Dari Zabaj ke Malaka: Jejak Panjang Islam di Nusantara
Miftah yusufpati
Kamis, 02 Oktober 2025 - 17:00 WIB
Islam jadi simpul global yang menautkan Nusantara ke Samudra Hindia dan Tiongkok Selatan. Ilustraso: Ist
LANGIT7.ID-Di kejauhan, asap tipis dari sebuah gunung berapi di Sumatra Timur pernah menjadi penanda dalam catatan pelaut Arab. Negeri itu mereka sebut Zabaj, dengan seorang “Maharaja” yang menguasai pulau-pulau kaya rempah. Dari pusat kosmopolitan Sriwijaya inilah, pada paruh kedua milenium pertama, jejak panjang Islam mulai menapak di Nusantara.
Sejarawan Michael Laffan (Princeton University Press, 2011; terjemahan 2015) menulis, Islamisasi di kepulauan ini tidak terjadi seketika. Ia hadir sebagai alur panjang, teranyam dalam jaringan perdagangan dari Teluk Persia, Gujarat, hingga Quanzhou di Tiongkok Selatan. Para pedagang membawa kain, keramik, hingga barang pecah belah, dan pulang dengan muatan lada, pala, cengkih, serta burung eksotis. Di pelabuhan-pelabuhan, agama pun ikut bersandar.
Catatan Marco Polo (1292) menyebutkan Perlak, di pesisir Sumatra, sebagai komunitas Muslim pertama yang mapan. Tak lama berselang, sebuah batu nisan bertarikh 1297 menandai wafatnya Malik al-Salih, penguasa Samudra Pasai. Di sinilah, menurut Laffan, Islam pertama kali menjadi agama negara di Nusantara.
Namun jejak yang lebih awal pun ada: makam-makam di Lamreh yang sudah terkikis, menunjukkan keterhubungan dengan India Selatan dan Tiongkok. Pertanyaannya: apakah Islam datang lewat jaringan dagang Chola, Gujarat, atau lewat para sufi tarekat yang membawa dzikir dan wirid dari Aden, Yaman?
Jejak Sufi di Pelabuhan
Seorang ulama Aden, Abdallah b. As‘ad al-Yafi‘i (1298-1367), mengenang perjumpaannya dengan seorang misterius: Mas‘ud al-Jawi. Mas‘ud, orang Jawi yang telah menempuh jalur spiritual Qadiriyyah, membaiat al-Yafi‘i dalam tarekat itu. Laffan melihat catatan ini sebagai pembenaran teori A.H. Johns tentang peran syekh tarekat dalam membawa Islam ke Nusantara.
Namun ingatan lokal lebih sering menekankan legitimasi kerajaan. Hikayat Raja Pasai misalnya, mengisahkan Raja Merah Silu yang bermimpi Nabi Muhammad meludahi mulutnya—dan ia pun langsung fasih membaca Quran. Narasi semacam ini, menurut Laffan, menunjukkan betapa Islam diposisikan bukan sekadar ajaran spiritual, melainkan juga wahyu legitimasi politik.
Sejarawan Michael Laffan (Princeton University Press, 2011; terjemahan 2015) menulis, Islamisasi di kepulauan ini tidak terjadi seketika. Ia hadir sebagai alur panjang, teranyam dalam jaringan perdagangan dari Teluk Persia, Gujarat, hingga Quanzhou di Tiongkok Selatan. Para pedagang membawa kain, keramik, hingga barang pecah belah, dan pulang dengan muatan lada, pala, cengkih, serta burung eksotis. Di pelabuhan-pelabuhan, agama pun ikut bersandar.
Catatan Marco Polo (1292) menyebutkan Perlak, di pesisir Sumatra, sebagai komunitas Muslim pertama yang mapan. Tak lama berselang, sebuah batu nisan bertarikh 1297 menandai wafatnya Malik al-Salih, penguasa Samudra Pasai. Di sinilah, menurut Laffan, Islam pertama kali menjadi agama negara di Nusantara.
Namun jejak yang lebih awal pun ada: makam-makam di Lamreh yang sudah terkikis, menunjukkan keterhubungan dengan India Selatan dan Tiongkok. Pertanyaannya: apakah Islam datang lewat jaringan dagang Chola, Gujarat, atau lewat para sufi tarekat yang membawa dzikir dan wirid dari Aden, Yaman?
Jejak Sufi di Pelabuhan
Seorang ulama Aden, Abdallah b. As‘ad al-Yafi‘i (1298-1367), mengenang perjumpaannya dengan seorang misterius: Mas‘ud al-Jawi. Mas‘ud, orang Jawi yang telah menempuh jalur spiritual Qadiriyyah, membaiat al-Yafi‘i dalam tarekat itu. Laffan melihat catatan ini sebagai pembenaran teori A.H. Johns tentang peran syekh tarekat dalam membawa Islam ke Nusantara.
Namun ingatan lokal lebih sering menekankan legitimasi kerajaan. Hikayat Raja Pasai misalnya, mengisahkan Raja Merah Silu yang bermimpi Nabi Muhammad meludahi mulutnya—dan ia pun langsung fasih membaca Quran. Narasi semacam ini, menurut Laffan, menunjukkan betapa Islam diposisikan bukan sekadar ajaran spiritual, melainkan juga wahyu legitimasi politik.