home masjid

Front Kolonial: Snouck dan Sayyid Utsman, Membentuk Islam yang Jinak di Hindia

Jum'at, 24 Oktober 2025 - 04:15 WIB
Di meja kerja Batavia 1886 itu, mungkin Snouck dan Utsman tak pernah membayangkan bahwa aliansi mereka akan melahirkan dilema panjang bagi sejarah Islam Nusantar. (AI)
LANGIT7.ID-Pada suatu sore di Batavia tahun 1886, dua sosok cendekia duduk di meja kerja beratap rotan. Seorang Belanda berwajah tegas dengan tatapan ilmuwan, dan seorang Arab berdarah Hadramaut, berwibawa dalam jubah panjangnya. Di antara mereka, bertumpuk naskah-naskah Arab dan pamflet tentang tarekat yang “menyimpang”. Dari ruangan sederhana itu, lahir sebuah front kolonial yang akan menentukan arah Islam di Hindia Belanda.

Christiaan Snouck Hurgronje, orientalis muda yang baru kembali dari Makkah, telah menyiapkan jalan panjang untuk memahami sekaligus menaklukkan dunia Islam di Nusantara. Ia datang bukan hanya sebagai ilmuwan, melainkan sebagai arsitek kebijakan kolonial. Di hadapannya, Islam bukan sekadar agama, melainkan kekuatan sosial yang harus diatur — dan jika perlu, dijinakkan.

Sayyid ‘Utsman bin Yahya, pencetak kitab dan ulama keturunan Hadramaut yang lama menetap di Batavia, menjadi mitra ideal. Ia berilmu, memiliki jaringan ke ulama Mekah seperti Nawawi Banten dan Junayd Batavia, dan—yang paling penting—punya posisi sosial yang diterima kalangan elite Arab dan Jawa.

Mereka berdua bertemu lewat korespondensi panjang sejak Oktober 1886. Dalam pandangan Snouck, ‘Utsman adalah “permata di atas emas”—sekutu ideal bagi kekuasaan Belanda yang membutuhkan wajah Islam yang “terdidik” dan anti-mistis.

Musuh Bersama: Tarekat dan Islam Populis

Kekhawatiran Snouck terhadap tarekat dan kaum sufi bukan semata soal teologi. Dalam pandangannya, tarekat-tarekat populis di Jawa dan Sumatra menjadi sumber resistensi sosial. Ia menulis dengan nada cemas tentang “para syekh yang mencari keuntungan finansial, menjual keselamatan lewat dzikir dan mantra”. Baginya, ritual-ritual itu mengandung potensi pemberontakan yang sama berbahayanya dengan gerakan Sanusi di Aljazair terhadap Prancis.

Dalam surat-suratnya, Snouck menyebut para pemimpin tarekat sebagai ancaman “bagi otoritas Belanda di Hindia Timur, sama bahayanya dengan orang-orang Senousi bagi otoritas Prancis di Aljazair.”
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya