perumpamaan “modern” untuk membongkar cara kerja pikiran. Ia menilai pencampuradukan opini dan pengetahuan sebagai “wabah intelektual”. Orang terpelajar, katanya, justru kerap terjebak dalam fanatisme. Pendidikan bisa menjadi jembatan menuju kearifan, tetapi bisa juga melahirkan obsesi sempit jika dipakai untuk mengindoktrinasi.
Kritiknya terasa relevan. Di masyarakat totalitarian, indoktrinasi dipelihara dan disakralkan. Di masyarakat lain, ia disembunyikan atau bahkan dianggap tabu. “Manusia menentang sesuatu karena mereka tidak mengetahuinya,” tulisnya.
Ironisnya, filsuf Kristen abad pertengahan yang banyak mengadopsi pemikirannya memilih menyingkirkan bagian yang justru menguliti praktik indoktrinasi mereka sendiri.
Baca juga: Imam al-Ghazali dan Kritik atas Haji yang Berlebihan
Antara Mistisisme dan Sains