LANGIT7.ID-Jakarta; - Dinamika penyimpangan seksual seperti Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) di lingkungan remaja kerap dipicu oleh paparan konten yang tidak terfilter di platform digital. Hal itu disampaikan Guru Besar Universitas Budi Luhur, Prof Umaimah Wahid dalam Maestu Summit 2026 dan Rakornas LSBPI MUI yang dirangkaikan dengan forum edukasi interaktif bagi para santri di Pondok Pesantren Dar el-Qolam, Gintung.
"Fenomena
fatherless atau minimnya peran pengasuhan figur ayah turut memicu celah psikologis, yang kemudian dimanfaatkan pihak tertentu melalui teknik grooming atau penyediaan ruang aman semu di media sosial," kata Prof Umaimah dalam kanal Youtube 'MMI Daar el-Qalam bertajuk 'Remaja Bertanya, Ulama Menjawab' dikutip Selasa (21/7/2026).
Prof Umaimah mengingatkan para santri agar senantiasa membentengi diri dan bijak dalam menyaring setiap tontonan di perangkat seluler. Menurut dia, paparan konten yang tidak sehat tidak hanya merusak pola pikir, tetapi juga membawa dampak nyata pada kesehatan medis.
"Perilaku yang dilarang agama memiliki risiko kesehatan yang sangat besar. Penyebaran kasus HIV banyak dialami usia muda, bahkan berdampak luas hingga ke dalam hubungan rumah tangga. Oleh karena itu, mari hindari pemicu dan jangan pernah mencoba-coba hal yang melanggar fitrah," ujarnya.
Kendati menegaskan penolakan keras terhadap segala bentuk penyimpangan seksual, ia menggarisbawahi pentingnya pendekatan yang humanis tanpa kekerasan. Jika menemukan rekan atau kawan yang mengindikasikan pergeseran perilaku, santri diimbau untuk tidak melakukan perundungan (bullying) agar tidak memperburuk kondisi psikologis korban.
"Langkah terbaik yang direkomendasikan adalah melakukan pendampingan secara bijak, memberikan pencerahan, serta mengarahkan yang bersangkutan untuk berkonsultasi kepada guru pendamping, ustadz, atau ustadzah. Ikhtiar mengembalikan sesama muslim kepada fitrah dasarnya merupakan bagian dari nilai ibadah dan kepedulian sosial," katanya.
Selain edukasi mengenai ketahanan jiwa dan kesehatan, forum ini diisi dengan sosialisasi literasi media, wawasan cagar budaya, serta hiburan pantun interaktif guna membangun karakter remaja Islam yang berpengetahuan luas dan berpegang teguh pada tuntunan syariat.
Melalui serangkaian kegiatan ini, LSBPI MUI mengajak seluruh elemen lembaga pendidikan dan keluarga untuk bersinergi melakukan gerakan pencegahan. Penguatan karakter, pengawasan media sosial, serta pengembalian fungsi keluarga menjadi benteng utama agar generasi muda terhindar dari ancaman penyimpangan seksual dan penyakit menular.
(zhd)