LANGIT7.ID-, Jakarta - - Sebuah grup
WhatsApp bernama
“Add People as Much as You Can” menjadi sorotan setelah digital creator Yuda Fajrin mengungkap adanya percakapan yang membahas orientasi seksual dan
LGBT di dalam grup tersebut.
Yuda mengatakan, grup itu memiliki pola mengundang anggota baru secara acak. Ia menyebut, salah satu anak dari temannya pernah masuk ke grup tersebut karena mendapat undangan.
Baca juga: Kesbangpol Ungkap Gerakan LGBT di Bekasi Mulai Sasar Ruang PublikMengacu pada nama grup yang mengajak untuk menambahkan orang sebanyak mungkin membuat anggotanya memasukkan kontak tanpa proses jelas.
“Ada grup namanya
Add People as Much as You Can. Itu nyambung-nyambung tuh, ujung-ujungnya ada beberapa anak di dalam situ,” ujar Yuda dalam keterangannya.
Menurut Yuda, anak tersebut kemudian mengundang ayahnya ke dalam grup. Sang ayah yang berada di dalam grup akhirnya dapat membaca percakapan yang berlangsung.
Yuda mengungkap bahwa sebagian besar percakapan di grup tersebut berisi kiriman
stiker. Namun, ia mengaku menemukan pembahasan mengenai
LGBT dan orientasi seksual.
Salah satu hal yang menjadi perhatiannya adalah adanya jajak pendapat atau voting yang menanyakan identitas orientasi seksual anggota grup. Pertanyaan tersebut, menurut Yuda, kurang lebih berbunyi,
“Are you gay? lesbian? straight? or others?”Temuan tersebut membuat Yuda meminta para orang tua lebih memperhatikan aktivitas anak di WhatsApp, terutama apabila anak mendapat undangan dari grup yang tidak dikenal.
Baca juga: Wamenag Ajak Bentengi Anak dari LGBT dengan Pemahaman Al-Quran yang Baik“Monggo dicek yang udah pegang WA anaknya, hati-hati karena grupnya lagi mau coba diinvestigasi,” kata Yuda.
Yuda menegaskan bahwa keberadaan grup tersebut masih perlu ditelusuri lebih lanjut. Ia menyampaikan kekhawatiran akan tujuan dari grup tersebut dan meminta agar dilakukan investigasi untuk mengetahui siapa pengelola serta siapa saja yang berada di dalamnya.
Ia juga menyebut adanya kekhawatiran bahwa grup tersebut bisa memiliki tujuan lain yang lebih berbahaya. Namun, dugaan tersebut belum dapat dipastikan dan masih membutuhkan penyelidikan serta bukti lebih lanjut.
“Nggak ada yang tahu. Jadi ini lagi ingin coba diinvestigasi. Coba tolong cek,” pungkasnya.
(est)