home masjid

Dari Bendungan ke Pasukan Gajah: Jejak Yaman dalam Sejarah

Kamis, 02 Oktober 2025 - 04:15 WIB
Kejayaan Himyar, tragedi Najran, hingga invasi Abraha. Sejarah Yaman adalah riwayat benturan agama dan kuasa yang membuka celah lahirnya Islam. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di tengah gurun Arab yang tandus, Yaman selalu menjadi pengecualian. Di saat kabilah-kabilah Badui hidup berpindah, saling menindas, dan hanya mengenal hukum balas dendam, orang-orang Himyar di selatan membangun peradaban. Bendungan Ma’rib, yang menahan derasnya air pegunungan lalu mengalirkannya ke ladang-ladang, jadi bukti betapa tanah subur bisa melahirkan kota makmur, ibadah teratur, dan pemerintahan yang stabil.

Namun sejarah Yaman tak melulu tentang kejayaan. Dhu Nuwas al-Himyari, raja yang condong pada agama Musa, memaksa penduduk Najran memeluk Yudaisme. Ribuan pengikut Isa yang menolak digiring ke parit berapi, sebagian dibunuh dengan pedang. Peristiwa itu dikenang dalam Surah Al-Buruj (Qur’an 85:4-8). Seorang penyintas melarikan diri ke Romawi, meminta keadilan.

Kaisar Yustinianus, terikat sekutu dengan Abisinia, meneruskan urusan itu ke Najasyi. Maka berlayarlah armada Ethiopia menyeberang Laut Merah. Aryat memimpin serangan ke Yaman, dengan Abraha al-Asyram sebagai panglimanya. Aryat menang, tapi tak lama dibunuh oleh Abraha yang kemudian merebut tahta. Dari situlah lahir kisah pasukan gajah: Abraha, ingin menggeser Ka’bah dengan gerejanya di San’a, menyerbu Mekah. Tapi burung-burung ababil menghancurkan pasukannya—sebuah tragedi yang diabadikan Al-Qur’an dalam Surah Al-Fil.

Kekuasaan Abraha diteruskan anak-anaknya. Kekejaman dan kesewenang-wenangan mereka membuat rakyat Yaman lelah. Saif bin Dhi Yazan, bangsawan Himyar, mencari jalan keluar. Ia menghadap Kaisar Romawi, tapi ditolak karena persekutuan dengan Najasyi. Ia lalu berlayar ke Hira, meminta bantuan Gubernur Nu’man bin al-Mundhir untuk mempertemukannya dengan Kisra Persia.

Baca juga: Jazirah Arab Pra-Islam: Jejak Agama dan Akar Peradaban

Di hadapan Kisra Parvez, Saif menyampaikan penderitaan bangsanya. Singgasana Persia kala itu memukau: Iwan Kisra dengan lukisan bimasakti, lampu-lampu perak dan emas, mahkota bergantung dari rantai emas, serta istana berlapis permadani bergambar ladang musim semi. Saif menunduk, tapi suaranya tegas. Ia minta bala bantuan.

Kisra, mula-mula ragu, akhirnya mengirim pasukan di bawah jenderal Wahraz. Persia menang telak. Abisinia diusir setelah 72 tahun berkuasa. Yaman pun masuk dalam orbit Persia, meski tak sepenuhnya di bawah genggaman Kisra.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya