home masjid

Iqra’: Membaca Alam, Sejarah, dan Diri dengan Nama Tuhan

Jum'at, 26 September 2025 - 04:15 WIB
Wahyu pertama menegaskan: membaca adalah pintu ilmu. Bukan sekadar teks, tapi alam, sejarah, dan diri. Ilmu harus dicari dengan ikhtiar dan kerendahan hati, selalu bismi rabbik. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID - Wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad di Gua Hira, Surah Al-‘Alaq ayat 1–5, bukanlah perintah shalat atau zakat, melainkan “Iqra’” – bacalah.

Sebuah kata sederhana, tapi sarat makna. Dari akar katanya, iqra’berarti menghimpun, menelaah, meneliti, hingga mengenali tanda-tanda. Karena itu, perintah membaca dalam wahyu pertama tidak membatasi objek bacaan. Alam, sejarah, diri sendiri, bahkan tanda-tanda zaman—semuanya layak dibaca, selama itu dilakukan bismi rabbik (dengan menyebut nama Tuhan), yakni berorientasi pada kemaslahatan manusia.

“Pengulangan perintah membaca dalam wahyu pertama bukan sekadar dorongan untuk mengulang bacaan, tapi mengisyaratkan bahwa setiap pengulangan akan menghadirkan pengetahuan baru,” tulis M. Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat(Mizan, 1996).

Menariknya, wahyu itu juga menyinggung dua jalur pengetahuan. Pertama, “yang mengajar manusia dengan pena,” yakni hasil usaha intelektual, observasi, eksperimen, dan rekam jejak peradaban. Kedua, “yang mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya,” jalur non-empiris: wahyu, intuisi, ilham, atau bahkan “kebetulan” yang menimpa ilmuwan tekun.

Quraish Shihab memberi analogi: komet Halley yang muncul setiap 76 tahun. Para astronom menyiapkan teleskop canggih, tapi sejatinya kehadiran komet itulah yang “memperkenalkan diri.” Begitu pula ilmu ladunni—pengetahuan yang dianugerahkan tanpa usaha manusia, sebagaimana disebut dalam kisah Nabi Musa dan Khidir (QS Al-Kahfi [18]:65).

Baca juga: Uang dalam Tafsir Zaman: Dari Fiqh Prioritas hingga Kapitalisme Modern

Di samping itu ada ilmu kasbi, buah kerja keras manusia. Jumlah ayat yang mendorong usaha intelektual jauh lebih banyak ketimbang yang merujuk pada ilham. Dengan kata lain, Al-Qur’an memberi ruang bagi keduanya, tapi menegaskan bahwa jalan utama manusia tetap melalui kerja ilmiah.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya