LANGIT7.ID - Wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad di Gua Hira, Surah Al-‘Alaq ayat 1–5, bukanlah perintah shalat atau zakat, melainkan “Iqra’” – bacalah.
Sebuah kata sederhana, tapi sarat makna. Dari akar katanya,
iqra’ berarti menghimpun, menelaah, meneliti, hingga mengenali tanda-tanda. Karena itu, perintah membaca dalam wahyu pertama tidak membatasi objek bacaan. Alam, sejarah, diri sendiri, bahkan tanda-tanda zaman—semuanya layak dibaca, selama itu dilakukan
bismi rabbik (dengan menyebut nama Tuhan), yakni berorientasi pada kemaslahatan manusia.
“Pengulangan perintah membaca dalam wahyu pertama bukan sekadar dorongan untuk mengulang bacaan, tapi mengisyaratkan bahwa setiap pengulangan akan menghadirkan pengetahuan baru,” tulis M. Quraish Shihab dalam
Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat (Mizan, 1996).
Menariknya, wahyu itu juga menyinggung dua jalur pengetahuan. Pertama, “yang mengajar manusia dengan pena,” yakni hasil usaha intelektual, observasi, eksperimen, dan rekam jejak peradaban. Kedua, “yang mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya,” jalur non-empiris: wahyu, intuisi, ilham, atau bahkan “kebetulan” yang menimpa ilmuwan tekun.
Quraish Shihab memberi analogi: komet Halley yang muncul setiap 76 tahun. Para astronom menyiapkan teleskop canggih, tapi sejatinya kehadiran komet itulah yang “memperkenalkan diri.” Begitu pula ilmu ladunni—pengetahuan yang dianugerahkan tanpa usaha manusia, sebagaimana disebut dalam kisah Nabi Musa dan Khidir (QS Al-Kahfi [18]:65).
Baca juga: Uang dalam Tafsir Zaman: Dari Fiqh Prioritas hingga Kapitalisme Modern Di samping itu ada ilmu kasbi, buah kerja keras manusia. Jumlah ayat yang mendorong usaha intelektual jauh lebih banyak ketimbang yang merujuk pada ilham. Dengan kata lain, Al-Qur’an memberi ruang bagi keduanya, tapi menegaskan bahwa jalan utama manusia tetap melalui kerja ilmiah.
Ilmu sebagai KejelasanKata *‘ilm* dan derivasinya muncul 854 kali dalam Al-Qur’an. Akar katanya berarti kejelasan. Tak heran ia seakar dengan *‘alam* (tanda/bendera), ‘alamat (alamat), hingga a‘lam (gunung). Ilmu, menurut Al-Qur’an, adalah pengetahuan yang jelas—bukan sekadar dugaan.
Pembedaan ini penting. Sebab dalam bahasa Arab ada pula
ma’rifah (pengetahuan) yang tidak selalu berkonotasi pada kejelasan. Karena itu Allah tidak disebut ‘arif tapi ‘alim—yang mengetahui, bahkan yang gaib dan tersembunyi: isi rahim (QS Luqman [31]:34), rahasia dada (QS Al-Mulk [67]:13), hingga kedipan mata (QS Ghafir [40]:19).
Manusia, lewat potensi ilmunya, diangkat sebagai khalifah di bumi. Dalam kisah penciptaan Adam (QS Al-Baqarah [2]:31-32), Allah mengajarkan “nama-nama benda” yang bahkan malaikat tak mampu menyebutnya. Ilmu menjadi pembeda utama manusia dari makhluk lain.
Dalam tradisi tafsir, ilmu manusia terbagi dua. Pertama, ilmu ladunni—pengetahuan langsung dari Allah, di luar jangkauan usaha manusia. Kedua, ilmu kasbi—hasil ikhtiar: observasi, eksperimentasi, dan akumulasi pengetahuan.
Baca juga: Ketika Harta Disebut Kebaikan: Tafsir Ekonomi Al-Quran di Era Konsumerisme Quraish Shihab mencatat, Al-Qur’an justru lebih sering menekankan perolehan ilmu kasbi. “Berjalanlah di bumi, perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang terdahulu,” begitu sering Allah mengingatkan. Artinya, umat Islam didorong untuk aktif membaca tanda-tanda sejarah dan gejala alam, bukan sekadar menunggu ilham turun.
Namun Al-Qur’an juga mengingatkan keterbatasan manusia. “Kamu tidak diberi pengetahuan kecuali sedikit” (QS Al-Isra’ [17]:85). Ada wilayah gaib yang tak bisa ditembus, betapapun canggih teknologi.
Membaca dengan Nama TuhanDi sinilah letak keseimbangan pandangan Islam tentang ilmu. Satu sisi, ia memerintahkan manusia menempuh semua jalur perolehan ilmu: pena, eksperimen, riset. Sisi lain, ia mengingatkan keterbatasan manusia dan perlunya kerendahan hati.
Al-Qur’an tidak menolak teknologi, tapi memberi bingkai etik. Ilmu harus selalu dibaca
bismi rabbik. Tanpa orientasi itu, pengetahuan bisa melahirkan malapetaka.
Pesan yang turun 14 abad lalu di Gua Hira itu kini terasa relevan di tengah gegap gempita revolusi digital. Membaca, meneliti, dan menemukan adalah kewajiban. Tapi membacanya dengan kesadaran bahwa ada Yang Maha Tahu—itulah etika dasar ilmu dalam pandangan Al-Qur’an.
Baca juga: Gus Baha Beri Catatan pada Tafsir Kemenag, Mulai dari Kesalahan Harakat hingga Substansi(mif)