home masjid

Istana Aceh 1640-an di Bawah Safiyyat al-Din Syah: Ulama, Ratu, dan Api Perdebatan

Ahad, 05 Oktober 2025 - 04:15 WIB
Pertarungan al-Raniri dan Sayf al-Rijal di Aceh abad ke-17 bukan sekadar perebutan pengaruh istana, tapi cermin kosmopolitanisme Islam: antara teks dan mistik, ortodoksi dan muhaqqiqin. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Pada awal dekade 1640-an, istana Aceh kembali gegap gempita. Sultan Iskandar II wafat, dan tampuk kekuasaan beralih ke jandanya, Safiyyat al-Din Syah. Sebuah transisi yang bagi sebagian istana dianggap genting, tapi tidak bagi Nur al-Din al-Raniri. Ulama asal Gujarat yang pernah memerintahkan eksekusi Syekh Kamal al-Din itu justru semakin menguat.

Al-Raniri bukan hanya penasihat keagamaan. Ia praktis menguasai urusan agama dan negara, memanfaatkan kedekatan dengan sang ratu. Bahkan, kebijakan perdagangan yang menguntungkan Gujarat—yang membuat Belanda ketar-ketir—membuatnya semakin percaya diri.

Namun, kedigdayaan itu tak lama. Pada Agustus 1643, seorang ulama muda Minangkabau bernama Sayf al-Rijal muncul di Banda Aceh. Murid Kamal al-Din ini datang dengan reputasi besar: belajar di Gujarat dan kemungkinan besar di al-Azhar, Kairo.

Dokumen yang baru ditemukan mengungkap Sayf al-Rijal juga menyebut dirinya sebagai Sayf al-Din al-Azhari, tanda ia pernah menimba ilmu di masjid al-Azhar, pusat otoritas hukum Islam sejak abad ke-10.

Koneksi ini penting. Sejak abad ke-16, Aceh memang punya ikatan dengan Mesir. Naskah Bustan al-Salatin menyebut adanya ulama bergelar al-Azhari yang tinggal di istana Aceh sejak 1570-an. Dengan begitu, kedatangan Sayf al-Rijal bukan sekadar nostalgia, melainkan membawa aura otoritas keilmuan Timur Tengah langsung ke jantung Kesultanan.

Baca juga: Aceh Serambi Makkah: Balairung, Ulama, dan Api Kitab yang Dibakar

Michael Laffan dalam The Makings of Indonesian Islam(Princeton University Press, 2011; terj. Indonesia, 2015) mencatat, pertarungan antara al-Raniri dan Sayf al-Rijal memperlihatkan tarik-menarik kosmopolitanisme Islam Nusantara. Aceh saat itu bukan hanya pusat dagang rempah, melainkan gelanggang teologi global.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya