home masjid

Aceh dan Utsmani: Meriam, Surat, dan Harapan di Tengah Ancaman Portugis

Sabtu, 04 Oktober 2025 - 04:15 WIB
Aceh mengulurkan tangan ke Istanbul. Bukan sekadar rempah dan hadiah, tapi permintaan meriamsimbol perlawanan lokal yang ingin jadi bagian dari arus besar dunia Islam. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Suatu hari di abad ke-16, sebuah rombongan utusan dari ujung Sumatra tiba di Istanbul. Mereka datang bukan dengan tangan kosong. Rempah wangi, burung beo warna-warni, dan kain-kain halus dibawa sebagai tanda hormat. Namun inti kedatangan mereka bukanlah hadiah, melainkan sebuah permohonan: meriam.

Aceh, kerajaan Islam yang tengah naik daun di utara Sumatra, mengirimkan surat langsung kepada Sultan Sulayman al-Qanuni—atau Suleiman the Magnificent, penguasa Kekaisaran Utsmani yang berkuasa antara 1520–1566. Dalam surat itu, Sultan Alauddin Ri’ayat Shah al-Kahar memohon agar Istanbul mengirim ahli artileri dan persenjataan untuk melawan Portugis yang sejak merebut Malaka pada 1511, terus menguasai jalur rempah.

“Permintaan itu adalah strategi Aceh meneguhkan dirinya sebagai bagian dari dunia Islam global,” tulis sejarawan Muhammad Haykal dalam artikelnya di El Tarikh: Journal of History, Culture and Islamic Civilization (2022).

Jejak diplomasi itu terekam dalam naskah lokal seperti Bustan al-Salatin dan Hikayat Meukota Alam. Sumber-sumber tersebut menyebut Aceh menjanjikan kesetiaan politik kepada Utsmani, dengan harapan bantuan militer datang. “Surat itu memperlihatkan betapa Aceh memahami kekuatan simbolik pengakuan khalifah Utsmani,” tulis Majalah Ilmiah Tabuah dalam artikel “The Ottoman Empire Relations with the Nusantara (Spice Islands)” (2020).

Suleiman kala itu dikenal sebagai penguasa global: Istanbul mengendalikan tiga benua, dari Balkan hingga Teluk Persia. Jika ada yang bisa menandingi Portugis di laut, Aceh percaya jawabannya hanya Turki Utsmani.

Janji dan Realitas

Menurut catatan akademis, respons Istanbul tidak serta-merta hadir dalam bentuk armada besar. Meirison, Trinova, dan Eri Firdaus mencatat (Tabuah, 2020) bahwa Utsmani mengirim ahli pembuat meriam, teknisi militer, dan sejumlah persenjataan ke Aceh. Beberapa kapal juga disebut berlayar dari Laut Merah ke Samudra Hindia, meski sebagian tak sampai tujuan.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya