Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 16 Maret 2026
home global news detail berita

Gus Baha Beri Catatan pada Tafsir Kemenag, Mulai dari Kesalahan Harakat hingga Substansi

esti setiyowati Senin, 08 September 2025 - 21:42 WIB
Gus Baha Beri Catatan pada Tafsir Kemenag, Mulai dari Kesalahan Harakat hingga Substansi
Gus Baha Koreksi Tafsir Kemenag, Mulai dari Kesalahan Harakat hingga Substansi. Foto: Kemenag.
LANGIT7.ID-, Jakarta - - Ulama kharismatik asal Rembang, KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau akrab disapa Gus Baha, memberikan catatan, masukan, sekaligus koreksi pada ‘Al-Qur’an dan Tafsirnya’ terbitan Kementerian Agama (Kemenag).

Diketahui, Gus Baha merupakan salah satu anggota tim pakar penyempurnaan ‘Al-Qur’an dan Tafsirnya’.

Baca juga: Profil Ustadz Adi Hidayat dan Gus Baha: Dua Ulama dengan Pikiran yang Menerangi Umat

“Catatan saya bukan hanya soal kesalahan penulisan atau harakat, tetapi juga menyangkut substansi yang tidak boleh diabaikan,” ujar Gus Baha pada tim Sekretariat Penyempurnaan Tafsir Kemenag di Pesantren Damaran, Kudus, Jawa Tengah pada Jumat (5/9/2025).

'Al-Qur’an dan Tafsirnya' terbitan Kemenag terdiri dari 11 jilid, dengan satu jilid pendahuluan.

Gus Baha menelaah secara detail jilid pertama yang mencakup 519 halaman, dari surah Al-Baqarah hingga Ali Imran ayat 91.

Salah satu poin penting yang dikoreksi Gus Baha adalah keberadaan pendapat Yusuf Ali yang menolak konsep naskh-mansukh dalam Al-Qur’an.

Menurut Gus Baha, pendapat itu tidak tepat bila dimasukkan dalam Tafsir Kemenag.

“Dalam Islam, naskh dan mansukh itu jelas ada. Contohnya pengalihan kiblat (tahwilul qiblah), masa iddah istri yang ditinggal wafat suami, hingga persoalan fidyah bagi orang berpuasa," terang Gus Baha.

Baca juga: Gus Baha Anjurkan Zakat Fitrah Diberikan kepada Keluarga Dekat

"Pernah di awal Islam ada dua pilihan, berpuasa atau membayar fidyah, lalu dinaskh dengan ayat ‘faman syahida minkumusy-syahra fal-yashumhu’,” tambahnya.

Ia menambahkan, perbedaan pendapat soal ada atau tidaknya naskh-mansukh tidak bisa dianggap setara.

“Khilaf semacam ini tidak boleh dianggap. Dalam fikih, Yusuf Ali jelas keliru, bukan saya yang menyalahkan, tapi konsensus ulama,” tandas Gus Baha seperti dikutip dari laman Kemenag, Senin (8/9/2025).

Selain soal substansi, Gus Baha juga menyinggung pentingnya penyajian tafsir yang mudah dipahami oleh semua kalangan masyarakat.

“Tafsir ini harus bisa dibaca dengan nyaman. Karena itu, istilah-istilah Arab sebaiknya diterjemahkan. Kata balagho, misalnya, jangan dibiarkan begitu saja,” ujarnya.

Gus Baha juga menyoroti penggunaan kaidah transliterasi Arab-Indonesia yang menurutnya sering tidak nyaman dibaca.

“Kata tawadu lebih pas ditulis tawadhu’ dengan apostrof. Ria sebaiknya riya’. Bahkan kata Zat mestinya ditulis Dzat. Benar saja tidak cukup, harus nyaman juga bagi masyarakat umum,” kata Gus Baha berulang kali menegaskan.

Baca juga: Gus Baha: Semua Umat Muhammad Berpotensi Dapat Lailatul Qadar

Proses penyempurnaan 'Al-Qur'an dan Tafsirnya' diagendakan akan berlangsung selama tiga tahun. Anggota tim penyempurnaan terdiri dari ulama pakar tafsir, pakar ulumul quran, pakar Bahasa Arab, pakar sains, dan pakar Bahasa Indonesia.

(est)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 16 Maret 2026
Imsak
04:33
Shubuh
04:43
Dhuhur
12:05
Ashar
15:12
Maghrib
18:09
Isya
19:17
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)