Kolom Ekonomi Syariah: Pertumbuhan Merosot pada Era Serba Negara
Prof dr bambang setiaji
Senin, 06 Oktober 2025 - 04:30 WIB
Kolom Ekonomi Syariah: Pertumbuhan Merosot pada Era Serba Negara
LANGIT7.ID-Pertumbuhan ekonomi akan menguat menjadi lebih tinggi manakala pemerintah dengan penuh keikhlasan mempersilakan masyarakat di depan. Bagaimanapun kemampuan negara sangat terbatas. Daya jangkau kepada sub sub sektor yang rumit dan jauh hanya mungkin dilakukan oleh swasta. Sebagai contoh betapa sangat terbatasnya ketika pemerintah mencoba melakukan pelatihan-pelatihan ekonomi pada program kartu pra kerja.
Kesadaran Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa untuk menggerakan kembali swasta seperti pelita temaram yang diragukan kekuatannya di tengah parlemen dan birokrasi yang entah bagaimana mulainya tiba-tiba dengan pragmatis saja menjadi penganut serba negara. Dalam hal ini akan dilakukan analisis dengan mengambil contoh untuk tiga bidang saja, yaitu industri pendidikan tinggi, perbankan, dan MBG yang paling fresh.
Baca juga: Kolom Ekonomi Syariah: Kebijakan Ekonomi di Era Keterbukaan
Industri Pendidikan Tinggi
Pada tahun 2015 jumlah mahasiswa nasional 6,6 juta, dari jumlah ini yang dilayani perguruan tinggi negeri (PTN) sebesar 3,1 juta atau 47 persen. Sisanya sebesar 3,3 juta dilayani oleh swasta (PTS), sebesar 53 persen. Keadaan berbalik, pada tahun 2024 pada saat jumlah mahasiswa nasional sebesar 9,9 juta, dari jumlah ini PTN mengambil sebesar 5,48 juta atau sebesar 55 persen dan peran swasta menurun tinggal 45 persen. Pemerintah mengambil peran lebih besar, dan bersaing agresif dengan rakyatnya sendiri, menjadikan tahun-tahun yang sulit bagi perguruan tinggi swasta.
Industri Perbankan
Pada industri perbankan juga terjadi pola yang sama, di mana bank-bank pemerintah atau Himbara bergerak mengambil porsi lebih besar pada 10 tahun terakhir. Pada tahun 2015 total aset Himbara dan Himbasa berbanding 2.315 triliun dan 2.364 triliun. Himbasa masih sedikit lebih besar, tetapi pada 2025 total aset Himbara 4.700 triliun dan Himbasa sebesar 3.300 triliun, keadaan sudah jauh berbalik.
Kesadaran Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa untuk menggerakan kembali swasta seperti pelita temaram yang diragukan kekuatannya di tengah parlemen dan birokrasi yang entah bagaimana mulainya tiba-tiba dengan pragmatis saja menjadi penganut serba negara. Dalam hal ini akan dilakukan analisis dengan mengambil contoh untuk tiga bidang saja, yaitu industri pendidikan tinggi, perbankan, dan MBG yang paling fresh.
Baca juga: Kolom Ekonomi Syariah: Kebijakan Ekonomi di Era Keterbukaan
Industri Pendidikan Tinggi
Pada tahun 2015 jumlah mahasiswa nasional 6,6 juta, dari jumlah ini yang dilayani perguruan tinggi negeri (PTN) sebesar 3,1 juta atau 47 persen. Sisanya sebesar 3,3 juta dilayani oleh swasta (PTS), sebesar 53 persen. Keadaan berbalik, pada tahun 2024 pada saat jumlah mahasiswa nasional sebesar 9,9 juta, dari jumlah ini PTN mengambil sebesar 5,48 juta atau sebesar 55 persen dan peran swasta menurun tinggal 45 persen. Pemerintah mengambil peran lebih besar, dan bersaing agresif dengan rakyatnya sendiri, menjadikan tahun-tahun yang sulit bagi perguruan tinggi swasta.
Industri Perbankan
Pada industri perbankan juga terjadi pola yang sama, di mana bank-bank pemerintah atau Himbara bergerak mengambil porsi lebih besar pada 10 tahun terakhir. Pada tahun 2015 total aset Himbara dan Himbasa berbanding 2.315 triliun dan 2.364 triliun. Himbasa masih sedikit lebih besar, tetapi pada 2025 total aset Himbara 4.700 triliun dan Himbasa sebesar 3.300 triliun, keadaan sudah jauh berbalik.