Bismi Rabbik: Membingkai Ilmu dalam Pandangan Al-Quran
Miftah yusufpati
Selasa, 30 September 2025 - 04:15 WIB
Prof Quraish Shihab. Foto/Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- “Bacalah dengan nama Tuhanmu.” Wahyu pertama itu bukan hanya menandai lahirnya tradisi intelektual Islam, tetapi juga meletakkan tujuan pencarian ilmu: bukan sekadar tahu, melainkan bernilai Ilahi.
Prof.Dr. M. Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat (Mizan) mencatat, sejak awal Al-Quran menolak semboyan ilmu demi ilmu. Titik tolak dan tujuan ilmu, menurutnya, harus bismi Rabbik—demi Allah dan untuk kemaslahatan makhluk.
Syaikh Abdul Halim Mahmud, mantan Grand Syaikh Al-Azhar, menafsirkan seruan itu sebagai perintah agar ilmu diabdikan kepada kesejahteraan manusia. “Allah tidak butuh apa pun dari ilmu manusia. Justru manusialah yang membutuhkan Allah,” ujarnya.
Oleh karena itu, sains yang dikembangkan tanpa nilai—sering disebut bebas nilai—perlu diberi bingkai Rabbani. Ilmu yang tidak bermanfaat dipandang sia-sia, bahkan berbahaya. Nabi Muhammad Saw. berdoa: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.”
Dalam tradisi Islam, akal dipakai untuk mengurai fenomena alam, sementara hati menembus dimensi metafisika. Upaya spekulatif untuk membongkar rahasia gaib justru dianggap melampaui batas.
Menariknya, Al-Quran menggunakan redaksi berbeda saat menjelaskan langit dan bumi. QS Al-Baqarah [2]: 164 menutup ayat dengan, “Sungguh terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal (ya‘qilun).” Sedangkan QS Ali-‘Imran [3]: 190 berakhir dengan, “Terdapat tanda-tanda bagi ulil albab.”
Quraish Shihab membaca perbedaan itu sebagai tingkatan manfaat ilmu. Al-Quran menyebut setidaknya delapan kategori orang yang bisa memetik pelajaran dari fenomena alam: mereka yang berpikir (yatafakkarun), mengetahui (ya‘lamun), mengambil pelajaran (yatazakkarun), memahami (ya‘qilun), mendengarkan (yasma‘un), meyakini (yuqinun), beriman (al-mu’minun), dan mengetahui secara mendalam (al-‘alimin).
Prof.Dr. M. Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat (Mizan) mencatat, sejak awal Al-Quran menolak semboyan ilmu demi ilmu. Titik tolak dan tujuan ilmu, menurutnya, harus bismi Rabbik—demi Allah dan untuk kemaslahatan makhluk.
Syaikh Abdul Halim Mahmud, mantan Grand Syaikh Al-Azhar, menafsirkan seruan itu sebagai perintah agar ilmu diabdikan kepada kesejahteraan manusia. “Allah tidak butuh apa pun dari ilmu manusia. Justru manusialah yang membutuhkan Allah,” ujarnya.
Oleh karena itu, sains yang dikembangkan tanpa nilai—sering disebut bebas nilai—perlu diberi bingkai Rabbani. Ilmu yang tidak bermanfaat dipandang sia-sia, bahkan berbahaya. Nabi Muhammad Saw. berdoa: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.”
Dalam tradisi Islam, akal dipakai untuk mengurai fenomena alam, sementara hati menembus dimensi metafisika. Upaya spekulatif untuk membongkar rahasia gaib justru dianggap melampaui batas.
Menariknya, Al-Quran menggunakan redaksi berbeda saat menjelaskan langit dan bumi. QS Al-Baqarah [2]: 164 menutup ayat dengan, “Sungguh terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal (ya‘qilun).” Sedangkan QS Ali-‘Imran [3]: 190 berakhir dengan, “Terdapat tanda-tanda bagi ulil albab.”
Quraish Shihab membaca perbedaan itu sebagai tingkatan manfaat ilmu. Al-Quran menyebut setidaknya delapan kategori orang yang bisa memetik pelajaran dari fenomena alam: mereka yang berpikir (yatafakkarun), mengetahui (ya‘lamun), mengambil pelajaran (yatazakkarun), memahami (ya‘qilun), mendengarkan (yasma‘un), meyakini (yuqinun), beriman (al-mu’minun), dan mengetahui secara mendalam (al-‘alimin).