home masjid

Islam Menutupi Luka Bukan Menguak Aib, Begini Penjelasannya

Rabu, 15 Oktober 2025 - 16:31 WIB
Syaikh Yusuf Al-Qardhawi. Foto/Ilustrasi: al Jazeera
LANGIT7.ID-Di sebuah malam di Madinah, Khalifah Umar bin Khattab berjalan bersama sahabatnya, Abdurrahman bin Auf. Dari kejauhan, mereka melihat nyala api di sebuah rumah. Terdengar suara gaduh. Naluri seorang penguasa membuat Umar ingin memeriksa — barangkali ada pelanggaran syariat. Namun Abdurrahman menegurnya dengan tenang: “Wahai Umar, bukankah Allah telah berfirman ‘walaa tajassasuu’ — janganlah kalian mencari-cari aib manusia?” Umar pun diam, lalu berbalik arah.

Peristiwa itu, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Hakim, bukan sekadar anekdot sejarah. Ia adalah cermin nilai etis yang sangat mendalam: Islam tidak berhasrat menegakkan hukum dengan menelanjangi kehormatan manusia.

Syaikh Yusuf Qardhawi, ulama asal Mesir yang dikenal moderat, menulis dalam bukunya Sistem Masyarakat Islam dalam Al-Qur’an & Sunnah(1997): “Sesungguhnya Islam tidak bergerak di balik pelaksanaan hukuman, dan tidak menunggu pelaksanaan hukuman itu pada orang yang melakukan sesuatu yang menyebabkan dia berhak dihukum.”

Dalam pandangan Qardhawi, Islam tak mengenal budaya “memburu dosa.” Ia menolak logika negara pengintai — negara yang menaruh kamera di setiap sudut demi menangkap pelaku maksiat. Sebaliknya, Islam memerintahkan untuk menutup aib, bukan menyingkapnya. “Barangsiapa yang menutupi saudaranya Muslim di dunia,” sabda Nabi Muhammad SAW, “maka Allah akan menutupinya di dunia dan akhirat.” (HR. Abu Dawud).

Hadis ini, di tangan Qardhawi, bukan sekadar nasihat moral, tapi fondasi sosial. Dalam masyarakat Islam, penghormatan terhadap privasi adalah pilar ketertiban, bukan penghalang keadilan.

Ketika Hukum Menjaga, Bukan Menyakiti

Dalam beberapa riwayat, Rasulullah SAW menolak pengakuan dosa yang datang padanya berulang kali. Ma’iz bin Malik, misalnya, mengaku berzina empat kali sebelum Nabi akhirnya menjatuhkan hukuman. Setiap kali, Nabi berusaha menghindar — bahkan menasihati Ma’iz agar bertaubat dan menutupi kesalahannya.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya