home masjid

Dari Pesisir ke Pedalaman: Jejak Islam di Jawa

Kamis, 02 Oktober 2025 - 16:00 WIB
Islam merambat lewat pelabuhan Jawa abad ke-15. Para wali mengajarkan dakwah lewat seni, mistisisme, dan kekuasaanwarisan yang masih diperebutkan hingga kini. Ilustrasi: Ist

LANGIT7.ID-Di pesisir utara Jawa, pelabuhan-pelabuhan seperti Tuban dan Gresik pernah menjadi titik temu samudra besar: Laut Tiongkok Selatan dan Samudra Hindia. Di sanalah, pada abad ke-15, para pelaut Jawa, pedagang Tiongkok, dan saudagar Arab berlabuh, membawa barang dagangan sekaligus agama. Dari kota-kota pelabuhan inilah Islam merambat masuk ke jantung Jawa, dibawa oleh orang-orang yang kemudian dikenang sebagai Wali Sanga.

Sejarawan Michael Laffan dalam The Makings of Indonesian Islam (Princeton University Press, 2011; terjemahan Indonesia, Sejarah Islam di Nusantara, 2015) menulis, hubungan Tiongkok-Jawa bukan sekadar dagang. Kontak itu juga melahirkan kota-kota muslim baru, seperti Patani, yang bahkan masih menyandang nama “Gresik”.

Para Wali di Panggung Pesisir

Wali Sanga adalah nama besar dalam sejarah Islam Jawa. Mereka disebut wali, dari bahasa Arab yang berarti dekat dengan Tuhan. Malik Ibrahim atau Maulana Maghribi, pendatang dari Champa (Vietnam), wafat di Gresik pada 1419. Muridnya, Sunan Kalijaga, dianggap paling mewakili wajah Islam Jawa: lentur, sinkretis, dan multisuara. Clifford Geertz menyebutnya berlawanan dengan “kekakuan moral” para gurunya dari tanah Arab.

Sunan Kalijaga diyakini memperkenalkan wayang sebagai media dakwah. Sunan Drajat menggubah melodi gamelan, sementara Sunan Bonang merumuskan suluk, pengajaran puitis perjalanan spiritual. Di Gresik, makam Sunan Giri berdiri megah di puncak bukit. Belanda menyebut keturunannya sebagai “paus Jawa”, penanda otoritas religius yang melampaui batas politik.

Jejak Tiongkok dan Legenda Wali

Di Cirebon, kisah perjumpaan Islam dengan Tiongkok tercermin jelas. Sunan Gunung Jati, lahir di Pasai, pergi haji ke Mekah setelah kampungnya jatuh ke tangan Portugis pada 1521. Ia kembali ke Nusantara, menikahi adik Sultan Demak, lalu pindah ke Banten dan akhirnya menetap di Cirebon. Legenda lokal menyebut ia menikah dengan perempuan Tionghoa. Bukti warisan itu nyata: motif awan khas Tiongkok menghiasi pintu makamnya, sementara batik Cirebon tetap menyimpan pola serupa.

Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya