LANGIT7.ID-Jakarta; Besarnya aktivitas perikanan di Kota Sorong menunjukkan bahwa keberhasilan usaha nelayan tidak hanya ditentukan oleh hasil tangkapan, tetapi juga kesiapan menghadapi berbagai risiko. Pada 2025, wilayah pesisir tersebut mencatat aktivitas 749 kapal dengan volume pendaratan ikan mencapai 3,57 juta kilogram dan nilai produksi lebih dari Rp86,2 miliar.
Kondisi itu berjalan seiring dengan penguatan ekonomi Papua Barat Daya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), perekonomian provinsi tersebut tumbuh 4,03 persen secara tahunan pada 2025 dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai Rp39,2 triliun. Pertumbuhan tersebut ditopang sektor-sektor riil, termasuk pertanian, kehutanan, dan perikanan.
Melihat perkembangan tersebut, PT Asuransi Kredit Indonesia (Persero) atau Askrindo menjalin Nota Kesepakatan Bersama dengan Syahbandar Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Sorong. Kolaborasi ini ditujukan untuk memperluas akses asuransi bagi masyarakat nelayan di Kota Sorong.
Direktur Bisnis Askrindo Budhi Novianto mengatakan, besarnya potensi sektor perikanan di Sorong perlu diimbangi dengan penguatan mitigasi risiko yang lebih komprehensif.
"Melihat potensi sektor perikanan di Sorong yang terus berkembang, kami memandang perlu adanya penguatan mitigasi risiko yang lebih komprehensif bagi masyarakat nelayan. Melalui kolaborasi ini, Askrindo hadir untuk mendukung kebutuhan tersebut dengan memperluas akses asuransi yang relevan dan mudah dijangkau, sehingga nelayan dapat bekerja dengan lebih tenang, produktif, serta memiliki ketahanan ekonomi yang lebih baik," ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (21/7/2026).
Budhi menambahkan, langkah tersebut juga sejalan dengan tren pertumbuhan ekonomi Papua Barat Daya yang terus menunjukkan penguatan. Menurutnya, kerja sama ini merupakan kelanjutan dari program sosialisasi yang sebelumnya telah memperkenalkan berbagai solusi perlindungan.
Solusi yang dikenalkan meliputi Personal Accident (PA), ASMIK Bahari untuk kapal, ASMIK Usahaku bagi pelaku usaha mikro, serta ASMIK Rumahku untuk hunian. Namun, pendekatan yang dilakukan tidak berhenti pada penyediaan produk semata.
"Kami berupaya menghadirkan perlindungan yang menyeluruh bagi nelayan, tidak hanya untuk diri mereka, tetapi juga kapal, usaha, hingga tempat tinggal. Di saat yang sama, kami juga aktif melakukan edukasi dan pendampingan agar masyarakat semakin memahami pentingnya proteksi dalam menjalankan usahanya," kata Budhi.
Ke depan, implementasi kerja sama akan diarahkan pada perluasan literasi keuangan, penguatan pendampingan kelompok nelayan, serta sinergi berkelanjutan dengan berbagai pemangku kepentingan di sektor kelautan dan perikanan.
Budhi berharap langkah tersebut mampu menjangkau lebih banyak masyarakat nelayan sehingga mereka tidak hanya dapat mengembangkan usahanya, tetapi juga memiliki fondasi perlindungan yang kuat dalam menghadapi berbagai risiko.
"Kami ingin memastikan upaya ini dapat menjangkau lebih banyak masyarakat nelayan, sehingga mereka tidak hanya mampu mengembangkan usahanya, tetapi juga memiliki fondasi perlindungan yang kuat dalam menghadapi berbagai risiko. Dengan pendekatan yang berkelanjutan, kami optimistis sektor perikanan dapat terus tumbuh dan memberikan kontribusi lebih besar bagi perekonomian daerah," tutupnya.
(lam)