Jejak Ulama Jawi: Dari Madinah ke Banten, Dari Aceh ke Makassar
Miftah yusufpati
Senin, 06 Oktober 2025 - 05:45 WIB
Mereka bukan sekadar berhaji, tapi menimba ilmu, membangun jejaring, dan membentuk wajah Islam Nusantara. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di awal abad ke-17, dari pesisir Aceh hingga pelabuhan Banten, para ulama Nusantara merintis jalur panjang ke pusat-pusat ilmu Islam dunia. Mereka menempuh perjalanan berbulan-bulan, dari Gujarat, Kairo, hingga Madinah. Perjalanan itu bukan sekadar ibadah haji, melainkan juga upaya mencari legitimasi, otoritas tarekat, dan jawaban bagi perdebatan teologi yang mengguncang kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara.
Michael Laffan, dalam The Makings of Indonesian Islam(Princeton University Press, 2011; terj. Indonesia, 2015), menyebut para “Jawi”—sebutan untuk muslim Asia Tenggara di Mekah—sebagai kunci transmisi gagasan Islam dari dunia Arab ke Nusantara. Dari merekalah lahir ulama berkaliber internasional seperti Abd al-Ra’uf al-Sinkili, Syekh Yusuf al-Maqassari, hingga Abd al-Muhyi Pamijahan.
Salah satu simpul penting jejaring itu adalah Ibrahim al-Kurani (1615–1690), ulama besar yang lahir di Kurdistan. Setelah berkelana ke Kairo pada 1650 dan berinteraksi dengan cendekiawan Mesir, al-Kurani menetap di Madinah pada 1651. Ia menjadi wakil Ahmad al-Qusyasyi, guru besar tarekat Syattariyyah.
Dalam catatan biografi Arab, al-Kurani lebih dikenal sebagai Naqsyabandi. Namun, bagi orang Jawi, dialah figur sentral yang menjawab kegelisahan teologis mereka. Antusiasme ulama Nusantara terhadap Tuhfah karya al-Burhanpuri, teks mistik populer di kalangan Aceh dan Banten, mendorong al-Kurani menulis risalah Ithaf al-Dzaki—“Persembahan kepada Yang Cerdik”—khusus untuk mereka.
“Banyak pertanyaan datang dari orang Jawi,” tulis Mustafa b. Fath Allah al-Hamawi (w. 1712), yang pernah berjumpa al-Kurani pada 1675. Pertanyaan itu menyangkut penafsiran filsafat wujud: apakah Tuhan menyatu dengan manusia?
Al-Kurani menanggapi dengan sikap lunak. Berbeda dengan ulama Mesir al-Manufi yang keras, ia menolak vonis mati bagi mereka yang salah paham. Menurutnya, kekeliruan itu lahir dari tafsir esoterik yang terlalu jauh atas Ibn al-‘Arabi. “Tujuan akhir mistikus adalah kembali kepada Sang Pencipta,” tulisnya dalam Shathb al-Wali.
Jaringan Aceh dan Banten
Michael Laffan, dalam The Makings of Indonesian Islam(Princeton University Press, 2011; terj. Indonesia, 2015), menyebut para “Jawi”—sebutan untuk muslim Asia Tenggara di Mekah—sebagai kunci transmisi gagasan Islam dari dunia Arab ke Nusantara. Dari merekalah lahir ulama berkaliber internasional seperti Abd al-Ra’uf al-Sinkili, Syekh Yusuf al-Maqassari, hingga Abd al-Muhyi Pamijahan.
Salah satu simpul penting jejaring itu adalah Ibrahim al-Kurani (1615–1690), ulama besar yang lahir di Kurdistan. Setelah berkelana ke Kairo pada 1650 dan berinteraksi dengan cendekiawan Mesir, al-Kurani menetap di Madinah pada 1651. Ia menjadi wakil Ahmad al-Qusyasyi, guru besar tarekat Syattariyyah.
Dalam catatan biografi Arab, al-Kurani lebih dikenal sebagai Naqsyabandi. Namun, bagi orang Jawi, dialah figur sentral yang menjawab kegelisahan teologis mereka. Antusiasme ulama Nusantara terhadap Tuhfah karya al-Burhanpuri, teks mistik populer di kalangan Aceh dan Banten, mendorong al-Kurani menulis risalah Ithaf al-Dzaki—“Persembahan kepada Yang Cerdik”—khusus untuk mereka.
“Banyak pertanyaan datang dari orang Jawi,” tulis Mustafa b. Fath Allah al-Hamawi (w. 1712), yang pernah berjumpa al-Kurani pada 1675. Pertanyaan itu menyangkut penafsiran filsafat wujud: apakah Tuhan menyatu dengan manusia?
Al-Kurani menanggapi dengan sikap lunak. Berbeda dengan ulama Mesir al-Manufi yang keras, ia menolak vonis mati bagi mereka yang salah paham. Menurutnya, kekeliruan itu lahir dari tafsir esoterik yang terlalu jauh atas Ibn al-‘Arabi. “Tujuan akhir mistikus adalah kembali kepada Sang Pencipta,” tulisnya dalam Shathb al-Wali.
Jaringan Aceh dan Banten