Sejarah Islam Nusantara: Sketsa dari Aceh dan Lombok
Miftah yusufpati
Kamis, 30 Oktober 2025 - 17:00 WIB
Dari zikir yang mengguncang lantai di Aceh hingga doa sunyi di Lombok, kisah kolonial Belanda dan Islam Nusantara tersisa sebagai potret paradoks. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Aceh 1891. Di sebuah malam yang hanya diterangi cahaya obor, sekelompok lelaki Aceh duduk melingkar di lantai bambu. Mereka bergerak serempak, kepala menunduk dan mendongak mengikuti irama zikir: “la kaoula oula kouata bi Allah”—“hanya dengan Tuhan-lah daya dan kekuatan.”
Gerakan mereka makin cepat, tubuh-tubuh berayun seperti gelombang hitam yang hidup, sampai akhirnya mereka serentak menubruk lantai sambil berseru: “la ilaha illallah.”
Bagi seorang peneliti Belanda yang menulis laporan berjudul Mohammedaansche-godsdienstige broederschappenpada 1891, pemandangan itu “fantastik sekaligus menakutkan.” Tapi bagi orang Aceh, itulah cara mereka berzikir—menyatu dengan Tuhan di tengah perang yang tak pernah usai.
Delapan belas tahun setelah ekspedisi pertama ke Aceh, Belanda masih gagal menaklukkan negeri yang mereka sebut “negara bajak laut” itu. Di balik garis konsentrasi—serangkaian pos bersenjata di pesisir utara Sumatra—para ulama dan panglima perang terus bertahan di pedalaman.
Di titik inilah Christiaan Snouck Hurgronje, orientalis Belanda yang pernah menyamar di Mekah dengan nama ‘Abd al-Ghaffar, datang ke Aceh. Ia dikirim bukan hanya sebagai peneliti, tapi juga sebagai arsitek strategi penaklukan.
Snouck mencatat dengan teliti: praktik tarekat, silsilah sufi, hingga zikir yang ia sebut “menyerupai hiburan publik.” Tapi di balik bahasa ilmiahnya, Laffan membaca ironi: Snouck sedang mendokumentasikan sebuah masyarakat agar bisa memberangusnya.
Dalam bukunya The Achehnese(1906), Snouck menilai Aceh telah “merosot” sejak masa Sultan Iskandar Muda. Ia menulis, istana kehilangan kuasa, sultan berubah menjadi panglima lokal. Tapi dari catatan yang sama, kita tahu bahwa Snouck juga mempelajari filsafat tasawuf Aceh—dari Hamzah Fansuri yang panteistik, hingga Nuruddin ar-Raniri yang keras terhadap “ajaran menyimpang.”
Gerakan mereka makin cepat, tubuh-tubuh berayun seperti gelombang hitam yang hidup, sampai akhirnya mereka serentak menubruk lantai sambil berseru: “la ilaha illallah.”
Bagi seorang peneliti Belanda yang menulis laporan berjudul Mohammedaansche-godsdienstige broederschappenpada 1891, pemandangan itu “fantastik sekaligus menakutkan.” Tapi bagi orang Aceh, itulah cara mereka berzikir—menyatu dengan Tuhan di tengah perang yang tak pernah usai.
Delapan belas tahun setelah ekspedisi pertama ke Aceh, Belanda masih gagal menaklukkan negeri yang mereka sebut “negara bajak laut” itu. Di balik garis konsentrasi—serangkaian pos bersenjata di pesisir utara Sumatra—para ulama dan panglima perang terus bertahan di pedalaman.
Di titik inilah Christiaan Snouck Hurgronje, orientalis Belanda yang pernah menyamar di Mekah dengan nama ‘Abd al-Ghaffar, datang ke Aceh. Ia dikirim bukan hanya sebagai peneliti, tapi juga sebagai arsitek strategi penaklukan.
Snouck mencatat dengan teliti: praktik tarekat, silsilah sufi, hingga zikir yang ia sebut “menyerupai hiburan publik.” Tapi di balik bahasa ilmiahnya, Laffan membaca ironi: Snouck sedang mendokumentasikan sebuah masyarakat agar bisa memberangusnya.
Dalam bukunya The Achehnese(1906), Snouck menilai Aceh telah “merosot” sejak masa Sultan Iskandar Muda. Ia menulis, istana kehilangan kuasa, sultan berubah menjadi panglima lokal. Tapi dari catatan yang sama, kita tahu bahwa Snouck juga mempelajari filsafat tasawuf Aceh—dari Hamzah Fansuri yang panteistik, hingga Nuruddin ar-Raniri yang keras terhadap “ajaran menyimpang.”