home global news

Kemenangan Takaichi Dianggap Bukan Kemenangan Bagi Perempuan Jepang Secara Umum

Rabu, 22 Oktober 2025 - 16:37 WIB
Foto: ist
Sanae Takaichi (64) telah resmi terpilih sebagai Perdana Menteri Jepang pada hari Selasa (21/10). Ini menjadikan Takaichi perempuan pertama di era modern, yang memimpin sekutu utama Amerika Serikat tersebut. Namun kritikan pedas dilontarkan pada Takaichi, sehari setelah Ia terpilih.

Perolehan suara Takaichi, mengalahkan pesaing terdekatnya, Yoshihiko Noda yang merupakan pemimpin Partai Demokrat Konstitusional oposisi liberal. Ia juga terpilih oleh anggota parlemen majelis tinggi dalam pemungutan suara kedua dengan perolehan suara 125-46, setelah gagal meraih mayoritas satu suara di putaran pertama.

Meskipun pemilihannya merupakan tonggak sejarah di negara di mana perempuan sangat kurang terwakili dalam pemerintahan, Takaichi menjabat dengan koalisi yang rapuh dan menghadapi sejumlah tantangan mendesak, termasuk kunjungan Presiden Donald Trump, minggu depan.

Takaichi telah menunjuk dua perempuan lain ke dalam kabinetnya, sama seperti pemerintahan sebelumnya. Mereka termasuk Satsuki Katayama, menteri keuangan perempuan pertama Jepang.

"Saya sangat mementingkan kesetaraan kesempatan, kesempatan yang sama. Dan juga partisipasi dari semua lapisan masyarakat. Saya membentuk Kabinet saya dengan gagasan ini, menyatukan kekuatan gabungan dari semua generasi," katanya dalam konferesi pers, mengutip nbcnews.com, Rabu (21/10/2025).

Baca juga:Drummer Band Metal dan Pembawa Acara TV, Sanae Takaichi Yang Jadi Perdana Menteri Jepang

Meski Takaichi digandang-gadang sebagai bentuk perwakilan dari perempuan, namun para kritikus mengatakan, kemenangan Takaichi belum tentu merupakan kemenangan bagi perempuan secara umum. Terutama setelah ia mengamankannya dengan membentuk aliansi dengan partai yang berbasis di Osaka yang akan menyeret koalisinya lebih jauh ke kanan.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya